Sunday, November 12, 2006

Nada Sousou


Nada Sousou is a famous song from Okinawan lady, Rimi Natsukawa . It is a beautiful love song that can't stop your tears when you're listening into it.












Furui ARUBAMU mekuri
Arigatou tte tsubuyaita
Itsumo
itsumo mune no naka
Hagemashite kureru hito yo

Harewataru hi mo ame no hi mo
Ukabu ano egao
Omoide tookuasete mo
Omokage sagashite
Yomigaeru hi wa nada sousou

Ichiban hoshi ni inoru
Sore ga watashi nokuse ninari
Yuugure ni miageru sora
Kokoro ippai anata sagasu

Kanashimi ni mo yorokobi ni mo
Omou ano egao
Anata no basho kara watashi ga
Mietara kitto itsuka
Aeru to shinji ikite yuku

Hare wataru hi mo ameno hi mo
Ukabua no egao
Omoide tooku asete mo
Samishikute koishikute
Kimi he no omoi nada sousou
Aitakute
aitakute Kimi he no omoi nada sousou

Monday, August 14, 2006

The Bookseller of Kabul

A bit about Talibanese education:

......This is how firts-year schoolchildren learn the alphabet: "J is for Jihad, our aim in life, I is for Israel, our enemy, K is for Kalashnikov, we will overcome, M is for Mujahedeen, our heroes, T is for Taliban..."

War was the central theme in maths books too. Schoolboys - because the Taliban printed books solely for boys - did not calculate in apples and cakes, but in bullets and Kalashnikovs. Something like this: 'Little Omar has a Kalashnikov with three magazines. There are twenty bullets in each magazine.. he uses two thirds of bullets and kills sixty infields. How many infields does he kill with each bullets?'

Guys...try to find this book. Written by Asne Seierstad, a Norwegian journalist.

Thursday, April 13, 2006

Mau Langsung Lulus atau Bagaimana Mbak..?

Masa berlaku SIM A saya sudah berlalu sejak Juni tahun 2004 yang lalu. Salama satu setengah tahun saya merasa tidak perlu memiliki SIM untuk sementara waktu. Dikarenakan transportasi umum di Jepang menjadi andalan utama untuk berkegiatan sehari-hari.

Tapi, sekarang ini saya merasa perlu untuk memperbaharui kembali SIM ini. Mumpung masih punya waktu kosong sambil menunggu panggilan kerja, maka saya sampaikanlah rencana saya ini kepada Ayah. Beliau bilang lebih baik mengambil yang kolektif seperti dulu lagi. Tapi saya ingin mencoba menggunakan cara yang normal. Karena dua kali perpanjangan SIM selalu secara kolektif, sehingga belum pernah memiliki pengalaman bertatap muka dengan bapak-bapak polisi yang sangar-sangar manis itu. Sudah tentu cara normal harganya lebih murah, sesuai dengan kondisi keuangan saya sekarang ini.

Dengan rasa percaya diri yang terkontrol, maka datanglah saya ke POLRES setempat. Disambut senyuman dan sapaan ramah para petugas yang ehem....ganteng-ganteng ternyata. Tahapan pendaftaran, tes buta warna dan tes teori saya lewati dengan sabar, sambil bertanya-tanya dalam hati, apa sih yang membuat harga SIM itu berbeda-beda? Tes teori tidak terlalu sulit, terbukti dari kecepatan saya menjawab dan poin betul yang saya kumpulkan.

”Langsung ke lapangan untuk tes praktek ya Mbak...” Kata salah satu petugas pengawas ujian.

Dengan patuh pun saya menuju lapangan yang dimaksud, yang berlebar 4m dan panjang sekitar 15 meter. Lapangan tersebut sudah dipasangi pasak, serta disiapkan pula satu tanjakan artifisal yang hmmmnnn...lumayan tinggi juga. Pasak yang dipasang mengapit rapat mobil yang tersedia..persis seperti di tempat parkir. Hanya ukurannya sempit sekali, cukup sulit bagi saya menemukan kondisi jalan atau parkiran mobil yang sesempit itu. Untung kepercayaan diri saya sudah cukup terkontrol sehingga hati ini tidak menciut seketika. Saya sudah cukup siap apabila Pak Polisi ganteng itu berkata ”Tidak lulus...”

Pak polisi ini yang menyambut saya dengan senyuman yang super ramah. Menerima berkas saya dan membacanya. Lalu bertanya,

”Mau langsung lulus atau bagaimana Mbak?”
Glek......ini dia. Yang ini diluar dugaan saya. Walaupun selama ini saya jago bernegosiasi, tapi untuk yang satu ini tidak ada jaminan sama sekali......petugas kepolisian lho....salah jawab jangan-jangan SIM tinggal impian.

Kalau mau langsung lulus saya disuruh menghadap petugas nun jauh di sana yang sedang duduk menanti sambil tersenyum ke arah saya. Saya juga akan dimintai biaya tambahan sebesar lima puluh ribu rupiah.

”Saya mau prosedur yang normal Pak..” Senyum sang Bapakpun pudar.

Tapi bukan berarti tes itu saya ikuti secara gratis lho. Saya harus membayar dua puluh ribu Rupiah untuk sewa mobil. Kontan saya tertawa, membayar sewa mobil untuk tes praktek. Tesnya saja tidak sampai 10 menit. Mobilnyapun bukan punya kepolisisan melainkan milik pribadi. Sementara saya tidak membawa mobil sendiri...ingat,...SIM saya sudah mati dua tahun lalu, jadi mana mungkin saya bawa mobil sendiri. Belum lagi tidak adanya kwitansi sebagai bukti pembayaran.

Tes berjalan ditanjakan dan mundur melalui pasak sempit itu saya lewati dengan sukses. Tapi pasti tidak semudah itu. Petugas yang menyertai mengatakan, ”Salah....kopling dan rem kalau mundur menurun gak usah diinjak...ulang lagi.” Dalam hati..iya juga ya. Tapi tanpa menginjak rem rasanya saya tidak pede melewat pasak sempit itu. Namun saya ikuti juga perintahnya. Tanpa rem saya mundur dari tanjakan, dan hasilnya saya sukses menambarak pasak yang disusun berjajar.

Lalu senyum Pak Polisi mengembang....Saya pun pasrah.

Saya disuruh datang lagi satu minggu kemudian. Harus bayar lagi dua puluh ribu sampai dinyatakan lulus. Kalau dikalkulasikan bisa besar sekali biaya yang harus dikeluarkan. Lalu saya tanyakan cara cepatnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, saya hanya mengeluarkan lima puluh ribu, tanpa tes dan langsung dapat melanjutkan ke sesi pengambilan sidik jari dan foto.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya setujui dengan penyesalan kenapa saya tidak bisa lulus dengan cara normal itu?

Tapi sang Bapak malah menambahkan ”Sopir bus Lorena saja gagal di tes praktek lho Mbak.”

Mudah-mudahan kegagalan saya mendapatkan SIM ini hanya karena kebodohan saya semata dalam mengemudi.

Thursday, February 23, 2006

Project Design Matrix for Emotion

Dalam setiap strategi berjuang, saya menyadari kapan harus maju, kapan harus bertahan, dan kapan harus mundur. Tapi untuk kali ini saya dibuat ragu mana yang harus dipilih. Logika dan emosi saya ajak kompromi. Seperti biasa, logika saya lebih dominan. Walaupun untuk sesuatu yang berurusan dengan rasa.

Apakah saya salah ketika terlalu banyak berfikir antara menolak atau menerima? Bertindak atau harus menunggu?

Hari ini, emosi saya berkata "Jangan berhenti". Tapi otak saya berputar cepat dengan segala kunci logika yang tak terbantahkan, menitah "MUNDUR". Semua langkah saya evaluasikan, tepat seperti menyusun suatu Project Design Matrix (PDM). Satu setengah tahun sudah cukup panjang untuk proyek ini. Tapi memang aktifitas tidak teraplikasikan dengan baik. Indikator hanya jumlah email, telpon dan chatting. Serta kata-kata "special" dalam setiap ucapan. Tetapi, sangat abstrak. Semua "smiley" yang dikeluarkan tetap saja tidak dapat dievaluasi sebagai perwakilan dari rasa yang tak terbaca.

Oleh karena itu, saya harus menentukan sikap, memperpanjang waktu atau sekalian menggagalkan.

Dengan menimbang kepentingan menyangkut pihak ketiga yang mungkin ada, dan menyadari bahwa ternyata output tidak sesuai dengan "main assumption" saat menyusun PDM. Maka dengan ini, saya menyatakan pengunduran diri dari proyek yang saya beri nama "Emotion" ini.

Saya tidak akan menjadikan dirimu output lagi.

End of Report.....

Beppu, 23 Feb 2006

Friday, February 17, 2006

Skeptis

Indonesia ini lucu sekali. Selalu mencak-mencak dulu tanpa tau permasalahan, atau memikirkan dampak dari suatu perubahan. Baru mencetuskan ide saja sudah ditolak mentah-mentah. Padahal bisa saja ide itu memang berguna nantinya.
Misalnya;
RUU pornografi dan pornoaksi. Koalisi perempuan sibuk menghimbau masyarakat untuk menolak direalisasikannya RUU ini sebagai UU yang utuh. Alasannya RUU tersebut hanya akan memposisikan perempuan sebagai pihak yang dirugikan, hak-hak perempuan terpasung. Serta menghambat kreatifitas seni. Perbandingan selalu bercermin ke arah Barat. Salah satunya ke Belanda. Di Belanda adanya jaminan perlindungan privasi atas tindakan 'kreatif'. Seperti adanya pantai yang bisa digunakan untuk mandi telanjang. Atau diijinkannya nudisme, dengan alasan sebagai pilihan hidup.
Sementara di lain pihak, banyak protes yang muncul di koran tentang aktifitas media khususnya televisi yang me-universal-kan kultur. Nah kalau kita bercermin dan mengikuti pola di Belanda (atau dunia-dunia Barat lain yang mengagungkan kebebasan berekspresi) apa justru tidak me-universal-kan kultur? Kenapa tidak ada yang memakai pembanding dari negara ras berwarna yang notabene juga tidak kalah maju dari pada Barat. Sebagai catatan sejarah, justru peradaban tinggu bukan berasal dari ras putih, melainkan ras berwarna. Silahkan lihat lagi kebudayaan dunia yang terlahir di Timur Tengah, Asia Timur, atau Amerika Latin.
Ada pasal yang mencantumkan larangan menampilkan bagian-bagian tubuh untuk tujuan erotisme seperti paha atau payudara. Kontan perempuan geram karena sekali lagi mereka merasa dikekang. Padahal....di sana tidak disebutkan kata perempuan lho. Coba berpikir cerdas, bagian paha dianggap erotis bagi RUU dan itu ditujukan bagi semua manusia Indonesia yang berpaha, berarti bukan perempuan saja, termasuk laki-laki. Sementara bagian payudara...memangnya laki-laki punya payudara? Memang bagian ini ditujukan untuk perempuan. Kalau tidak disebutkan, jangan-jangan malah nanti para mahasiswi merasa sah saja topless ke kampus. Namun RUU itu secara keseluruhan mengatur etika dalam ruang publik BUKAN hanya untuk perempuan. Anjasmara bahkan terancam terjerat hukum pornografi dan pornoaksi ini atas foto hebohnya.
Situs sang Presiden juga menuai protes. Banyak yang mengatakan Presiden tidak ada kerjaan sampai-sampai terpikir untuk membuat situs. Padahal tujuannya adalah sebagai salah satu cara untuk menjalin komunikasi langsung dengan Presiden. Di India sana, sarana teknologi komunikasi juga dimanfaatkan pemerintahnya sebagai jembatan penghubung masyarakat dengan rakyat, yang notabene rakyat jelata. Apakah mereka semua pintar internet? Hanya kurang dari 10 % masyarakat India yang pionir dalam bidang internet. Selebihnya bahkan masih buta huruf. Namun aparat terpercayalah yang mengoperasikannya, sehingga laporan, atau keluhan masyarakat dapat langsung diketahui pemimpinnya. Bukankah ide pengadaan situs ini akan cukup menjanjikan terjalinnya komunikasi yang vertikal dengan pemimpin kita? Lagi pula, toh situs ini baru beroperasi beberapa hari, belum bisa dinilai untung ruginya terhadap kualitas dialog nasional.
Kadang saya jengkel dengan pola-pola skeptis seperti ini. Padahal sudah banyak contoh cercaan seperti ini menjadi bumerang bagi pencetusnya.
Salah satunya. Ingat saat pertama kalinya Busway (2003) direncanakan menjadi sarana transportasi baru di Jakarta? Saat itu juga banyak protes yang muncul di media. Koran nasional mencetak tolakan-tolakan atas ide tersebut yang ditakutkan akan mengancam keadilan wilayah operasi bagi saran transportasi lain. Dan memperparah kemacetan jalan raya.
Tapi baru satu minggu peluncuran perdana Bus Trans Jakarta, semua orang sudah memuji. Berita-berita di koran dan televisi berbalik 180 derajat. Terbukti ternyata Bus Trans Jakarta ini menjadi saran transportasi yang dicintai warga Jakarta. Pekerja necis tidak perlu takut saat mobilnya tak bisa mengantarnya ke tempat kerja. Mereka tidak perlu takut keringatan atau menjadi kusut berdesakan di dalam bus. Biayanya pun tak mahal, dan lagi tidak ada istilah terjebak macet. Karena Bus Trans Jakarta ini memiliki jalur tersendiri. Masyarakat ekonomi rendah memanfaatkannya untuk transportasi hiburan keluarga disaat libur. Saya pernah menyaksikan antrian tiket bus Trans Jakarta sebanjang 100 meter di Bolok M pada masa liburan panjang, bulan Juni 2004. Tentu saja mereka rela sabar menunggu, karena dari daerah Blok M mereka hanya membayar Rp 2,500 menuju stasiun Kota, yang sangat dekat dengan Ancol. Betapa bersahabatnya bagi rakyat kecil sekalipun
Kenapa tulisan ini saya buat? Karena saya merasa gerah dengan penuhnya mailbox saya oleh email-email milis yang memobilisasi masyarakat untuk melancarkan protes terhadap suatu perubahan, yang sebetulnya diciptakan untuk tujuan positif. Intinya, rakyat kecil tidak dirugikan sama sekali dengan ide tersebut kan? Yang merasa dirugikan adalah orang-orang yang ultra berkecukupan alias yang berkepentingan secara kapitalis.
Oleh karena itu. Cerdaslah untuk menilai suatu perubahan. Evaluasi prakteknya, jangan langsung menghujat idenya. Toh kita sudah demokratis, jadi pendapat kita sudah tidak bisa lagi dibungkam. Ketika praktek-praktek itu keluar dari perundangan yang sudah digariskan, silahkan mengajukan banding dengan cara yang diplomatis dan terpelajar. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk membela sesuatu yang sudah terbukti salah. Bahkan Soeharto pun tidak kuasa lagi mempertahankan tahtanya ketika semua tindakannya sudah dikecam salah. Bukan idenya lho.

Friday, January 27, 2006

Jalan-Jalan 1

Saya suka jalan-jalan...bagi saya jalan-jalan ke beberapa tempat yang belum saya kunjungi adalah salah satu bentuk belajar. Oleh karena itu selama satu setengah tahun belajar di Jepang, saya sempatkan juga melacong ke beberapa tempat yang selama ini hanya saya lihat di televisi atau majalah. Tentu saja tidak bisa dengan gaya yang mewah, sebab beasiswa yang saya terima tidak akan cukup untuk menutupi biaya menginap di hotel Holiday Inn di Tokyo. Biaya hidup di Jepang sangat mahal, tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Satu malam menginap di hotel bertaraf standard saja akan menghabiskan Yen 5000 (sama dengan Rp 500,000.-). Celakanya biaya dihitung per orang, bukan per kamar seperti di Indonesia. Belum lagi biaya trasportasinya.
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menekan biaya akomodasi (yang sering saya lakukan);
  1. Menghubungi beberapa kenalan (baik yang asing maupun Indonesia). Biasanya mereka tidak akan keberatan menampung satu orang tamu. Rata-rata teman saya tinggal di apartement yang berukuran mini, jadi sulit untuk menampung lebih dari satu orang.
  2. Kakak saya lebih nekat lagi. Kalau saya hanya berani menghubungi orang yang dikenal, maka dia akan berani menghubungi pihak yang tidak dikenalnya sama sekali. Salah satunya adalah PPI (organisasi Persatuan Pelajar Indonesia di luar negeri). Pengalamannya waktu di Eropa adalah menghubungi beberapa PPI yang ada di sana meminta kesedian mereka menerima beberapa mahasiswa Indonesia yang akan berkunjung...jalan-jalan maksudnya. Rasa persaudaraan memang terasa kuat waktu kita di rantau, sehingga beberapa anggota PPI di sana bersedia menyediakan ruangan untuk rombongannya. Akhirnya mereka justru kelebihan kamar....gratis pula.
  3. Kalau penginapan gratis tidak bisa didapatkan apa boleh buat penginapan komersil lah yang menjadi tujuan akhir. Teman saya terkaget-kaget waktu mengetahui saya hanya membayar Yen 1800 permalam untuk menginap di pusat kota Tokyo. Karena berada di pusat kota, maka biaya transportasinya pun murah, sehingga total pengeluaran saya sangat kecil dibandingkan dengan cara yang standar. Tentu tidak semewah hotel Ibis atau Grand Melia yang ada di Jakarta, melainkan penginapan sederhana yang ditujukan untuk para backpackers.

Silahkan temukan beberapa pilihan Penginapan Murah. Anda tinggal memilih tempat tujuan (berlaku untuk seluruh negara di dunia), dan informasi waktu penginapan dibutuhkan. Kamar dapat dipesan secara online, yang artinya pembayaran dilakukan dengan credit card. Jangan berkecil hati bagi yang tidak memiliki credit card. Begitu membuka link-link penginapan yang tertera di dalamnya biasanya mereka menyediakan no telepon, fax atau alamat email. Kalau semua informasi itu tidak ada juga, tinggal salin nama penginapan tersebut dan pindahkan ke mesin pencari (Google atau Yahoo). Karena biasanya penginapan-penginapan tersebut memiliki website sendiri.

Selamat mencoba...

Kartini - Kartini Tanpa Tanda Jasa


Ini satu lagi cerita tentang kartini-kartini muda kita yang rela bekerja jauh dari keluarga untuk menjadi TKW. Boleh dikata mereka menjadi pahlawan tanpa tanda jasa diera reformasi. Karena para guru sekarang sudah nyaring menuntut hak-hak mereka. Mudah-mudahan para TKW ini nantinya juga bersuara keras menuntut hak mereka setelah memberikan sekian banyak sumbangan untuk pembangunan di negara kita yang bernama Indoensia ini. Baiklah, ini adalah hasil pengamatan dan hitung-hitungan kontribusi TKW.

Sebenarnya apa saja keuntungan yang didapat oleh negara penerima dan negara pengirim TKW?

Pertama, Forex atau foreign exchange, gampangnya lagi…tukar nilai mata uang. Aktifitas ini yang paling dibanggakan pihak pengirim TKW dalam arti Indonesia karena nilai kontribusinya secara matematis akan sangat besar. Misalnya ambil contoh, kalau salah satu kenalan bekerja di Singapura. Jelas gajinya Singapore Dollar (SGD). Tapi jarang sekali bank di Indonesia yang punya fasilitas tabungan SGD, kecuali bank Singapore. Sementara bank penampung kiriman TKW pastilah bank pemerintah, yang cuma menyediakan tabungan dalam mata uang USD atau Rupiah. Rata-rata TKW memiliki tabungan Rupiah. Uang SGD yang dikirimkan ke Indonesia tidak bisa langsung dimasukkan ke rekening, harus ditukarkan ke Rupiah (IDR) dulu. Nah kalau ditukar di gerai penukaran mata uang asing untung yang diambil cuma sekitar 10 sampai 25 Rupiah. Sementar nilai tukar di Bank sangat mahal, Bank akan mengambil selisih sekitar 100 perak. Kalau satu orang mengirimkan sekitar SGD 200, dengan harga dari bank Rp 6000 per SGD (sementara harga SGD terhadap rupiah di pasar mata uang hanya Rp 5,900). Berarti untung yg didapat adalah SGD 200 x 100 = Rp 20,000. Itu baru dari satu orang. Ada sekitar 3 juta TKW yang kerja di luar negeri. Kalo dipukul rata berada di Singapura semua, dan semuanya menukarkan uang sebulan sekali maka untung dari FOREX dalam satu bulan saja untuk Indonesia adalah Rp 60 Milliar.

Kedua, Remittance (money transfer) atau pengiriman uang. Ambil contoh kenalan kita dari kampung A di Jawa Timur bekerja di salah satu negara di Timur Tengah (Mata uang Rial). Teman kita itu tidak akan bisa mengirimkan gajinya dalam bentuk Rial ke Indonesia, karena tidak ada mata uang Rial di bank penerima (Bank A). Maka TKW ini harus menukarkannya ke dalam bentuk USD (sebab IDR tidak bisa ditukar di luar negeri, dan USD adalah mata uang paling umum di dunia). Dengan demikian timur tengah sudah untung dengan FOREX-nya…ditambah dengan komisi pengiriman ke Indonesia yang normalnya seharga USD 25. Ditambah lagi dengan correspondent fee (biaya korespondensi) sekitar USD 20. Itu semua murni masuk kantong negara tempat sang TKW bekerja. Lalu, ketika sampai di Indonesia uang ditukarkan ke IDR secara otomatis, sehingga ada lagi keuntungan FOREX dan incoming fee (biaya uang masuk yang harus dibayar keluaraga TKW yang menerima) bagi bank penerima.


Kedua proses diatas sudah sangat terkenal dimana kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Ini salah satu sebab kenapa pemerintah tetap mendorong berjalannya praktek pengiriman TKW. Belum lagi kalau menghitung semua jumlah TKI yang tersebar.

Tapi masih ada satu proses yang orang tidak begitu mengenalnya. Yaitu Deposito atau simpanan. Uang yang dikirim tidak langsung diterima di Bank kampung A. Uang dari luar negeri masuk ke bank pusat yang ada di kota2 besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Dalam kasus ini ke Surabaya, dan bank pusat tidak akan meneruskan ke kampung dalam hari yang sama. Baru dilakukan keesokan harinya. Kalau datangnya hari jumat maka hari senin baru dilanjutkan. Nah diapakan uang itu selama 3 malam ? Uang itu dibungakan oleh bank dengan cara meminjamkannya ke pihak lain atau mendepositokannya di Bank indonesia (Siapa bilang cuma kita yg boleh berdeposito di bank? Bank pun boleh mendepositokan kasnya ke Bank Indonesia). Deposito satu hari di BI sekitar 10% (SBI interest). Dalam empat bulan Jawa Timur menerima uang masuk dari TKW sebesar IDR 2.5 TRILIUN. Maka bank pusat akan mendapat untung deposito sekitar IDR 2,1 Milyar. Lalu uangnya akan diteruskan ke Bank Kampung (A), dan sama seperti semula…uang tidak langsung dimasukkan ke rekening penerima, tergantung batas waktu operasional bank. Nah berarti mengendap lagi sehari, sehingga ada dua bank di Jawa Timur yang diuntungkan. Kira-kira satu tahunnya kedua bank ini akan dapat untung masing-masing IDR 6.3 milyar. Ingat itu baru satu provinsi, belum provinsi lain.

Semua itu baru keuntungan yang diperoleh lewat hubungan TKW dengan bank. Belum lagi dengan pajak bandara, daya konsumsi mereka ketika pulang, ongkos calo bagi yang ilegal, dan setiap pekerja dikenakan pajak USD15 untuk PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Nah…secara ekonomi cukup besar jasa mereka. Tapi siapa yang menjamin keselamatan dan kesejahteraan mereka di negara seberang. Bagi teman-teman APU yang berniat punya bisnis, mudah-mudahan sukses dan bisa menampung mereka, supaya tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW.

Itu saja sumbangan cerita dari saya kalau ada lagi dan tidak bosan membacanya, dengan senang hati akan dikirim.

Lenny Aslim
Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University
(Beppu, Januari 2005)

Sedikit Tentang Distribusi Kapital

Satu tahun kuliah di sini memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Terutama saat menghadiri kelas seminar tesis. Bahasan tesis saya tak jauh dari dunia pertelevisian dan fungsinya dalam pendidikan di Indonesia. Di semester pertama, saya masih kebingungan dengan teori untuk berpegang. Jujur saja saat itu belum banyak teori yang saya ketahui. Hingga akhirnya mulailah saya mempelajari teori-teori sosial yang dikeluarkan oleh Ivan Illich dan Adorno, serta beberapa nama lain. Karena sebelumnya saya hanya terfokus pada karya Karl Marx semata. Intinya Marx mengatakan bahwa masyarakat berkembang melalui pertumbuhan yang bertingkat dengan struktur ekonomi yang berbeda-beda. Struktur ekonomi yang ada di masyarakat ini yang kemudian melahirkan istilah dua konsep. Yaitu sosialisme dan kapitalisme. Konsep kapitalisme ini tidak pernah ada sebelumnya sampai Marx menemukannya.
Belakangan, saya menemukan satu nama yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Yaitu Pierre Bourdieu. Pierre Bourdieu (1930-2002) adalah seorang sosiolog asal Perancis yang terkenal dengan teori Cultural Reproduction (Reproduksi Kultural) dan Habitus. Ide-ide dan argumentasinya banyak dipakai sebagai fondasi ilmu sosial. Karya-karyanya tidak sebatas sosiologi, tapi juga antropologi, kultural dan pendidikan. Lalu bagaimanakah reproduksi kultural yang dimaksudkan oleh Bourdieu?

Bourdieu mengatakan distribusi kapital di masyarakat mempengaruhi kelas dan stratifikasi sosial. Dalam masyarakat kapitalis, golongan yang memiliki kapital mempunyai kemampuan untuk memproduksi ideologi dan kultur yang baru. Lebih mudahnya, golongan masyarkat ekonomi atas cenderung menguasai golongan ekonomi yang lebih rendah, baik dari segi ideology maupun kultural dengan pemanfaatan ekonomi. Sementara golongan ekonomi lebih rendah hanya bisa mengikuti sistem kekuasaan yang telah terjaring ini. Bourdieu membagi tingkatan sosial ke dalam tiga golongan. Yaitu:
  1. Golongan rendah, yang didominasi oleh golongan petani, pedagang kecil atau buruh.
  2. Golongan berkultur tinggi, adalah golongan menengah. Misalnya para pemimpin atau karyawan industri manufakturing, dan para pegawai kantoran.
  3. Golongan tinggi, yang didominasi oleh para profesional.

Lewat penelitiannya ia mengemukakan bahwa sistem pendidikan mempunyai fungsi legitimasi yang kemudian mengakar menjadi tuntutan sosial, sebagai bentuk evolusi dari kekuatan yang ada di dalam kelas-kelas sosial. Distibusi kapital dalam sistem pendidikan berlanjut kepada pola konsumsi masyarakat yang memdominasinya. Misalnya, masyarakat di masing-masing tingkatan akan memilih institusi pendidikan yang berbeda. Masyarakat dalam institusi tersebut mempunyai pola konsumsi yang terpolarisasikan pula. Misalnya, golongan tinggi berpersentase besar dalam hal membaca buku impor berbahasa asing ataupun terjemahannya, mengunjungi teater, museum atau perpustakaan. Sementara walaupun golongan rendah mempunyai persentase yang lebih kecil dalam pola konsumsi tersebut tapi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Karena mereka telah terbawa dalam jaringan kapital ini. Begitu seterusnya sistem ini berlanjut generasi demi generasi sehingga terbentuklah Habitus, yaitu suatu proses evolusi kultur yang tidak disadari, namun disadari hasil perubahannya. Sampailah argumentasi Bourdieu pada peranan media massa khususnya televisi dalam pembentukan kultur. Yaitu, para pemegang kapital menguasai kehidupan sosial lewat penguasaan industri media sehingga terjadi proses penyebaran kultur-kultur baru. Tidak ada pilihan bagi masyarakat dalam tingkatan ekonomi rendah selain mengikutinya. Demikianlah distribusi kapital saling mempengaruhi bersamaan dengan membentuk tingakatan sosial.


Dalam pemikiran saya, hampir tidak ada bedanya dengan teori-teori yang dikeluarkan Ivan Illich dan Adorno. Ivan Illich dalam tulisannya Deschooling Society (1970) juga mengungkapkan adanya jurang pemisah dalam masyarakat dikarenakan sistem pendidikan. Jelas dikatakannya bahwa sistem pendidikan yang ada hanyalah tersedia bagi kaum kapitalis yang mendominasi. Sementara masyarakat ekonomi rendah menjadi termarjinalkan dengan memilih sistem pendidikan yang terjangkau bagi mereka namun terkadang dengan kualitas dan kuantitas yang rendah pula. Menariknya, Ivan Illich mengungkapkan gedung sekolah maupun ijazah adalah komponen pembetuk stratifikasi sosial. Hingga keluarlah ide network society, yaitu pembelajaran lewat jaringan. Yang dimulai dengan jaringan terkecil yaitu keluarga, kemudian dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi dalam masyarakat. Sehingga pengaruh kapital dalam pembentukan stratifikasi sosial lewat pendidikan dapat ditekan. Illich juga mengatakan, ilmu pengetahuan dan moral bisa didapatkan dari kehidupan sekitar, sehingga tidak diperlukan satu gedung yang bernama sekolah untuk berkumpul. Karena gedung itu akan menjadi simbol kapitalisme yang mengaburkan makna pendidikan itu sendiri.

Adorno (Cultural Industry, 1944) pun mengkritik industri media karena penguasaan kapitalnya telah menciptakan keseragaman kultur. Keseragaman kultur yang diciptakan untuk kepentingan kapitalisme, sehingga timbul pola-pola konsumsi yang baru.


Lalu saya berkesimpulan, bahwa sedikit banyak Bourdieu, Illich dan Adorno mengadopsi teori Das Kapital milik Karl Marx. Hanya saja mereka tidak seekstrim Marx. Marx mengungkapkan terjadinya tingkatan sosial karena kapital hanya menciptakan kemiskinan kelas pekerja dan pada dasarnya masyarakat dimanfaatkan oleh kapital lewat para kapitalis, hingga lahirlah konsep kapitalisme yang harus digulingkan melalui suatu revolusi yang dipimpin kelas pekerja.

Lenny Aslim

(Artikel untuk "APU-Ina" Ritsumeikan Asia Pacific University)

Wednesday, January 25, 2006

Fenomena Akhir Zaman

..........Ibu dan anak gadisnya..........
(Beppu, 25 Januari 2006)

Harapan yang Tertunda

Seminggu belakangan saya punya kegemaran baru. Yaitu mendengarkan lagu milik Hirahara Ayaka yang berjudul Anata no Ude no Naka de. Beberapa kali saya coba menawarkan lagu ini kepada teman-teman saya yang ribuan mil jauh dari saya saat ini. Namun beberapa kendala teknis pula yang ternyata tak mengizinkan saya berbagi rasa lewat lirik yang dilantunkan dengan merdu penuh nuansa romantis dalam setiap tarikan nafas si cantik Hirahara. Teman-teman saya memang tidak ingin mendengarkannya dikarenakan faktor bahasa yang tidak mereka pahami. Sementara saya tak henti-hentinya meresapi kata perkata. Yang celakanya semakin mengingatkan jauhnya jarak saya dari harapan yang ada di dalam lagu ini. Mungkin benar adanya, rasa kehilangan itu harus saya akui juga.


Anata no Ude no Naka de
(in your arms)

yoake no sora ga futari wo terasu
atarashii asa ni me wo aketara
mabushii hikari no naka anata ga iru

tsunaida te kara afureru omoi
yasashiku karada wo kaze ga tsutsumu
yume no you na toki ga oshiyoseru
eien wo chikau kotoba wo kiita
ima kono basho de

anata wo shinjite
furisosogu ai ni owari wa nai to kanjita
anata no ude no naka de

aenai yoru wa sora wo miagete
anata no suki na uta kuchizusanda
tooku nagai mirai egakinagara
kono mama kokoro wo fukaku kasanete
aruite yuku no anata to

hateshinaku hiroi kono sekai
anata ni deaeta kiseki
sora wo takaku tabidatsu tori no you ni
koko kara tobidasou

tsubasa wo hirogete
donna arashi demo koete yukeru yo
futari de ashita e We're the one, and we can fly
yozora ni kagayaku hoshi ni dakare
subete wo ima anata to ikite yuku

Maafkan

Ma, Pa....
Jangan tanyakan lagi
Kenapa aku tak menikahinya

Karena dia cintaiku
Tapi tak sayangi dirimu

(Beppu, 24 Januari 2006)

Saya Suka Berlian dan Intan

Lama sudah saya mempertanyakan apa sebetulnya perbedaan berlian dengan intan. Padahal dalam bahasa Inggrisnya sama-sama ditulis diamond. Setelah mempunyai pengalaman menjadi seorang perancang perhiasan di sebuah perusahaan perhiasan di Jakarta…barulah saya mengerti kenapa batu yang satu dinamakan berlian dan kenapa batu yang lain dinamakan intan. Baiklah, kita bisa mulai dengan sedikit perkenalan sejarah batu permata yang adilnya kita sebut diamond ini.

Di akhir abad ke- 17, negara Belgia yang luasnya 32,545 km2 ternyata pernah dianggap enteng oleh kerajaan orange atau Belanda. Belanda menguasai perdagangan diamond dengan cara memonopoli semua batu permata berkualitas terbaik (Belanda termasuk kerajaan yang sangat kuat dalam perdagangan masa itu). Sehingga akhirnya Belgia tidak kebagian jatah yang cukup baik melainkan hanya serpihan batu permata yang susah sekali dibentuk. Selain bentuknya yang tidak standar, ukurannya pun sangat kecil. Tetapi…pepatah bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian ternyata berlaku untuk seluruh umat di dunia. Berkat ‘diremehkan’ inilah Belgia menjadi sangat piawai dalam urusan pengasahan diamond. Maka dipusatkanlah aktifitas pengasahan diamond di sebuah kota yang bernama Antwerp (dulunya termasuk bagian dari Belanda). Di kota ini didirikanlah badan untuk mematenkan semua kreasi diamond yang ada di dunia…yaitu Diamond High Council.

Tahun 1866..di Afrika Selatan untuk pertama kalinya ditemukan diamond. Negara-negara Eropa Barat menjadi sangat tertarik dengan berita itu, maka berdatanganlah mereka ke sana. Terbongkarlah rahasia tanah Afrika Selatan yang kaya akan diamond. Bisa dikata rakyatnya tidur bertilamkan diamond…tetapi kenapa mereka terjajah ? Karena pengetahuan mereka saat itu tentang diamond sangatlah minim….mungkin mereka menganggap diamond seperti kerikil yang bertebaran di depan rumah saya…tapi disamping itu, kekakayaan alamnya yang lain cukup membuat '‘kumbang-kumbang'’mengisap madunya…salah satunya adalah seekor kumbang yang bernama Great Britain. Pada tahun 1871 di sini pula ditemukannya dua diamond terbesar di dunia yang diberi nama eureka dan star of South Africa. Berukuran 21.25 karat dan 83.5 karat (Satu karatnya sekitar 0.5 cm). Sejak saat itu perusahaan diamond raksasa siap meng-kapling tanah dan membangun tambang di Afrika Selatan..yaitu Kimberly dan sang De Beers. Batu-batu kasar yang bernilai tak terhingga ini dikirim ke Antwerp untuk diasah. Sampai sekarang hanya di Antwerp berlian dapat diasah sempurna dengan jumlah sudut yang maha banyak .

Nah, waktu membeli diamond coba perhatikan dengan menggunakan kaca pembesar, bahwa setiap sudutnya akan bertemu dengan sempurna. Belum ada satu batupun di dunia ini selain diamond yang bisa diasah dengan banyak permukaan (tidak hanya bentuk empat persegi atau sejenisnya…melainkan bisa lebih dari 30 permukaan di satu batu) dan dengan sudut yang bisa dipertemukan. Karena batu lain tidak akan cukup kuat untuk diasah sebanyak dan serapat itu. Kebanyakan batu lain hanya bisa tahan diasah sebanyaknya dengan 10 permukaan saja, lebih dari itu akan pecah dengan sukses (sekarang bisa dipahamikan kenapa kekuatan diamond bisa dipakai untuk memotong kaca).

Selain itu sinarnya juga cukup berbeda (mata saya sampai sakit memperhatikannya). Kalau mau repot menghitung – ok –begini, bagi yang pernah belajar fisika mungkin cukup paham bahwasanya kalau diamond diterangi dengan lampu putih maka permukaan lainnya akan meneruskan pancarannya menjadi tujuh warna pelangi, kalau ternyata kurang (belum pernah lebih dari tujuh) maka perlu ditanya keasliannya. Permukaan asahannya pun tidak diragukan….percaya atau tidak kerataannya itu juga diukur dengan menggunakan waterpas…(alat yang biasa dipakai untuk mengukur kerataan lantai) tapi ukurannya super mikro.

Cara berikutnya menguji keaslian diamond adalah dengan meneteskan satu tetes air saja ke permukaannya. Kalau tetesan air itu membulat (mencembung) tidak menyebar (melebar) maka jangan ragu untuk membelinya. Anda tidak sedang ditipu. Tapi kalau ternyata tetesan air itu berserakan artinya batu itu bukanlah diamond melainkan kaca…(Coba percikan air ke kaca, akan terlihat air terpecah menyebar). Tapi tidak semua batu permata yang bila ditetsi air akan menyebar adalah kaca biasa. Ada kandungan kwarsa dan plastik di dalamnya. Batu yang mengandung unsur plastik dan kwarsa seperti ini disebut dengan zirconia. Sangat menyerupai diamond tapi tetap tidak bisa mempertemukan dua sudut dengan sempurna, dan warna pelanginya kurang dari tujuh. Kalau keberatan membeli diamond tapi tetap ingin tampil gaya bisa memilih zirconia asahan Swiss. Hampir tidak terlihat perbedaannya.

Nah kelebihan Antwerp, adalah, disinilah dipusatkan teknologi pengasahan yang maha tinggi dan dapat dilakukan terhadap semua ukuran, sekalipun pada berlian pasir atau sand cutting. Coba perhatikan butiran pasir untuk membayangkan ukuran yang bisa diasah di Antwerp.
Lalu apa yang terjadi dengan intan ? Batu mentahnya sebenarnya sama.
Kalimantan Selatan adalah Afrika Selatan-nya Indonesia…dimana diamond mentah banyak ditemukan…di kampung Cempaka, yang terletak sekitar 5 KM dari kota Martapura yang menjadi pusat pemasarannya. Indonesia tidak memiliki kota pengasahan seperti Antwerp. Hanya di Martapura diamond tanah Banjar ini dapat di asah…dulu Pemerintah Daerahnya menolak mentah-mentah para pengusaha yang ingin membeli diamond mentah dan dibawa ke Jakarta atau ke luar negeri untuk diasah. Tapi sayangnya teknologi yang ada hingga saat ini sangat sederhana…jelas tidak memakai komputer atau metoda canggih lainnya. Akhirnya asahannyapun menjadi apa adanya…bentuknya sangat tidak beraturan. Kalau diamond dari Antwerp memiliki bentuk2 seperti round, emerald, pear, tear drop, square, dan lain-lain, maka bentuk diamond dari Martapura belum mampu mencapai rupa persegi sempurna sekalipun.
Perusahaan diamond yang ada di seluruh dunia rata-rata memesannya dari Antwerp langsung, atau Hong Kong (yang berlisensi dari Antwerp juga). Diamond asahan Antwerp ini di Indonesia disebut dengan berlian, sedangkan diamond yang didapatkan dari tanah Indonesia disebut intan.
Inferiority complex....
Lenny Aslim
(Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University)
Beppu, 10 Maret 2005

Monday, January 23, 2006

Sabarku

Apa maksud pertemuan
Jika bukan untuk sebuah perpisahan
Lagi...bertemu lagi
Diwaktu ku menyerah menanti
Diwaktu hati mencoba berpaling
Diwaktu mata mencari jalan lain

Berapa lama waktu akan menahanmu
Sepanjang itulah waktuku
Berapa kuat hatiku mengungkap
Seterang itulah jawab tanyaku

Mungkin sebaiknya kau pergi
Atau aku yang berpaling
Lelahku mendapat
kau tidak mengunjungi ku
(Usa, 27 Dec 2005)

Sepatuku



Sepatu bermerk Eagle. Saya beli pada bulan Juni tahun 2004 di Blok M Plaza, sebagai salah satu atribut perjalanan ke Sukabumi untuk berarung jeram bersama teman sekantor. Saya abadikan sebelum usianya habis terinjak kegiatan perkuliahan saya selama di Jepang.