Friday, January 27, 2006

Kartini - Kartini Tanpa Tanda Jasa


Ini satu lagi cerita tentang kartini-kartini muda kita yang rela bekerja jauh dari keluarga untuk menjadi TKW. Boleh dikata mereka menjadi pahlawan tanpa tanda jasa diera reformasi. Karena para guru sekarang sudah nyaring menuntut hak-hak mereka. Mudah-mudahan para TKW ini nantinya juga bersuara keras menuntut hak mereka setelah memberikan sekian banyak sumbangan untuk pembangunan di negara kita yang bernama Indoensia ini. Baiklah, ini adalah hasil pengamatan dan hitung-hitungan kontribusi TKW.

Sebenarnya apa saja keuntungan yang didapat oleh negara penerima dan negara pengirim TKW?

Pertama, Forex atau foreign exchange, gampangnya lagi…tukar nilai mata uang. Aktifitas ini yang paling dibanggakan pihak pengirim TKW dalam arti Indonesia karena nilai kontribusinya secara matematis akan sangat besar. Misalnya ambil contoh, kalau salah satu kenalan bekerja di Singapura. Jelas gajinya Singapore Dollar (SGD). Tapi jarang sekali bank di Indonesia yang punya fasilitas tabungan SGD, kecuali bank Singapore. Sementara bank penampung kiriman TKW pastilah bank pemerintah, yang cuma menyediakan tabungan dalam mata uang USD atau Rupiah. Rata-rata TKW memiliki tabungan Rupiah. Uang SGD yang dikirimkan ke Indonesia tidak bisa langsung dimasukkan ke rekening, harus ditukarkan ke Rupiah (IDR) dulu. Nah kalau ditukar di gerai penukaran mata uang asing untung yang diambil cuma sekitar 10 sampai 25 Rupiah. Sementar nilai tukar di Bank sangat mahal, Bank akan mengambil selisih sekitar 100 perak. Kalau satu orang mengirimkan sekitar SGD 200, dengan harga dari bank Rp 6000 per SGD (sementara harga SGD terhadap rupiah di pasar mata uang hanya Rp 5,900). Berarti untung yg didapat adalah SGD 200 x 100 = Rp 20,000. Itu baru dari satu orang. Ada sekitar 3 juta TKW yang kerja di luar negeri. Kalo dipukul rata berada di Singapura semua, dan semuanya menukarkan uang sebulan sekali maka untung dari FOREX dalam satu bulan saja untuk Indonesia adalah Rp 60 Milliar.

Kedua, Remittance (money transfer) atau pengiriman uang. Ambil contoh kenalan kita dari kampung A di Jawa Timur bekerja di salah satu negara di Timur Tengah (Mata uang Rial). Teman kita itu tidak akan bisa mengirimkan gajinya dalam bentuk Rial ke Indonesia, karena tidak ada mata uang Rial di bank penerima (Bank A). Maka TKW ini harus menukarkannya ke dalam bentuk USD (sebab IDR tidak bisa ditukar di luar negeri, dan USD adalah mata uang paling umum di dunia). Dengan demikian timur tengah sudah untung dengan FOREX-nya…ditambah dengan komisi pengiriman ke Indonesia yang normalnya seharga USD 25. Ditambah lagi dengan correspondent fee (biaya korespondensi) sekitar USD 20. Itu semua murni masuk kantong negara tempat sang TKW bekerja. Lalu, ketika sampai di Indonesia uang ditukarkan ke IDR secara otomatis, sehingga ada lagi keuntungan FOREX dan incoming fee (biaya uang masuk yang harus dibayar keluaraga TKW yang menerima) bagi bank penerima.


Kedua proses diatas sudah sangat terkenal dimana kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Ini salah satu sebab kenapa pemerintah tetap mendorong berjalannya praktek pengiriman TKW. Belum lagi kalau menghitung semua jumlah TKI yang tersebar.

Tapi masih ada satu proses yang orang tidak begitu mengenalnya. Yaitu Deposito atau simpanan. Uang yang dikirim tidak langsung diterima di Bank kampung A. Uang dari luar negeri masuk ke bank pusat yang ada di kota2 besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Dalam kasus ini ke Surabaya, dan bank pusat tidak akan meneruskan ke kampung dalam hari yang sama. Baru dilakukan keesokan harinya. Kalau datangnya hari jumat maka hari senin baru dilanjutkan. Nah diapakan uang itu selama 3 malam ? Uang itu dibungakan oleh bank dengan cara meminjamkannya ke pihak lain atau mendepositokannya di Bank indonesia (Siapa bilang cuma kita yg boleh berdeposito di bank? Bank pun boleh mendepositokan kasnya ke Bank Indonesia). Deposito satu hari di BI sekitar 10% (SBI interest). Dalam empat bulan Jawa Timur menerima uang masuk dari TKW sebesar IDR 2.5 TRILIUN. Maka bank pusat akan mendapat untung deposito sekitar IDR 2,1 Milyar. Lalu uangnya akan diteruskan ke Bank Kampung (A), dan sama seperti semula…uang tidak langsung dimasukkan ke rekening penerima, tergantung batas waktu operasional bank. Nah berarti mengendap lagi sehari, sehingga ada dua bank di Jawa Timur yang diuntungkan. Kira-kira satu tahunnya kedua bank ini akan dapat untung masing-masing IDR 6.3 milyar. Ingat itu baru satu provinsi, belum provinsi lain.

Semua itu baru keuntungan yang diperoleh lewat hubungan TKW dengan bank. Belum lagi dengan pajak bandara, daya konsumsi mereka ketika pulang, ongkos calo bagi yang ilegal, dan setiap pekerja dikenakan pajak USD15 untuk PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Nah…secara ekonomi cukup besar jasa mereka. Tapi siapa yang menjamin keselamatan dan kesejahteraan mereka di negara seberang. Bagi teman-teman APU yang berniat punya bisnis, mudah-mudahan sukses dan bisa menampung mereka, supaya tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW.

Itu saja sumbangan cerita dari saya kalau ada lagi dan tidak bosan membacanya, dengan senang hati akan dikirim.

Lenny Aslim
Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University
(Beppu, Januari 2005)

No comments: