Tuesday, January 09, 2007

Fenomena Ramalan

Halo teman-teman sekalian. Sudah lama sekali ya saya tidak mengirimkan tulisan ringan. Kalau mau dikata sedang sibuk sekali, sebenarnya sama sekali tidak. Malahan saya sudah terserang hawa kebosanan akibat dari banyak waktu senggang yang saya miliki sekarang ini. Walaupun sekarang saya bekerja di sebuah perusahaan Jepang, tapi kehidupan kantor yang sangat teratur di sini membuat saya sedikit kaget karena perbedaannya dengan kebiasaan saya dua tahun lepas. Mungkin dua tahun menjadi mahasiswa lagi membawa petualangan lain termasuk mengisi dan memanfaatkan waktu 24 jam sehari yang ternyata sangat pendek untuk mengerjakan satu saja tugas kuliah. Di Jakarta ini, selepas pulang bekerja saya masih sibuk mencari hal-hal yang dapat saya kerjakan.

Tapi kalau memang tidak sibuk, kenapa satu tulisan saja tidak dapat dihasilkan walau untuk yang paling ringan sekalipun. Ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan waktu yang saya miliki, melainkan semangat yang menurun alias malas. Malas berpikir dan malas memandangi layar lap top ini. Tapi tetap jengah jika waktu saya terbunuh sia-sia.

Seharunya di tahun baru ini, saya punya semangat baru lagi. Udara baru yang lebih segar seharusnya dapat saya pompakan ke otak yang mulai membeku ini.

Perlu beberapa peristiwa untuk membangunkan saya. Bencana tenggelamnya Kapal Senopati Nusantara, Jemaah haji yang kelaparan di Padang Arafah dan tanggal 1 di tahun 2007 yang tak kalah menggemparkan – raibnya pesawat Adam Air.

Runtutan bencana dan kecelakaan yang terjadi sudah menjadi penghias kalender tahun-tahun lalu. Mungkin akan menjadi prestasi tersendiri jika di penutup tahun 2007 nanti tidak satu pun bencana maupun kecelakaan yang menimpa Indonesia.

Hmnn….tapi bukan seperti itu yang diramalkan.

Yang menarik perhatian saya sekarang ini, bukanlah fenomena kecelakaan dan bencana yang beruntun tersebut, melainkan fenomena ramalan ini. Bagaimana tidak. Tepat satu hari sebelum tutup tahun, acara televisi dipenuhi oleh paranormal yang meramalkan apa yang akan terjadi di Indonesia pada 2007 ini.

Banyak yang mempercayai karena beberapa dari ramalan tersebut benar terjadi di tahun 2006. Di tahun yang sama ada satu pesohor politik malah pernah mengatakan gunung merapi meletus sebagai ekspresi kemarahan Nyi Roro Kidul pada aksi penolakan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Katanya marah karena adanya larangan pakai kemben…tidak tau serius atau sebaliknya.

Kesuksesan tebakan mereka ditahun 2006 menciptakan popularitas tersendiri sehingga para paranormal tersebut dimintai kembali pendapatnya tentang apa yang akan terjadi ditahun selanjutnya. Sama seperti yang lalu, tahun ini juga akan dipenuhi oleh bencana dan kecelakaan setidaknya sampai dengan pertengahan tahun. Saya tidak tahu persis berapa banyak artis yang akan mangkat (tahun lalu juga ada yang meramalkan jumlah artis yang meninggal karena narkoba). Ada juga yang menyebutkan pulau Jawa akan terbelah. Dan sebagainya.

Apakah saya mempercainya? Ramalan yang sekedar ramalan tanpa penjelasan ilmiah tidak akan saya percayai. Sebab hanya membuat tabuangan dosa saya bertambah. Takut musyrik.

Lain halnya dengan seorang teman saya yang berkata

“Tapi kan persentase terjadinya lebih besar dari pada yang tidak.”

Yang saya sayangkan beberapa teman-teman ini menelan bulat-bulat ramalan yang disampaikan tanpa menggunakan pikirannya untuk memilah dan mencerna informasi yang masuk ke telinganya atau terbaca oleh matanya.

Padahal kalau disimak lagi, ramalan yang ramai sekarang ini bukanlah ramalan masa depan. Melainkan rotasi sejarah yang berposisi kembali di titik temu. Gelombang panas yang diramalkan akan terjadi ditahun 2007 adalah pengulangan dari yang terjadi pada 1983. Meletusnya gunung berapi juga tergantung pada usia gunung tersebut dan aktifitas kawahnya. Kalau pemerintah kita rajin berhasil menghimbau para ilmuwan kita yang berserakan di luar negeri mungkin akan terpecahkan misteri-misteri kapan saja kepundan-kepundan itu siap memuntahkan lava panasnya.

Tentang gempa dan tsunami yang mengalahkan tsunami Aceh bukan juga ramalan aneh. Jauh sebelum TV sibuk menayangkan ramalan ini, saya sudah tau. Kakak saya satu-satunya ditugaskan ke Bangladesh guna mempersiapkan masyarakatnya menghadapi bencana alam yang tidak kalah besarnya dari Tsunami Aceh. Tidak sedikit ilmuwan yang tengah mempelajari gejala alam yang menunjukkan pergerakan lempengan beberapa patahan di permukaan bumi. Kapan semua itu akan terjadi tidak ada yang tau pasti. Karena memang bukan bencananya yang penting, toh tidak bisa terelakkan lagi. Yang penting adalah antisipasi dan tindakan untuk menghadapinya. Malah peristiwa Krakatao yang kedua bisa terjadi juga. Mau yang ilmiah? Baca Krakatao karya Simon Winchester.

Terbelahnya Jawa menjadi dua? Mungkin sekali. Toh setelah kopong dengan luapan Lumpur panas juga dipengaruhi oleh pergesaran lempengan tadi. Mau tau bagaimana terjadinya? Tanya kan pada para ilmuawan ITS dan ITB, mereka bisa menjelaskan kemungkinan-kemungkinan itu.

Akan terjadi banjir besar di Jakarta, lebih besar dari 2002. Bukankah memang seharusnya banjir itu terjadi di Jakarta? Lebih besar lagi malah. Mungkin sekali terjadi. Lihat saja tingkah polah masyarakatnya yang tidak perduli dengan lingkungan. Pemerintah saja malah menginstruksikan penggundulan taman kota. Buktinya jalan Thamrin sudah tidak ada jalur hijau lagi. Hello….Jakarta sudah tidak butuh pohon. Jangankan saluran air kota, masih banyak perumahan yang tidak punya selokan. Pemerintah mengeluh kehabisan dana untuk mengemasi semuanya. Sehingga muncullah satu kemalasan global. Kalau ada paranormal yang bisa meramalkan Jakarta selama 20 tahun kedepan tidak akan terkena banjir di musim hujan walaupun dengan kondisi yang sama…..baru saya akan mininjau kembali pemikiran saya selama ini.

Tentang adanya artis dan pesohor yang meninggal di tahun mendatang? Apakah lantaran kita bukan artis dan pesohor lantas kita tidak perlu takut tahun depan akan meninggal? Hebat sekali….Hmnn…jangan-jangan para pesohor itu adalah para paranormal itu sendiri. Bukankah mereka juga sudah menjadi pesohor..hehehe…Intinya, semua manusia akan meninggal toh?
Apakah ramalan tersebut suatu kehebatan mistis? Menurut saya Tidak. Banyak yang bisa melakukannya. Saya telah melakukannya berkali-kali. Banyak membaca berita, cari informasi yang tengah terjadi dan pelajari polah manusianya sampai akhirnya saya bisa bilang “Jempol kaki gw juga tau sejak kapan taun…”

Tapi kalau masalah umur…Sebelum paranormal itu meramalkan hari berpulang saya, saya akan menanyakan hari meninggal mereka sendiri.

Lucunya, masyarakat kita ini tidak mempermasalahkan kalau tebakan itu melenceng. Paling berkilah “Ah namanya juga ramalan, nggak ada kepastian..”. Sementara kalau tebakan itu kebetulan tepat kehebatan paranormal itupun diiklankan kemana-mana.

Seperti yang saya sebutkan tadi. Bukan fenomena bencana alamnya yang menggentarkan saya, tetapi fenomena yang membius masyarakat Indonesia untuk mendekatkan diri kepada hal-hal mistik dan klenik. Dari pada mendengarkan ramalan sekedar hiburan, lebih baik mempersiapkan diri untuk semua situasi. Selagi kita masih percaya Tuhan, pasti kita juga percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kalau Tuhan memang menghendaki demikian.

Sebagai muslim, saya ngeri membayangkan ibadah saya tidak diterima karena mempercayai ramalan dan perdukunan.


(Lenny ASLIM: untuk APUIna)

No comments: