Thursday, April 13, 2006

Mau Langsung Lulus atau Bagaimana Mbak..?

Masa berlaku SIM A saya sudah berlalu sejak Juni tahun 2004 yang lalu. Salama satu setengah tahun saya merasa tidak perlu memiliki SIM untuk sementara waktu. Dikarenakan transportasi umum di Jepang menjadi andalan utama untuk berkegiatan sehari-hari.

Tapi, sekarang ini saya merasa perlu untuk memperbaharui kembali SIM ini. Mumpung masih punya waktu kosong sambil menunggu panggilan kerja, maka saya sampaikanlah rencana saya ini kepada Ayah. Beliau bilang lebih baik mengambil yang kolektif seperti dulu lagi. Tapi saya ingin mencoba menggunakan cara yang normal. Karena dua kali perpanjangan SIM selalu secara kolektif, sehingga belum pernah memiliki pengalaman bertatap muka dengan bapak-bapak polisi yang sangar-sangar manis itu. Sudah tentu cara normal harganya lebih murah, sesuai dengan kondisi keuangan saya sekarang ini.

Dengan rasa percaya diri yang terkontrol, maka datanglah saya ke POLRES setempat. Disambut senyuman dan sapaan ramah para petugas yang ehem....ganteng-ganteng ternyata. Tahapan pendaftaran, tes buta warna dan tes teori saya lewati dengan sabar, sambil bertanya-tanya dalam hati, apa sih yang membuat harga SIM itu berbeda-beda? Tes teori tidak terlalu sulit, terbukti dari kecepatan saya menjawab dan poin betul yang saya kumpulkan.

”Langsung ke lapangan untuk tes praktek ya Mbak...” Kata salah satu petugas pengawas ujian.

Dengan patuh pun saya menuju lapangan yang dimaksud, yang berlebar 4m dan panjang sekitar 15 meter. Lapangan tersebut sudah dipasangi pasak, serta disiapkan pula satu tanjakan artifisal yang hmmmnnn...lumayan tinggi juga. Pasak yang dipasang mengapit rapat mobil yang tersedia..persis seperti di tempat parkir. Hanya ukurannya sempit sekali, cukup sulit bagi saya menemukan kondisi jalan atau parkiran mobil yang sesempit itu. Untung kepercayaan diri saya sudah cukup terkontrol sehingga hati ini tidak menciut seketika. Saya sudah cukup siap apabila Pak Polisi ganteng itu berkata ”Tidak lulus...”

Pak polisi ini yang menyambut saya dengan senyuman yang super ramah. Menerima berkas saya dan membacanya. Lalu bertanya,

”Mau langsung lulus atau bagaimana Mbak?”
Glek......ini dia. Yang ini diluar dugaan saya. Walaupun selama ini saya jago bernegosiasi, tapi untuk yang satu ini tidak ada jaminan sama sekali......petugas kepolisian lho....salah jawab jangan-jangan SIM tinggal impian.

Kalau mau langsung lulus saya disuruh menghadap petugas nun jauh di sana yang sedang duduk menanti sambil tersenyum ke arah saya. Saya juga akan dimintai biaya tambahan sebesar lima puluh ribu rupiah.

”Saya mau prosedur yang normal Pak..” Senyum sang Bapakpun pudar.

Tapi bukan berarti tes itu saya ikuti secara gratis lho. Saya harus membayar dua puluh ribu Rupiah untuk sewa mobil. Kontan saya tertawa, membayar sewa mobil untuk tes praktek. Tesnya saja tidak sampai 10 menit. Mobilnyapun bukan punya kepolisisan melainkan milik pribadi. Sementara saya tidak membawa mobil sendiri...ingat,...SIM saya sudah mati dua tahun lalu, jadi mana mungkin saya bawa mobil sendiri. Belum lagi tidak adanya kwitansi sebagai bukti pembayaran.

Tes berjalan ditanjakan dan mundur melalui pasak sempit itu saya lewati dengan sukses. Tapi pasti tidak semudah itu. Petugas yang menyertai mengatakan, ”Salah....kopling dan rem kalau mundur menurun gak usah diinjak...ulang lagi.” Dalam hati..iya juga ya. Tapi tanpa menginjak rem rasanya saya tidak pede melewat pasak sempit itu. Namun saya ikuti juga perintahnya. Tanpa rem saya mundur dari tanjakan, dan hasilnya saya sukses menambarak pasak yang disusun berjajar.

Lalu senyum Pak Polisi mengembang....Saya pun pasrah.

Saya disuruh datang lagi satu minggu kemudian. Harus bayar lagi dua puluh ribu sampai dinyatakan lulus. Kalau dikalkulasikan bisa besar sekali biaya yang harus dikeluarkan. Lalu saya tanyakan cara cepatnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, saya hanya mengeluarkan lima puluh ribu, tanpa tes dan langsung dapat melanjutkan ke sesi pengambilan sidik jari dan foto.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya setujui dengan penyesalan kenapa saya tidak bisa lulus dengan cara normal itu?

Tapi sang Bapak malah menambahkan ”Sopir bus Lorena saja gagal di tes praktek lho Mbak.”

Mudah-mudahan kegagalan saya mendapatkan SIM ini hanya karena kebodohan saya semata dalam mengemudi.

No comments: