Sunday, September 16, 2007

Hari Pertama Yang Menantang

Di bulan puasa tak jarang keimanan dan kualitas berpuasa kita diuji. Oleh karena itu tak dalam bulan yang berharga ini umat Islam akan berlomba-lomba berbuat kebaikan sejalan dengan mempertebal keimanannya.

Kesabaran saya pun sangat diuji sejak hari pertama puasa dimulai.

Bagi yang telah lama mengenal saya akan mengenal sifat saya yang mudah teriritasi oleh peristiwa-peristiwa yang melawan nilai-nilai kebenaran. Pada level tertentu rasa terisitasi itu akan membuncah menjadi kemarahan yang terkadang menghilangkan kendali rasionalitas saya. Inilah yang akan merusak kualitas puasa saya di bulan Ramadhan ini.

Pasalnya adalah sebuah mushola kantor saya yang berukuran mini yang terletak di lantai 23, satu lantai di bawah ruang kerja saya.

Mushola ini membagi dua wilayah laki-laki dan perempuan sesisian. Dibatasi oleh partisi tinggi hingga ke langit-langit, dan kerahasian fisik perempuan di baliknya akan sangat terjaga. Masing-masing wilayah hanya dapat menampung 3 sajadah dalam setiap syafnya yang hanya berjumlah 3 baris baik di wilayah laki-laki maupun perempuan.

Wilayah perempuan cenderung lebih ‘ramai’ dari pada wilayah laki-laki. Selain untuk sholat para perempuan memanfaatkan mushola itu sebagai tepat berdandan selesai sholat, tidur bagi yang mengantuk, membaca majalah bagi yang membolos dari meja kerjanya, curhat, bertukar barang dagangan, mencoba dagangan yang baru dibeli dari bazar, dan tak tanggung-tanggung juga sebagai tempat memerah ASI bagi ibu-ibu muda yang baru memiliki bayi.

Walaupun risi, tapi tak ada yng dapat saya lakukan untuk menguranginya apalagi menghentikannya. Pernah saya mencoba, tapi malah menjadi bumerang yang menhunjam saya dengan tuduhan sebagai pegawai muda yang sok tau, sok dewasa, sok agamis dan bla…bla…bla…

Bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk memulihkan kembali citra mushola itu dengan kesadaran diri sendiri. Catat…dengan kesadaran diri sendiri, sebab semua orang tau kita disuruh untuk berlomba berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya di bulan ini. Pasti mereka tau itu.

Pada hari pertama puasa saya menghabiskan jam istirahat dengan tetap bekerja di meja. Menyelesaikan laporan yang mendekati tengat waktu. Beberapa saat sebelum jam istirahat selesai saya memutuskan untuk turun ke bawah, menuju mushola, menunaikan sholat dzuhur.

Begitu membuka pintu mushola, saya melihat wiyah laki-laki sudah penuh, sebagian malah keluar lagi untuk menunggu sesaat di pantry. Wilayah perempuan ada di samping kanannya, dan saya harus melintasi wilayah laki-laki menuju tempat ke sana.

Saya putuskan untuk berwudhu dulu sebelum menuju tempat sholat. Tempat perempuaan terdengar sepi, tidak seperti biasanya.

Keheranan saya terjawab begitu saya membuka pintu partisi. Ternyata syaf di mushola perempuan penuh. Penuh ditiduri oleh perempuan yang menggunakan telekungnya sebagai selimut. Tak satu sajadahpun tersisa untuk orang lain menunaikan sholat dzuhurnya, tidak juga untuk saya.

Pada saat itu saya rasakan air wudhu tidak cukup sejuk mendinginkan amarah saya terhadap keegoisan itu. Kenapa saya katakan keegoisan? Karena di ruang itu tertulis besar-besar ‘dilarang tidur di mushola’, dan pula hari itu adalah hari PERTAMA berpuasa. Baru hari pertma saja saya sudah dipancing untuk marah. Saya tercenung tidak tau lagi mana yang benar, menyabarkan hati saya sendiri, mengalah untuk pindah ke tempat laki-laki yang sayangnya juga sedang penuhxa atau menegur mereka semua yang sebenarnya cukup jauh lebih tua dari saya.

Akhirnya saya putuskan meminta salah satunya untuk pindah.

Semoga tidak berkelanjut, sebab sekarang saja baru hari ketiga. Berapa banyak lagi kemarahan yang akan merusak kualitas puasa saya?

No comments: