Lama sudah saya mempertanyakan apa sebetulnya perbedaan berlian dengan intan. Padahal dalam bahasa Inggrisnya sama-sama ditulis diamond. Setelah mempunyai pengalaman menjadi seorang perancang perhiasan di sebuah perusahaan perhiasan di Jakarta…barulah saya mengerti kenapa batu yang satu dinamakan berlian dan kenapa batu yang lain dinamakan intan. Baiklah, kita bisa mulai dengan sedikit perkenalan sejarah batu permata yang adilnya kita sebut diamond ini.
Di akhir abad ke- 17, negara Belgia yang luasnya 32,545 km2 ternyata pernah dianggap enteng oleh kerajaan orange atau Belanda. Belanda menguasai perdagangan diamond dengan cara memonopoli semua batu permata berkualitas terbaik (Belanda termasuk kerajaan yang sangat kuat dalam perdagangan masa itu). Sehingga akhirnya Belgia tidak kebagian jatah yang cukup baik melainkan hanya serpihan batu permata yang susah sekali dibentuk. Selain bentuknya yang tidak standar, ukurannya pun sangat kecil. Tetapi…pepatah bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian ternyata berlaku untuk seluruh umat di dunia. Berkat ‘diremehkan’ inilah Belgia menjadi sangat piawai dalam urusan pengasahan diamond. Maka dipusatkanlah aktifitas pengasahan diamond di sebuah kota yang bernama Antwerp (dulunya termasuk bagian dari Belanda). Di kota ini didirikanlah badan untuk mematenkan semua kreasi diamond yang ada di dunia…yaitu Diamond High Council.
Tahun 1866..di Afrika Selatan untuk pertama kalinya ditemukan diamond. Negara-negara Eropa Barat menjadi sangat tertarik dengan berita itu, maka berdatanganlah mereka ke sana. Terbongkarlah rahasia tanah Afrika Selatan yang kaya akan diamond. Bisa dikata rakyatnya tidur bertilamkan diamond…tetapi kenapa mereka terjajah ? Karena pengetahuan mereka saat itu tentang diamond sangatlah minim….mungkin mereka menganggap diamond seperti kerikil yang bertebaran di depan rumah saya…tapi disamping itu, kekakayaan alamnya yang lain cukup membuat '‘kumbang-kumbang'’mengisap madunya…salah satunya adalah seekor kumbang yang bernama Great Britain. Pada tahun 1871 di sini pula ditemukannya dua diamond terbesar di dunia yang diberi nama eureka dan star of South Africa. Berukuran 21.25 karat dan 83.5 karat (Satu karatnya sekitar 0.5 cm). Sejak saat itu perusahaan diamond raksasa siap meng-kapling tanah dan membangun tambang di Afrika Selatan..yaitu Kimberly dan sang De Beers. Batu-batu kasar yang bernilai tak terhingga ini dikirim ke Antwerp untuk diasah. Sampai sekarang hanya di Antwerp berlian dapat diasah sempurna dengan jumlah sudut yang maha banyak .
Nah, waktu membeli diamond coba perhatikan dengan menggunakan kaca pembesar, bahwa setiap sudutnya akan bertemu dengan sempurna. Belum ada satu batupun di dunia ini selain diamond yang bisa diasah dengan banyak permukaan (tidak hanya bentuk empat persegi atau sejenisnya…melainkan bisa lebih dari 30 permukaan di satu batu) dan dengan sudut yang bisa dipertemukan. Karena batu lain tidak akan cukup kuat untuk diasah sebanyak dan serapat itu. Kebanyakan batu lain hanya bisa tahan diasah sebanyaknya dengan 10 permukaan saja, lebih dari itu akan pecah dengan sukses (sekarang bisa dipahamikan kenapa kekuatan diamond bisa dipakai untuk memotong kaca).
Selain itu sinarnya juga cukup berbeda (mata saya sampai sakit memperhatikannya). Kalau mau repot menghitung – ok –begini, bagi yang pernah belajar fisika mungkin cukup paham bahwasanya kalau diamond diterangi dengan lampu putih maka permukaan lainnya akan meneruskan pancarannya menjadi tujuh warna pelangi, kalau ternyata kurang (belum pernah lebih dari tujuh) maka perlu ditanya keasliannya. Permukaan asahannya pun tidak diragukan….percaya atau tidak kerataannya itu juga diukur dengan menggunakan waterpas…(alat yang biasa dipakai untuk mengukur kerataan lantai) tapi ukurannya super mikro.
Cara berikutnya menguji keaslian diamond adalah dengan meneteskan satu tetes air saja ke permukaannya. Kalau tetesan air itu membulat (mencembung) tidak menyebar (melebar) maka jangan ragu untuk membelinya. Anda tidak sedang ditipu. Tapi kalau ternyata tetesan air itu berserakan artinya batu itu bukanlah diamond melainkan kaca…(Coba percikan air ke kaca, akan terlihat air terpecah menyebar). Tapi tidak semua batu permata yang bila ditetsi air akan menyebar adalah kaca biasa. Ada kandungan kwarsa dan plastik di dalamnya. Batu yang mengandung unsur plastik dan kwarsa seperti ini disebut dengan zirconia. Sangat menyerupai diamond tapi tetap tidak bisa mempertemukan dua sudut dengan sempurna, dan warna pelanginya kurang dari tujuh. Kalau keberatan membeli diamond tapi tetap ingin tampil gaya bisa memilih zirconia asahan Swiss. Hampir tidak terlihat perbedaannya.
Nah kelebihan Antwerp, adalah, disinilah dipusatkan teknologi pengasahan yang maha tinggi dan dapat dilakukan terhadap semua ukuran, sekalipun pada berlian pasir atau sand cutting. Coba perhatikan butiran pasir untuk membayangkan ukuran yang bisa diasah di Antwerp.
Lalu apa yang terjadi dengan intan ? Batu mentahnya sebenarnya sama.
Kalimantan Selatan adalah Afrika Selatan-nya Indonesia…dimana diamond mentah banyak ditemukan…di kampung Cempaka, yang terletak sekitar 5 KM dari kota Martapura yang menjadi pusat pemasarannya. Indonesia tidak memiliki kota pengasahan seperti Antwerp. Hanya di Martapura diamond tanah Banjar ini dapat di asah…dulu Pemerintah Daerahnya menolak mentah-mentah para pengusaha yang ingin membeli diamond mentah dan dibawa ke Jakarta atau ke luar negeri untuk diasah. Tapi sayangnya teknologi yang ada hingga saat ini sangat sederhana…jelas tidak memakai komputer atau metoda canggih lainnya. Akhirnya asahannyapun menjadi apa adanya…bentuknya sangat tidak beraturan. Kalau diamond dari Antwerp memiliki bentuk2 seperti round, emerald, pear, tear drop, square, dan lain-lain, maka bentuk diamond dari Martapura belum mampu mencapai rupa persegi sempurna sekalipun.
Perusahaan diamond yang ada di seluruh dunia rata-rata memesannya dari Antwerp langsung, atau Hong Kong (yang berlisensi dari Antwerp juga). Diamond asahan Antwerp ini di Indonesia disebut dengan berlian, sedangkan diamond yang didapatkan dari tanah Indonesia disebut intan.
Inferiority complex....
Lenny Aslim
(Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University)
Beppu, 10 Maret 2005