Abadi....begitulah saya namakan teratak ini. Bukan untuk dipamerkan, melainkan hanya sebagai tempat menyimpan kenang-kenangan hidup yang selalu saya syukuri. Abadi....menjadi tempat untuk mengingatkan saya akan rasa dan fikiran yang mungkin menghilang seiring waktu berjalan. Abadi...menjadi tugasnya mengabadikan cerita perjalanan hidup yang tidak untuk dibanggakan melainkan untuk diingat oleh saya sendiri.
Monday, May 23, 2016
JAM PASIR
Detik waktu laju berlari
Gurat gurat muncul menyerabut
Bibir berusaha bijaksana
Tapi hati terasa membatu
Jalan pulang kepada Mu semakin terang
Namun lampu kota masih menyilaukan
Hatiku masih silau dengan neon neon itu
Sementara waktuku tidak lagi sedikit
Bagaimana caranya membedakan bisikanMu?
Mengapa aku masih tak bisa mengenali suara Mu?
Mengapa di telingaku suara Mu masih terdengar sayup sayup?
Aku pusing dengan suara para perayu yang membujuk tak memberi ku masa tuk bernapas
Tuhan... dengan guratan yg menyerabut ini aku masih tidak mampu membedakan suara Mu diantara suara suara setan.
Sementara pasir di jam Mu semakin cepat turun berkurang...
Takkan bisa dibalik lagi...
Selamatkan aku...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment