Sejatinya selalu menemaniku. Aku tak pernah mengatakannya... tapi aku yakin kau tau aku sangat menyayangimu.
Bagaimana tidak... kau selalu menemaniku setiap masa senang, susah maupun sedih.
Masa itu.. cukup lama berlalu.
Masih ingat waktu kita berangkat pagi-pagi ke kantorku?... di tengah kemacetan aku paksa kau minggir. Menepi sejenak. Hanya untuk menemaniku menumpahkan air mata. Membuang semua yg rasanya berat sekali di dada dan di pundakku.
Radiomu selalu menemaniku dengan nasehat-nasehat religius... sehingga kau tak payah membujukku tenang. Aku bisa tenang sendiri mendengar suara sejuk di radiomu.
Masih ingat waktu aku pelan-pelan melewati rel kereta api?
Kau mungkin cemas aku akan tiba-tiba menyuruhmu berhenti lagi, tapi kali ini di tengah rel.
Ah... waktu itu, rasanya telingaku pekak dengan seruan malaikat dan setan bersahutan. Memang betul... ingin sekali aku menyuruhmu berhenti di tengah rel itu... dan menunggu kereta lewat.
Tapi tidak... tidak pernah kulakukan... kita lewati sedikit rel itu... lalu kau berhenti membiarkanku menangis sejadi-jadinya.
Masih ingatkah kau... hampir tiap malam kita begitu. Hampir setiap malam kita menepi.. dan kau menungguku tenang lagi. Lalu kau antar aku pulang....
Aku menyadari kau semakin tua... tapi aku tak mau berpisah denganmu... banyak cerita yang hanya kita berdua yang tau...
Dulu...kita sering bertiga bersama dia. Sejak dia tak ada... hanya ada kita berdua.
Aku mungkin tak pandai menjagamu disaat kau kelelahan... tapi percayalah, aku lakukan apa yang ku mampu untuk menjagamu.
Karena aku memerlukan mu untuk bersandar.
Aku tak bisa memperlihatkan kelemahankan di depan King dan Queen.
Hanya senyuman yang aku harus bawa untuk mereka...
Maka kau lah teman terbaik tempatku mengadu segalanya kepada Tuhanku saat itu.
Aku tak mau dinding rumahku mendengar isakku, atau melihat mata bengkakku... padahal sudah kita sembunyikan di tengah malam.
Temanilah aku sampai habis mampumu... begitu banyak cerita kita berdua. Biarkan aku mengeluh, menangis dan tertidur di pelukanmu.
Kalau ada cerita pahit lagi, tetaplah menjadi temanku...
Walau tengah malam kau kupaksa berhenti dipinggir jalan yang gelap lagi...
No comments:
Post a Comment