Friday, January 27, 2006

Sedikit Tentang Distribusi Kapital

Satu tahun kuliah di sini memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Terutama saat menghadiri kelas seminar tesis. Bahasan tesis saya tak jauh dari dunia pertelevisian dan fungsinya dalam pendidikan di Indonesia. Di semester pertama, saya masih kebingungan dengan teori untuk berpegang. Jujur saja saat itu belum banyak teori yang saya ketahui. Hingga akhirnya mulailah saya mempelajari teori-teori sosial yang dikeluarkan oleh Ivan Illich dan Adorno, serta beberapa nama lain. Karena sebelumnya saya hanya terfokus pada karya Karl Marx semata. Intinya Marx mengatakan bahwa masyarakat berkembang melalui pertumbuhan yang bertingkat dengan struktur ekonomi yang berbeda-beda. Struktur ekonomi yang ada di masyarakat ini yang kemudian melahirkan istilah dua konsep. Yaitu sosialisme dan kapitalisme. Konsep kapitalisme ini tidak pernah ada sebelumnya sampai Marx menemukannya.
Belakangan, saya menemukan satu nama yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Yaitu Pierre Bourdieu. Pierre Bourdieu (1930-2002) adalah seorang sosiolog asal Perancis yang terkenal dengan teori Cultural Reproduction (Reproduksi Kultural) dan Habitus. Ide-ide dan argumentasinya banyak dipakai sebagai fondasi ilmu sosial. Karya-karyanya tidak sebatas sosiologi, tapi juga antropologi, kultural dan pendidikan. Lalu bagaimanakah reproduksi kultural yang dimaksudkan oleh Bourdieu?

Bourdieu mengatakan distribusi kapital di masyarakat mempengaruhi kelas dan stratifikasi sosial. Dalam masyarakat kapitalis, golongan yang memiliki kapital mempunyai kemampuan untuk memproduksi ideologi dan kultur yang baru. Lebih mudahnya, golongan masyarkat ekonomi atas cenderung menguasai golongan ekonomi yang lebih rendah, baik dari segi ideology maupun kultural dengan pemanfaatan ekonomi. Sementara golongan ekonomi lebih rendah hanya bisa mengikuti sistem kekuasaan yang telah terjaring ini. Bourdieu membagi tingkatan sosial ke dalam tiga golongan. Yaitu:
  1. Golongan rendah, yang didominasi oleh golongan petani, pedagang kecil atau buruh.
  2. Golongan berkultur tinggi, adalah golongan menengah. Misalnya para pemimpin atau karyawan industri manufakturing, dan para pegawai kantoran.
  3. Golongan tinggi, yang didominasi oleh para profesional.

Lewat penelitiannya ia mengemukakan bahwa sistem pendidikan mempunyai fungsi legitimasi yang kemudian mengakar menjadi tuntutan sosial, sebagai bentuk evolusi dari kekuatan yang ada di dalam kelas-kelas sosial. Distibusi kapital dalam sistem pendidikan berlanjut kepada pola konsumsi masyarakat yang memdominasinya. Misalnya, masyarakat di masing-masing tingkatan akan memilih institusi pendidikan yang berbeda. Masyarakat dalam institusi tersebut mempunyai pola konsumsi yang terpolarisasikan pula. Misalnya, golongan tinggi berpersentase besar dalam hal membaca buku impor berbahasa asing ataupun terjemahannya, mengunjungi teater, museum atau perpustakaan. Sementara walaupun golongan rendah mempunyai persentase yang lebih kecil dalam pola konsumsi tersebut tapi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Karena mereka telah terbawa dalam jaringan kapital ini. Begitu seterusnya sistem ini berlanjut generasi demi generasi sehingga terbentuklah Habitus, yaitu suatu proses evolusi kultur yang tidak disadari, namun disadari hasil perubahannya. Sampailah argumentasi Bourdieu pada peranan media massa khususnya televisi dalam pembentukan kultur. Yaitu, para pemegang kapital menguasai kehidupan sosial lewat penguasaan industri media sehingga terjadi proses penyebaran kultur-kultur baru. Tidak ada pilihan bagi masyarakat dalam tingkatan ekonomi rendah selain mengikutinya. Demikianlah distribusi kapital saling mempengaruhi bersamaan dengan membentuk tingakatan sosial.


Dalam pemikiran saya, hampir tidak ada bedanya dengan teori-teori yang dikeluarkan Ivan Illich dan Adorno. Ivan Illich dalam tulisannya Deschooling Society (1970) juga mengungkapkan adanya jurang pemisah dalam masyarakat dikarenakan sistem pendidikan. Jelas dikatakannya bahwa sistem pendidikan yang ada hanyalah tersedia bagi kaum kapitalis yang mendominasi. Sementara masyarakat ekonomi rendah menjadi termarjinalkan dengan memilih sistem pendidikan yang terjangkau bagi mereka namun terkadang dengan kualitas dan kuantitas yang rendah pula. Menariknya, Ivan Illich mengungkapkan gedung sekolah maupun ijazah adalah komponen pembetuk stratifikasi sosial. Hingga keluarlah ide network society, yaitu pembelajaran lewat jaringan. Yang dimulai dengan jaringan terkecil yaitu keluarga, kemudian dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi dalam masyarakat. Sehingga pengaruh kapital dalam pembentukan stratifikasi sosial lewat pendidikan dapat ditekan. Illich juga mengatakan, ilmu pengetahuan dan moral bisa didapatkan dari kehidupan sekitar, sehingga tidak diperlukan satu gedung yang bernama sekolah untuk berkumpul. Karena gedung itu akan menjadi simbol kapitalisme yang mengaburkan makna pendidikan itu sendiri.

Adorno (Cultural Industry, 1944) pun mengkritik industri media karena penguasaan kapitalnya telah menciptakan keseragaman kultur. Keseragaman kultur yang diciptakan untuk kepentingan kapitalisme, sehingga timbul pola-pola konsumsi yang baru.


Lalu saya berkesimpulan, bahwa sedikit banyak Bourdieu, Illich dan Adorno mengadopsi teori Das Kapital milik Karl Marx. Hanya saja mereka tidak seekstrim Marx. Marx mengungkapkan terjadinya tingkatan sosial karena kapital hanya menciptakan kemiskinan kelas pekerja dan pada dasarnya masyarakat dimanfaatkan oleh kapital lewat para kapitalis, hingga lahirlah konsep kapitalisme yang harus digulingkan melalui suatu revolusi yang dipimpin kelas pekerja.

Lenny Aslim

(Artikel untuk "APU-Ina" Ritsumeikan Asia Pacific University)

1 comment:

Anonymous said...

Das Kapital, beritahu aku cara membaca buku satu ini. Tebal sekali...