Sunday, May 25, 2008

I D O L A

Aku mengidolakan Sofyan Dawood, sang panglima GAM. Aku mengaguminya sejak namanya disebut-sebut di tengah perjuangan Aceh memperoleh otonominya. Aku anggap semua orang tau laki-laki yang kumaksud.

Mataku melihat laki-laki ini sebagai Hero....pahlawan yang nyata. Pahlawan yang berjuang demi memerdekakan haknya...hak teman-temannya dan hak-hak orang lain yang terampas.

Mataku melihat, laki-laki ini sebagai pahlawan yang berjuang dengan senjata, persis seperti super heros yang ada di film-film Hollywood dan Bollywood....hehehe.....

Lebih-lebih lagi...mataku melihat kepahlawanannya semakin tidak ada bedanya dengan yang di film-film Amerika dan India....karena dia juga ganteng dan tinggi......Sempurna.

Sehingga dengan pedenya aku tulis "Sofyan Dawood" dalam barisan Who I Want to Meet di Friendster-ku.

Anyway....bukan Sofyan Dawoodnya yang aku permasalahkan.

Satu orang lelaki di dekatku....ternyata sedikit terganggu dengan Sofyan Dawood ini. Berhubung (menurut gosip) dia menyimpan rasa suka kepadaku...dia agak sedikit ngga pede dengan idolaku ini. Seolah-olah aku hanya menyukai laki-laki yang harus persis sama dengan Sofyan Dawood. Padahal....Sofyan Dawood kan cuma aku kenal di koran-koran. Satu kali aku pernah mendengar dia bercakap-cakap hanyalah dalam acara Kick Andy. Itupun aku tonton dari TV. Jadi....mana mungkin pula aku menjadikan Sofyan Dawood parameter untuk laki-laki yang aku sukai.

Kepada laki-laki di dekatku yang menyimpan rasa......janganlah merubah diri menjadi Sofyan Dawood...karena kamu ngga akan pernah bisa seperti dia. Maka jadilah dirimu sendiri...karena mana tau aku menemukan keunikanmu...yang justru melebih idolaku ini. Sehingga nama Sofyan Dawood bisa cepat-cepat aku hapus dari Friendsterku dan kuganti dengan namamu mungkin?

Saturday, May 03, 2008

L U P A

Sejak dulu, aku gampang lupa atau gampang melupakan sesuatu. Lebih tepatnya gampang melupakan sesuatu karena malas mengingat dengan serius. Makanya aku paling sering nyasar. Kalau nyetir selalu salah jalan dan ragu belokan.

Barang-barang kecil yang seharusnya selalu melengkapiku juga tak luput dari kelupaan. Lupa pakai jam tangan lah. Lupa HP atau dompet karena ketingalan di rumah atau laci kantor lah. Untung aku tingal dekat sekali dengan kantor jadi ngga memerlukan ongkos untuk pulang dan pergi kerja. Belum lagi lupa membelikan titipan barang kalau ke supermarket atau toko buku padahal sudah bawa catatan. Lupa bayar kos, lupa bayar arisan sampai ditagih. Lupa bayar uang langganan majalah Tempo sampai orangnya mesti bolak balik ke kantor mencari. Begitu security menyampaikan lewat telpon “Tukang majalah lagi nungguin mba”, aku langsung menjawab “Iya, segera…” tapi ngga kunjung muncul. Satu jam kemudian baru ingat kalau ada yang sedang menungguku. Sudah terjadi tiga kali nih. Bulan lalu, aku hampir melupakan ulang tahun kakakku.

Ada beberapa faktor penyebab yang menambah daftar lupaku akhir-akhir ini (bukan maksud bela diri ya ) yaitu;

Lupa bawa HP karena aku sebenarnya kurang suka pakai HP. Dalam satu hari belum tentu aku menggunakannya kecuali untuk alarm. Pas makan siang malas aku bawa-bawa HP karena biasanya ada saja orang telpon urusan kerjaan. Bikin pendek acara makan siangku. Kalau pagi-pagi ada yang telpon palingan cuma mau kasih kabar “Mba Lenny, aku hari ini ngga bisa masuk kerja karena sakit….” dari adik-adik di departemenku.

Lupa jam tangan mungkin dikarenakan aku tidak begitu suka memakai perhiasan. Satu-satunya perhiasan yang aku pakai hanyalah anting panjang yang harganya super murah. Jam tangan ini juga punya mama, karena aku merasa ngga perlu beli dan mama masih punya dua jam tangan lagi yang nganggur.

Mengingat ulang tahun kakakku sama saja dengan mengingat usiaku sendiri karena kami cuma beda satu tahun. Mengingat usiaku adalah hal yang aku hindari akhir-akhir ini. Rasanya menakutkan juga segera menjadi 31 tapi masih single…hehehehe.

But anyway, hal-hal yang seharusnya tidak boleh lupa malah aku lupakan. Seperti; lupa mendaftarkan transaksi derivative, sehingga membuat satu kericuhan di kantor. Atau lupa mengecek credit rating customer sampai dapat terguran dari bosku. Dan lupa juga mengecek credit outstanding dan lupa request SBLC sehingga membuat LLL minus. Hmmmhhh, lupa yang terakhir ini membuat kinerjaku drop.

Kata satu temanku, “Lupa itu bahaya lho, ntar kalau dah merit lupa lagi udah punya suami….”. Walaupun kedengarannya hiperbola….tapi mungkin saja bisa menjadi seektrim itu.

Kata Dr. Elisa Lottor, penyebab dari turunnya daya ingat atau lupa ini adalah dikarenakan fungsi dari otak sangat bergantung kepada neurotransmitter, yang bekerja seperti pengantar pesan di otak. Kalau otak tidak punya neurotransmitter yang cukup, atau kekurangan nutrisi pembentuknya, maka akan terjadi kekosletan di dalam otak sehingga memory tidak tersimpan baik. Protein adalah salah satu komponen yang dibutuhkan untuk membentuknya.

Khususnya untuk perempuan yang sedang dalam program pengurusan badan dengan mengatasnamakan diet berhati-hatilah karena diet itu bekerja dengan cara membuang protein yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh otak. Sama halnya dengan mangkonsumsi fast-food yang tinggi lemak tapi rendah gizi karena tidak memberikan cukup protein ke badan kita.
Penyakit lupa gampang diderita oleh perempuan dari pada laki-laki, apalagi di zaman sekarang lupa menjadi lebih cepat menyerang perempuan. Salah satunya karena; pada generasi terdahulu, perempuan hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan rumah adalah satu-satunya sentral tempat perempuan bekerja. Namun sekarang ini, seorang Ibu Rumah tangga selain mengurus keluarga juga bekerja di kantor atau menjadi mahasiswi yang juga menjemput anak-anaknya pulang sekolah, berbelanja dan lain-lain. Singkat kata di zaman sekarang ini, seorang perempuan secara tak sadar dituntut untuk melakukan segalanya.

Lain lagi pendapat mamaku tentang penyebab penurunan daya ingat. Mamaku melihatnya dari sisi psikologis. Beliau bilang, daya ingatku yang kacau akhir-akhir ini lebih dikarenakan banyaknya pikirkan yang dipikir sendirian, dan tidak membaginya dengan yang lain, sehingga otak mengalami kekacauan menyusun perintah-perintah dan menjadi tidak fokus terhadap segala sesuatunya. Mungkin nggak ya....?

Thursday, May 01, 2008

Tersesat

Pernah Tersesat? Rasanya ngga enak banget. Bolak-balik mencari arah yang benar.

Beberapa hari lalu aku tersesat mencari Pondok Indah Plaza. Sampainya malah di Pondok Indah Mal. Belum lagi menahan malu karena terlambat. Duh ngakunya 6 tahun tinggal di Jakarta dan suka jalan-jalan, tapi ngga bisa membedakan Pondok Indah Mal dan Pondok Indah Plaza. Terlebih lagi, sok tau pula sehingga nggak bertanya lagi di mana lokasi persisnya.

Lain waktunya aku tersesat di daerah Pondok Bambu mencari rumah sodara sendiri. Berputar-putar di sekitar jalan gading mencari Gading IX. Lupa belokan. Sampai dimarahi sopir taxi "sebenarnya pernah ke sini ngga sih Mba?"

Lain harinya lagi, tersesat di Tebet Timur, mencari rumah saudara juga. Bukan hanya lupa gang yang mana, jalan besarnya sekalian juga nggak tau. Kali ini aku ngaku belum pernah ke daerah yang dicari, jadi ngga dimarahi sopir taxi lagi.

Tapi untungnya dalam ketiga kejadian itu aku ditolong oleh sopir taxi, akhirnya bisa sampai dengan selamat.

Lain halnya lagi, kalau kita tersesat karena ngga tau tujuan mau ke mana. Biasanya aku bukan saja merasa bosan tapi juga menjadi boros. Jalan-jalan ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak akan meninggalkan memori indah yang lama, alias hanya kenyamanan sesaat. Saking ngga jelasnya, hampir saja hari ini aku menjawab "terserah" kepada sopir taxi waktu menanyakan "mau ke mana Mba?"

Membeli barang-barang yang sebebarnya nggak aku perlukan. Bahayanya lagi, rasa ingin memilikinya hilang sekejap saja setelah aku membayar di kasir. Mau membatalkan, gengsi dong.

Nah tersesat yang satu itu jelas bukan dikarenakan aku sudah tau tujuan akhirnya tapi ngga tau mencapainya. Tersesat ini justru dikarenakan aku ngga tau sebenarnya mau ke mana dan mau mencari apa?

Hari-hariku sekarang dipenuhi dengan semua pertanyaan seperti itu. Mau kemana? Mencari apa? Kenapa aku kerja sampai malam setiap hari? Apa yang aku ingin lakukan selanjutnya beberapa tahun ke depan? Apa rencanaku? Apa yang belum aku capai? Apa yang ingin aku miliki selanjutnya? Apa tujuan hidup ku sebenarnya?

Semua pertanyaan itu belum aku temukan jawaban yang memuaskan. Sehingga untuk menjawabnya aku harus berputar-putar.

Hampir ngga ada bedanya juga rasa tersesat karena kehilangan tujuan hidup dengan tersesat karena salah tujuan ke Pondok Indah Plaza. Sama-sama menghabiskan waktu dan biaya.

Tapi berputar-putar mencari tujuan hidup rasanya lebih capek. Mau rasanya beristirahat tapi bagaimana caranya? Mau berhenti mencari, tapi nggak tau mau mulai dari kapan. Mau terus melanjutkan mencari, tapi ngga tau apa yang dicari.

Wednesday, December 19, 2007

It's a game of life my dear


Monday, October 22, 2007

Tempatku Menyembah dan Meminta Pertolongan

Ya Allah,
Tempat aku menyembah dan meminta pertolongan
Dapatkah Kau melihat dianku meredup?
Dari atas sana nampak juga kah aku berjalan meraba di antara ketakutan dan keraguan?
Di mana kah musuh Mu yang sangat Kau benci?
Ke manakah dia? Sebab tak dapat ku menampak tapi kurasakan hadirnya dekat.
Dekat dan menyatu dalam diriku
Dalam setiap tarikan nafas dan dalam setiap lembar pembuluh darahku.
Tahu kah Kau bahwa musuh Mu sudah berada di diriku?
Meniup dian-dian imanku, menjadikannya gelap dan menyesatakanku?
Sedemikian rupakah aku telah memanjakannya sehingga dia senang menjadi diriku?

Ya Allah,
Tempatku menyembah dan meminta pertolongan
Tunjukkan padaku kemana kucari lagi lentera-lentera hati yang telah tercampak
Aku bukan hambaMu yang paham bahasa kitabMu
Tapi sujudku bersimbah air mata ketakutanku pada Mu.
Akankah Kau meninggalkanku?

Ya Allah,
Tempatku mengadu dan meminta pertolongan
Ketika ku pernah berdoa meminta kebahagian untuk dirinya,
Adakah Kau kabulkan dengan menukarkan kebahagianku
Dan memberikannya kepadanya?.
Akankah menjadi milik mereka selamanya atau sementara saja?
Ambillah milikku untuk Kau berikan kepada mereka.
Apakah aku telah menjadi sombong dan semakin tersesat karenanya?

Ya Allah,
Tempatku memohon ampun
Hardiklah aku ketika Kau memanggil tapi tak kuhiraukan.
Jangan biarkan aku berjalan sendiri dengan hati buta.
Keluarkan ia dari diriku, sehingga tak habis dagingku
Membusuk menjadi budaknya.
Jangan jadikan aku, saudara, orang tua dan teman-temanku
musuh Mu

Amin

Sunday, September 23, 2007

Sepuluh Bulan

Sepuluh bulan sudah saya dan dia hidup di dalam periuk nasi yang sama.
Sepuluh bulan saya memperhatikannya sujudnya.
Sujud terlama yang pernah saya lihat di dalam periuk nasi itu.
Sepuluh bulan sudah saya bertanya-tanya adakah saya di dalam setiap sujud yang panjang itu?
Tapi dia tak pernah mendengar pertanyaan saya.
Sepuluh bulan saya berbicara tanpa suara kepadanya.
Sepuluh bulan sudah saya menyimpannya di dalam hati.
Dan selama sepuluh bulan sudah dia tidak pernah menyadari telah menyakiti saya.

Sunday, September 16, 2007

Hari Pertama Yang Menantang

Di bulan puasa tak jarang keimanan dan kualitas berpuasa kita diuji. Oleh karena itu tak dalam bulan yang berharga ini umat Islam akan berlomba-lomba berbuat kebaikan sejalan dengan mempertebal keimanannya.

Kesabaran saya pun sangat diuji sejak hari pertama puasa dimulai.

Bagi yang telah lama mengenal saya akan mengenal sifat saya yang mudah teriritasi oleh peristiwa-peristiwa yang melawan nilai-nilai kebenaran. Pada level tertentu rasa terisitasi itu akan membuncah menjadi kemarahan yang terkadang menghilangkan kendali rasionalitas saya. Inilah yang akan merusak kualitas puasa saya di bulan Ramadhan ini.

Pasalnya adalah sebuah mushola kantor saya yang berukuran mini yang terletak di lantai 23, satu lantai di bawah ruang kerja saya.

Mushola ini membagi dua wilayah laki-laki dan perempuan sesisian. Dibatasi oleh partisi tinggi hingga ke langit-langit, dan kerahasian fisik perempuan di baliknya akan sangat terjaga. Masing-masing wilayah hanya dapat menampung 3 sajadah dalam setiap syafnya yang hanya berjumlah 3 baris baik di wilayah laki-laki maupun perempuan.

Wilayah perempuan cenderung lebih ‘ramai’ dari pada wilayah laki-laki. Selain untuk sholat para perempuan memanfaatkan mushola itu sebagai tepat berdandan selesai sholat, tidur bagi yang mengantuk, membaca majalah bagi yang membolos dari meja kerjanya, curhat, bertukar barang dagangan, mencoba dagangan yang baru dibeli dari bazar, dan tak tanggung-tanggung juga sebagai tempat memerah ASI bagi ibu-ibu muda yang baru memiliki bayi.

Walaupun risi, tapi tak ada yng dapat saya lakukan untuk menguranginya apalagi menghentikannya. Pernah saya mencoba, tapi malah menjadi bumerang yang menhunjam saya dengan tuduhan sebagai pegawai muda yang sok tau, sok dewasa, sok agamis dan bla…bla…bla…

Bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk memulihkan kembali citra mushola itu dengan kesadaran diri sendiri. Catat…dengan kesadaran diri sendiri, sebab semua orang tau kita disuruh untuk berlomba berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya di bulan ini. Pasti mereka tau itu.

Pada hari pertama puasa saya menghabiskan jam istirahat dengan tetap bekerja di meja. Menyelesaikan laporan yang mendekati tengat waktu. Beberapa saat sebelum jam istirahat selesai saya memutuskan untuk turun ke bawah, menuju mushola, menunaikan sholat dzuhur.

Begitu membuka pintu mushola, saya melihat wiyah laki-laki sudah penuh, sebagian malah keluar lagi untuk menunggu sesaat di pantry. Wilayah perempuan ada di samping kanannya, dan saya harus melintasi wilayah laki-laki menuju tempat ke sana.

Saya putuskan untuk berwudhu dulu sebelum menuju tempat sholat. Tempat perempuaan terdengar sepi, tidak seperti biasanya.

Keheranan saya terjawab begitu saya membuka pintu partisi. Ternyata syaf di mushola perempuan penuh. Penuh ditiduri oleh perempuan yang menggunakan telekungnya sebagai selimut. Tak satu sajadahpun tersisa untuk orang lain menunaikan sholat dzuhurnya, tidak juga untuk saya.

Pada saat itu saya rasakan air wudhu tidak cukup sejuk mendinginkan amarah saya terhadap keegoisan itu. Kenapa saya katakan keegoisan? Karena di ruang itu tertulis besar-besar ‘dilarang tidur di mushola’, dan pula hari itu adalah hari PERTAMA berpuasa. Baru hari pertma saja saya sudah dipancing untuk marah. Saya tercenung tidak tau lagi mana yang benar, menyabarkan hati saya sendiri, mengalah untuk pindah ke tempat laki-laki yang sayangnya juga sedang penuhxa atau menegur mereka semua yang sebenarnya cukup jauh lebih tua dari saya.

Akhirnya saya putuskan meminta salah satunya untuk pindah.

Semoga tidak berkelanjut, sebab sekarang saja baru hari ketiga. Berapa banyak lagi kemarahan yang akan merusak kualitas puasa saya?