Wednesday, May 25, 2016

Gelas Kaca


Tak ada yang bisa disesali
Tak ada yang boleh disesali

Walaupun bisikan bertubi di telingaku
Aku tak bisa menyesali

Aku tak bisa lagi memungut pecahan kaca
Yang berserak entah ke mana

Tak bisa kurangkai semuanya 
Karena tak sedikit yang hilang

Aku telah menjatuhkan gelas itu
Dan aku tak bisa menggantinya
Tapi aku juga tak bisa membuangnya

Dan aku mulai disuguhi gelas gelas kaca yang cantik lagi...

Teman... tahukah kalian? Aku tak berani lagi memegang gelas kaca...
Aku takut akan memecahkannya lagi

Biarkan aku memandangnya dari jauh
Walau aku sangat ingin memilikinya
Karena aku tak mampu menjaganya
Aku tak mampu memolesnya
Aku tak mampu mengindari kaca beningnya dari goresan

Teman... jangan lagi kau beri aku gelas kaca yang cantik
Biarkan aku menyimpan gelas kacaku yang dulu yang telah pecah... aku tetap menyimpannya, walau aku tak dapat lagi membentuknya

Teman... jangan beri aku gelas kaca yang baru
Sebab aku takut tanganku terlalu kuat memegangnya, dan memecahkannya dalam genggamanku.


Tuesday, May 24, 2016

B 1374 TFG


Sejatinya selalu menemaniku. Aku tak pernah mengatakannya... tapi aku yakin kau tau aku sangat menyayangimu.

Bagaimana tidak... kau selalu menemaniku setiap masa senang, susah maupun sedih.

Masa itu.. cukup lama berlalu.
Masih ingat waktu kita berangkat pagi-pagi ke kantorku?... di tengah kemacetan aku paksa kau minggir. Menepi sejenak. Hanya untuk menemaniku menumpahkan air mata. Membuang semua yg rasanya berat sekali di dada dan di pundakku. 

Radiomu selalu menemaniku dengan nasehat-nasehat religius... sehingga kau tak payah membujukku tenang. Aku bisa tenang sendiri mendengar suara sejuk di radiomu.

Masih ingat waktu aku pelan-pelan melewati rel kereta api?
Kau mungkin cemas aku akan tiba-tiba menyuruhmu berhenti lagi, tapi kali ini di tengah rel.

Ah... waktu itu, rasanya telingaku pekak dengan seruan malaikat dan setan bersahutan. Memang betul... ingin sekali aku menyuruhmu berhenti di tengah rel itu... dan menunggu kereta lewat.

Tapi tidak... tidak pernah kulakukan... kita lewati sedikit rel itu... lalu kau berhenti membiarkanku menangis sejadi-jadinya.

Masih ingatkah kau... hampir tiap malam kita begitu. Hampir setiap malam kita menepi.. dan kau menungguku tenang lagi. Lalu kau antar aku pulang....

Aku menyadari kau semakin tua... tapi aku tak mau berpisah denganmu... banyak cerita yang hanya kita berdua yang tau...

Dulu...kita sering bertiga bersama dia. Sejak dia tak ada... hanya ada kita berdua. 
Aku mungkin tak pandai menjagamu disaat kau kelelahan... tapi percayalah, aku lakukan apa yang ku mampu untuk menjagamu.

Karena aku memerlukan mu untuk bersandar.

Aku tak bisa memperlihatkan kelemahankan di depan King dan Queen. 
Hanya senyuman yang aku harus bawa untuk mereka...
Maka kau lah teman terbaik tempatku mengadu segalanya kepada Tuhanku saat itu.

Aku tak mau dinding rumahku mendengar isakku, atau melihat mata bengkakku... padahal sudah kita sembunyikan di tengah malam.

Temanilah aku sampai habis mampumu... begitu banyak cerita kita berdua. Biarkan aku mengeluh, menangis dan tertidur di pelukanmu.

Kalau ada cerita pahit lagi, tetaplah menjadi temanku...

Walau tengah malam kau kupaksa berhenti dipinggir jalan yang gelap lagi...



Monday, May 23, 2016

JAM PASIR



Detik waktu laju berlari
Gurat gurat muncul menyerabut
Bibir berusaha bijaksana
Tapi hati terasa membatu

Jalan pulang kepada Mu semakin terang
Namun lampu kota masih menyilaukan
Hatiku masih silau dengan neon neon itu
Sementara waktuku tidak lagi sedikit

Bagaimana caranya membedakan bisikanMu?
Mengapa aku masih tak bisa mengenali suara Mu?
Mengapa di telingaku suara Mu masih terdengar sayup sayup?
Aku pusing dengan suara para perayu yang membujuk tak memberi ku masa tuk bernapas

Tuhan... dengan guratan yg menyerabut ini aku masih tidak mampu membedakan suara Mu diantara suara suara setan.

Sementara pasir di jam Mu semakin cepat turun berkurang...
Takkan bisa dibalik lagi...

Selamatkan aku...