Friday, January 27, 2006

Jalan-Jalan 1

Saya suka jalan-jalan...bagi saya jalan-jalan ke beberapa tempat yang belum saya kunjungi adalah salah satu bentuk belajar. Oleh karena itu selama satu setengah tahun belajar di Jepang, saya sempatkan juga melacong ke beberapa tempat yang selama ini hanya saya lihat di televisi atau majalah. Tentu saja tidak bisa dengan gaya yang mewah, sebab beasiswa yang saya terima tidak akan cukup untuk menutupi biaya menginap di hotel Holiday Inn di Tokyo. Biaya hidup di Jepang sangat mahal, tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Satu malam menginap di hotel bertaraf standard saja akan menghabiskan Yen 5000 (sama dengan Rp 500,000.-). Celakanya biaya dihitung per orang, bukan per kamar seperti di Indonesia. Belum lagi biaya trasportasinya.
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menekan biaya akomodasi (yang sering saya lakukan);
  1. Menghubungi beberapa kenalan (baik yang asing maupun Indonesia). Biasanya mereka tidak akan keberatan menampung satu orang tamu. Rata-rata teman saya tinggal di apartement yang berukuran mini, jadi sulit untuk menampung lebih dari satu orang.
  2. Kakak saya lebih nekat lagi. Kalau saya hanya berani menghubungi orang yang dikenal, maka dia akan berani menghubungi pihak yang tidak dikenalnya sama sekali. Salah satunya adalah PPI (organisasi Persatuan Pelajar Indonesia di luar negeri). Pengalamannya waktu di Eropa adalah menghubungi beberapa PPI yang ada di sana meminta kesedian mereka menerima beberapa mahasiswa Indonesia yang akan berkunjung...jalan-jalan maksudnya. Rasa persaudaraan memang terasa kuat waktu kita di rantau, sehingga beberapa anggota PPI di sana bersedia menyediakan ruangan untuk rombongannya. Akhirnya mereka justru kelebihan kamar....gratis pula.
  3. Kalau penginapan gratis tidak bisa didapatkan apa boleh buat penginapan komersil lah yang menjadi tujuan akhir. Teman saya terkaget-kaget waktu mengetahui saya hanya membayar Yen 1800 permalam untuk menginap di pusat kota Tokyo. Karena berada di pusat kota, maka biaya transportasinya pun murah, sehingga total pengeluaran saya sangat kecil dibandingkan dengan cara yang standar. Tentu tidak semewah hotel Ibis atau Grand Melia yang ada di Jakarta, melainkan penginapan sederhana yang ditujukan untuk para backpackers.

Silahkan temukan beberapa pilihan Penginapan Murah. Anda tinggal memilih tempat tujuan (berlaku untuk seluruh negara di dunia), dan informasi waktu penginapan dibutuhkan. Kamar dapat dipesan secara online, yang artinya pembayaran dilakukan dengan credit card. Jangan berkecil hati bagi yang tidak memiliki credit card. Begitu membuka link-link penginapan yang tertera di dalamnya biasanya mereka menyediakan no telepon, fax atau alamat email. Kalau semua informasi itu tidak ada juga, tinggal salin nama penginapan tersebut dan pindahkan ke mesin pencari (Google atau Yahoo). Karena biasanya penginapan-penginapan tersebut memiliki website sendiri.

Selamat mencoba...

Kartini - Kartini Tanpa Tanda Jasa


Ini satu lagi cerita tentang kartini-kartini muda kita yang rela bekerja jauh dari keluarga untuk menjadi TKW. Boleh dikata mereka menjadi pahlawan tanpa tanda jasa diera reformasi. Karena para guru sekarang sudah nyaring menuntut hak-hak mereka. Mudah-mudahan para TKW ini nantinya juga bersuara keras menuntut hak mereka setelah memberikan sekian banyak sumbangan untuk pembangunan di negara kita yang bernama Indoensia ini. Baiklah, ini adalah hasil pengamatan dan hitung-hitungan kontribusi TKW.

Sebenarnya apa saja keuntungan yang didapat oleh negara penerima dan negara pengirim TKW?

Pertama, Forex atau foreign exchange, gampangnya lagi…tukar nilai mata uang. Aktifitas ini yang paling dibanggakan pihak pengirim TKW dalam arti Indonesia karena nilai kontribusinya secara matematis akan sangat besar. Misalnya ambil contoh, kalau salah satu kenalan bekerja di Singapura. Jelas gajinya Singapore Dollar (SGD). Tapi jarang sekali bank di Indonesia yang punya fasilitas tabungan SGD, kecuali bank Singapore. Sementara bank penampung kiriman TKW pastilah bank pemerintah, yang cuma menyediakan tabungan dalam mata uang USD atau Rupiah. Rata-rata TKW memiliki tabungan Rupiah. Uang SGD yang dikirimkan ke Indonesia tidak bisa langsung dimasukkan ke rekening, harus ditukarkan ke Rupiah (IDR) dulu. Nah kalau ditukar di gerai penukaran mata uang asing untung yang diambil cuma sekitar 10 sampai 25 Rupiah. Sementar nilai tukar di Bank sangat mahal, Bank akan mengambil selisih sekitar 100 perak. Kalau satu orang mengirimkan sekitar SGD 200, dengan harga dari bank Rp 6000 per SGD (sementara harga SGD terhadap rupiah di pasar mata uang hanya Rp 5,900). Berarti untung yg didapat adalah SGD 200 x 100 = Rp 20,000. Itu baru dari satu orang. Ada sekitar 3 juta TKW yang kerja di luar negeri. Kalo dipukul rata berada di Singapura semua, dan semuanya menukarkan uang sebulan sekali maka untung dari FOREX dalam satu bulan saja untuk Indonesia adalah Rp 60 Milliar.

Kedua, Remittance (money transfer) atau pengiriman uang. Ambil contoh kenalan kita dari kampung A di Jawa Timur bekerja di salah satu negara di Timur Tengah (Mata uang Rial). Teman kita itu tidak akan bisa mengirimkan gajinya dalam bentuk Rial ke Indonesia, karena tidak ada mata uang Rial di bank penerima (Bank A). Maka TKW ini harus menukarkannya ke dalam bentuk USD (sebab IDR tidak bisa ditukar di luar negeri, dan USD adalah mata uang paling umum di dunia). Dengan demikian timur tengah sudah untung dengan FOREX-nya…ditambah dengan komisi pengiriman ke Indonesia yang normalnya seharga USD 25. Ditambah lagi dengan correspondent fee (biaya korespondensi) sekitar USD 20. Itu semua murni masuk kantong negara tempat sang TKW bekerja. Lalu, ketika sampai di Indonesia uang ditukarkan ke IDR secara otomatis, sehingga ada lagi keuntungan FOREX dan incoming fee (biaya uang masuk yang harus dibayar keluaraga TKW yang menerima) bagi bank penerima.


Kedua proses diatas sudah sangat terkenal dimana kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Ini salah satu sebab kenapa pemerintah tetap mendorong berjalannya praktek pengiriman TKW. Belum lagi kalau menghitung semua jumlah TKI yang tersebar.

Tapi masih ada satu proses yang orang tidak begitu mengenalnya. Yaitu Deposito atau simpanan. Uang yang dikirim tidak langsung diterima di Bank kampung A. Uang dari luar negeri masuk ke bank pusat yang ada di kota2 besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Dalam kasus ini ke Surabaya, dan bank pusat tidak akan meneruskan ke kampung dalam hari yang sama. Baru dilakukan keesokan harinya. Kalau datangnya hari jumat maka hari senin baru dilanjutkan. Nah diapakan uang itu selama 3 malam ? Uang itu dibungakan oleh bank dengan cara meminjamkannya ke pihak lain atau mendepositokannya di Bank indonesia (Siapa bilang cuma kita yg boleh berdeposito di bank? Bank pun boleh mendepositokan kasnya ke Bank Indonesia). Deposito satu hari di BI sekitar 10% (SBI interest). Dalam empat bulan Jawa Timur menerima uang masuk dari TKW sebesar IDR 2.5 TRILIUN. Maka bank pusat akan mendapat untung deposito sekitar IDR 2,1 Milyar. Lalu uangnya akan diteruskan ke Bank Kampung (A), dan sama seperti semula…uang tidak langsung dimasukkan ke rekening penerima, tergantung batas waktu operasional bank. Nah berarti mengendap lagi sehari, sehingga ada dua bank di Jawa Timur yang diuntungkan. Kira-kira satu tahunnya kedua bank ini akan dapat untung masing-masing IDR 6.3 milyar. Ingat itu baru satu provinsi, belum provinsi lain.

Semua itu baru keuntungan yang diperoleh lewat hubungan TKW dengan bank. Belum lagi dengan pajak bandara, daya konsumsi mereka ketika pulang, ongkos calo bagi yang ilegal, dan setiap pekerja dikenakan pajak USD15 untuk PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Nah…secara ekonomi cukup besar jasa mereka. Tapi siapa yang menjamin keselamatan dan kesejahteraan mereka di negara seberang. Bagi teman-teman APU yang berniat punya bisnis, mudah-mudahan sukses dan bisa menampung mereka, supaya tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW.

Itu saja sumbangan cerita dari saya kalau ada lagi dan tidak bosan membacanya, dengan senang hati akan dikirim.

Lenny Aslim
Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University
(Beppu, Januari 2005)

Sedikit Tentang Distribusi Kapital

Satu tahun kuliah di sini memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Terutama saat menghadiri kelas seminar tesis. Bahasan tesis saya tak jauh dari dunia pertelevisian dan fungsinya dalam pendidikan di Indonesia. Di semester pertama, saya masih kebingungan dengan teori untuk berpegang. Jujur saja saat itu belum banyak teori yang saya ketahui. Hingga akhirnya mulailah saya mempelajari teori-teori sosial yang dikeluarkan oleh Ivan Illich dan Adorno, serta beberapa nama lain. Karena sebelumnya saya hanya terfokus pada karya Karl Marx semata. Intinya Marx mengatakan bahwa masyarakat berkembang melalui pertumbuhan yang bertingkat dengan struktur ekonomi yang berbeda-beda. Struktur ekonomi yang ada di masyarakat ini yang kemudian melahirkan istilah dua konsep. Yaitu sosialisme dan kapitalisme. Konsep kapitalisme ini tidak pernah ada sebelumnya sampai Marx menemukannya.
Belakangan, saya menemukan satu nama yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Yaitu Pierre Bourdieu. Pierre Bourdieu (1930-2002) adalah seorang sosiolog asal Perancis yang terkenal dengan teori Cultural Reproduction (Reproduksi Kultural) dan Habitus. Ide-ide dan argumentasinya banyak dipakai sebagai fondasi ilmu sosial. Karya-karyanya tidak sebatas sosiologi, tapi juga antropologi, kultural dan pendidikan. Lalu bagaimanakah reproduksi kultural yang dimaksudkan oleh Bourdieu?

Bourdieu mengatakan distribusi kapital di masyarakat mempengaruhi kelas dan stratifikasi sosial. Dalam masyarakat kapitalis, golongan yang memiliki kapital mempunyai kemampuan untuk memproduksi ideologi dan kultur yang baru. Lebih mudahnya, golongan masyarkat ekonomi atas cenderung menguasai golongan ekonomi yang lebih rendah, baik dari segi ideology maupun kultural dengan pemanfaatan ekonomi. Sementara golongan ekonomi lebih rendah hanya bisa mengikuti sistem kekuasaan yang telah terjaring ini. Bourdieu membagi tingkatan sosial ke dalam tiga golongan. Yaitu:
  1. Golongan rendah, yang didominasi oleh golongan petani, pedagang kecil atau buruh.
  2. Golongan berkultur tinggi, adalah golongan menengah. Misalnya para pemimpin atau karyawan industri manufakturing, dan para pegawai kantoran.
  3. Golongan tinggi, yang didominasi oleh para profesional.

Lewat penelitiannya ia mengemukakan bahwa sistem pendidikan mempunyai fungsi legitimasi yang kemudian mengakar menjadi tuntutan sosial, sebagai bentuk evolusi dari kekuatan yang ada di dalam kelas-kelas sosial. Distibusi kapital dalam sistem pendidikan berlanjut kepada pola konsumsi masyarakat yang memdominasinya. Misalnya, masyarakat di masing-masing tingkatan akan memilih institusi pendidikan yang berbeda. Masyarakat dalam institusi tersebut mempunyai pola konsumsi yang terpolarisasikan pula. Misalnya, golongan tinggi berpersentase besar dalam hal membaca buku impor berbahasa asing ataupun terjemahannya, mengunjungi teater, museum atau perpustakaan. Sementara walaupun golongan rendah mempunyai persentase yang lebih kecil dalam pola konsumsi tersebut tapi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Karena mereka telah terbawa dalam jaringan kapital ini. Begitu seterusnya sistem ini berlanjut generasi demi generasi sehingga terbentuklah Habitus, yaitu suatu proses evolusi kultur yang tidak disadari, namun disadari hasil perubahannya. Sampailah argumentasi Bourdieu pada peranan media massa khususnya televisi dalam pembentukan kultur. Yaitu, para pemegang kapital menguasai kehidupan sosial lewat penguasaan industri media sehingga terjadi proses penyebaran kultur-kultur baru. Tidak ada pilihan bagi masyarakat dalam tingkatan ekonomi rendah selain mengikutinya. Demikianlah distribusi kapital saling mempengaruhi bersamaan dengan membentuk tingakatan sosial.


Dalam pemikiran saya, hampir tidak ada bedanya dengan teori-teori yang dikeluarkan Ivan Illich dan Adorno. Ivan Illich dalam tulisannya Deschooling Society (1970) juga mengungkapkan adanya jurang pemisah dalam masyarakat dikarenakan sistem pendidikan. Jelas dikatakannya bahwa sistem pendidikan yang ada hanyalah tersedia bagi kaum kapitalis yang mendominasi. Sementara masyarakat ekonomi rendah menjadi termarjinalkan dengan memilih sistem pendidikan yang terjangkau bagi mereka namun terkadang dengan kualitas dan kuantitas yang rendah pula. Menariknya, Ivan Illich mengungkapkan gedung sekolah maupun ijazah adalah komponen pembetuk stratifikasi sosial. Hingga keluarlah ide network society, yaitu pembelajaran lewat jaringan. Yang dimulai dengan jaringan terkecil yaitu keluarga, kemudian dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi dalam masyarakat. Sehingga pengaruh kapital dalam pembentukan stratifikasi sosial lewat pendidikan dapat ditekan. Illich juga mengatakan, ilmu pengetahuan dan moral bisa didapatkan dari kehidupan sekitar, sehingga tidak diperlukan satu gedung yang bernama sekolah untuk berkumpul. Karena gedung itu akan menjadi simbol kapitalisme yang mengaburkan makna pendidikan itu sendiri.

Adorno (Cultural Industry, 1944) pun mengkritik industri media karena penguasaan kapitalnya telah menciptakan keseragaman kultur. Keseragaman kultur yang diciptakan untuk kepentingan kapitalisme, sehingga timbul pola-pola konsumsi yang baru.


Lalu saya berkesimpulan, bahwa sedikit banyak Bourdieu, Illich dan Adorno mengadopsi teori Das Kapital milik Karl Marx. Hanya saja mereka tidak seekstrim Marx. Marx mengungkapkan terjadinya tingkatan sosial karena kapital hanya menciptakan kemiskinan kelas pekerja dan pada dasarnya masyarakat dimanfaatkan oleh kapital lewat para kapitalis, hingga lahirlah konsep kapitalisme yang harus digulingkan melalui suatu revolusi yang dipimpin kelas pekerja.

Lenny Aslim

(Artikel untuk "APU-Ina" Ritsumeikan Asia Pacific University)

Wednesday, January 25, 2006

Fenomena Akhir Zaman

..........Ibu dan anak gadisnya..........
(Beppu, 25 Januari 2006)

Harapan yang Tertunda

Seminggu belakangan saya punya kegemaran baru. Yaitu mendengarkan lagu milik Hirahara Ayaka yang berjudul Anata no Ude no Naka de. Beberapa kali saya coba menawarkan lagu ini kepada teman-teman saya yang ribuan mil jauh dari saya saat ini. Namun beberapa kendala teknis pula yang ternyata tak mengizinkan saya berbagi rasa lewat lirik yang dilantunkan dengan merdu penuh nuansa romantis dalam setiap tarikan nafas si cantik Hirahara. Teman-teman saya memang tidak ingin mendengarkannya dikarenakan faktor bahasa yang tidak mereka pahami. Sementara saya tak henti-hentinya meresapi kata perkata. Yang celakanya semakin mengingatkan jauhnya jarak saya dari harapan yang ada di dalam lagu ini. Mungkin benar adanya, rasa kehilangan itu harus saya akui juga.


Anata no Ude no Naka de
(in your arms)

yoake no sora ga futari wo terasu
atarashii asa ni me wo aketara
mabushii hikari no naka anata ga iru

tsunaida te kara afureru omoi
yasashiku karada wo kaze ga tsutsumu
yume no you na toki ga oshiyoseru
eien wo chikau kotoba wo kiita
ima kono basho de

anata wo shinjite
furisosogu ai ni owari wa nai to kanjita
anata no ude no naka de

aenai yoru wa sora wo miagete
anata no suki na uta kuchizusanda
tooku nagai mirai egakinagara
kono mama kokoro wo fukaku kasanete
aruite yuku no anata to

hateshinaku hiroi kono sekai
anata ni deaeta kiseki
sora wo takaku tabidatsu tori no you ni
koko kara tobidasou

tsubasa wo hirogete
donna arashi demo koete yukeru yo
futari de ashita e We're the one, and we can fly
yozora ni kagayaku hoshi ni dakare
subete wo ima anata to ikite yuku

Maafkan

Ma, Pa....
Jangan tanyakan lagi
Kenapa aku tak menikahinya

Karena dia cintaiku
Tapi tak sayangi dirimu

(Beppu, 24 Januari 2006)

Saya Suka Berlian dan Intan

Lama sudah saya mempertanyakan apa sebetulnya perbedaan berlian dengan intan. Padahal dalam bahasa Inggrisnya sama-sama ditulis diamond. Setelah mempunyai pengalaman menjadi seorang perancang perhiasan di sebuah perusahaan perhiasan di Jakarta…barulah saya mengerti kenapa batu yang satu dinamakan berlian dan kenapa batu yang lain dinamakan intan. Baiklah, kita bisa mulai dengan sedikit perkenalan sejarah batu permata yang adilnya kita sebut diamond ini.

Di akhir abad ke- 17, negara Belgia yang luasnya 32,545 km2 ternyata pernah dianggap enteng oleh kerajaan orange atau Belanda. Belanda menguasai perdagangan diamond dengan cara memonopoli semua batu permata berkualitas terbaik (Belanda termasuk kerajaan yang sangat kuat dalam perdagangan masa itu). Sehingga akhirnya Belgia tidak kebagian jatah yang cukup baik melainkan hanya serpihan batu permata yang susah sekali dibentuk. Selain bentuknya yang tidak standar, ukurannya pun sangat kecil. Tetapi…pepatah bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian ternyata berlaku untuk seluruh umat di dunia. Berkat ‘diremehkan’ inilah Belgia menjadi sangat piawai dalam urusan pengasahan diamond. Maka dipusatkanlah aktifitas pengasahan diamond di sebuah kota yang bernama Antwerp (dulunya termasuk bagian dari Belanda). Di kota ini didirikanlah badan untuk mematenkan semua kreasi diamond yang ada di dunia…yaitu Diamond High Council.

Tahun 1866..di Afrika Selatan untuk pertama kalinya ditemukan diamond. Negara-negara Eropa Barat menjadi sangat tertarik dengan berita itu, maka berdatanganlah mereka ke sana. Terbongkarlah rahasia tanah Afrika Selatan yang kaya akan diamond. Bisa dikata rakyatnya tidur bertilamkan diamond…tetapi kenapa mereka terjajah ? Karena pengetahuan mereka saat itu tentang diamond sangatlah minim….mungkin mereka menganggap diamond seperti kerikil yang bertebaran di depan rumah saya…tapi disamping itu, kekakayaan alamnya yang lain cukup membuat '‘kumbang-kumbang'’mengisap madunya…salah satunya adalah seekor kumbang yang bernama Great Britain. Pada tahun 1871 di sini pula ditemukannya dua diamond terbesar di dunia yang diberi nama eureka dan star of South Africa. Berukuran 21.25 karat dan 83.5 karat (Satu karatnya sekitar 0.5 cm). Sejak saat itu perusahaan diamond raksasa siap meng-kapling tanah dan membangun tambang di Afrika Selatan..yaitu Kimberly dan sang De Beers. Batu-batu kasar yang bernilai tak terhingga ini dikirim ke Antwerp untuk diasah. Sampai sekarang hanya di Antwerp berlian dapat diasah sempurna dengan jumlah sudut yang maha banyak .

Nah, waktu membeli diamond coba perhatikan dengan menggunakan kaca pembesar, bahwa setiap sudutnya akan bertemu dengan sempurna. Belum ada satu batupun di dunia ini selain diamond yang bisa diasah dengan banyak permukaan (tidak hanya bentuk empat persegi atau sejenisnya…melainkan bisa lebih dari 30 permukaan di satu batu) dan dengan sudut yang bisa dipertemukan. Karena batu lain tidak akan cukup kuat untuk diasah sebanyak dan serapat itu. Kebanyakan batu lain hanya bisa tahan diasah sebanyaknya dengan 10 permukaan saja, lebih dari itu akan pecah dengan sukses (sekarang bisa dipahamikan kenapa kekuatan diamond bisa dipakai untuk memotong kaca).

Selain itu sinarnya juga cukup berbeda (mata saya sampai sakit memperhatikannya). Kalau mau repot menghitung – ok –begini, bagi yang pernah belajar fisika mungkin cukup paham bahwasanya kalau diamond diterangi dengan lampu putih maka permukaan lainnya akan meneruskan pancarannya menjadi tujuh warna pelangi, kalau ternyata kurang (belum pernah lebih dari tujuh) maka perlu ditanya keasliannya. Permukaan asahannya pun tidak diragukan….percaya atau tidak kerataannya itu juga diukur dengan menggunakan waterpas…(alat yang biasa dipakai untuk mengukur kerataan lantai) tapi ukurannya super mikro.

Cara berikutnya menguji keaslian diamond adalah dengan meneteskan satu tetes air saja ke permukaannya. Kalau tetesan air itu membulat (mencembung) tidak menyebar (melebar) maka jangan ragu untuk membelinya. Anda tidak sedang ditipu. Tapi kalau ternyata tetesan air itu berserakan artinya batu itu bukanlah diamond melainkan kaca…(Coba percikan air ke kaca, akan terlihat air terpecah menyebar). Tapi tidak semua batu permata yang bila ditetsi air akan menyebar adalah kaca biasa. Ada kandungan kwarsa dan plastik di dalamnya. Batu yang mengandung unsur plastik dan kwarsa seperti ini disebut dengan zirconia. Sangat menyerupai diamond tapi tetap tidak bisa mempertemukan dua sudut dengan sempurna, dan warna pelanginya kurang dari tujuh. Kalau keberatan membeli diamond tapi tetap ingin tampil gaya bisa memilih zirconia asahan Swiss. Hampir tidak terlihat perbedaannya.

Nah kelebihan Antwerp, adalah, disinilah dipusatkan teknologi pengasahan yang maha tinggi dan dapat dilakukan terhadap semua ukuran, sekalipun pada berlian pasir atau sand cutting. Coba perhatikan butiran pasir untuk membayangkan ukuran yang bisa diasah di Antwerp.
Lalu apa yang terjadi dengan intan ? Batu mentahnya sebenarnya sama.
Kalimantan Selatan adalah Afrika Selatan-nya Indonesia…dimana diamond mentah banyak ditemukan…di kampung Cempaka, yang terletak sekitar 5 KM dari kota Martapura yang menjadi pusat pemasarannya. Indonesia tidak memiliki kota pengasahan seperti Antwerp. Hanya di Martapura diamond tanah Banjar ini dapat di asah…dulu Pemerintah Daerahnya menolak mentah-mentah para pengusaha yang ingin membeli diamond mentah dan dibawa ke Jakarta atau ke luar negeri untuk diasah. Tapi sayangnya teknologi yang ada hingga saat ini sangat sederhana…jelas tidak memakai komputer atau metoda canggih lainnya. Akhirnya asahannyapun menjadi apa adanya…bentuknya sangat tidak beraturan. Kalau diamond dari Antwerp memiliki bentuk2 seperti round, emerald, pear, tear drop, square, dan lain-lain, maka bentuk diamond dari Martapura belum mampu mencapai rupa persegi sempurna sekalipun.
Perusahaan diamond yang ada di seluruh dunia rata-rata memesannya dari Antwerp langsung, atau Hong Kong (yang berlisensi dari Antwerp juga). Diamond asahan Antwerp ini di Indonesia disebut dengan berlian, sedangkan diamond yang didapatkan dari tanah Indonesia disebut intan.
Inferiority complex....
Lenny Aslim
(Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University)
Beppu, 10 Maret 2005

Monday, January 23, 2006

Sabarku

Apa maksud pertemuan
Jika bukan untuk sebuah perpisahan
Lagi...bertemu lagi
Diwaktu ku menyerah menanti
Diwaktu hati mencoba berpaling
Diwaktu mata mencari jalan lain

Berapa lama waktu akan menahanmu
Sepanjang itulah waktuku
Berapa kuat hatiku mengungkap
Seterang itulah jawab tanyaku

Mungkin sebaiknya kau pergi
Atau aku yang berpaling
Lelahku mendapat
kau tidak mengunjungi ku
(Usa, 27 Dec 2005)

Sepatuku



Sepatu bermerk Eagle. Saya beli pada bulan Juni tahun 2004 di Blok M Plaza, sebagai salah satu atribut perjalanan ke Sukabumi untuk berarung jeram bersama teman sekantor. Saya abadikan sebelum usianya habis terinjak kegiatan perkuliahan saya selama di Jepang.