<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895</id><updated>2011-04-22T07:42:55.801+09:00</updated><title type='text'>ABADI</title><subtitle type='html'>Abadi....begitulah saya namakan teratak ini. Bukan untuk dipamerkan, melainkan hanya sebagai tempat menyimpan kenang-kenangan hidup yang selalu saya syukuri. Abadi....menjadi tempat untuk mengingatkan saya akan rasa dan fikiran yang mungkin menghilang seiring waktu berjalan. Abadi...menjadi tugasnya mengabadikan cerita perjalanan hidup yang tidak untuk dibanggakan melainkan untuk diingat oleh saya sendiri.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-5445337595545362431</id><published>2008-05-25T02:07:00.001+09:00</published><updated>2008-05-25T02:37:57.583+09:00</updated><title type='text'>I D O L A</title><content type='html'>Aku mengidolakan Sofyan Dawood, sang panglima GAM. Aku mengaguminya sejak namanya disebut-sebut di tengah perjuangan Aceh memperoleh otonominya. Aku anggap semua orang tau laki-laki yang kumaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku melihat laki-laki ini sebagai &lt;em&gt;Hero&lt;/em&gt;....pahlawan yang nyata. Pahlawan yang berjuang demi memerdekakan haknya...hak teman-temannya dan hak-hak orang lain yang terampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku melihat, laki-laki ini sebagai pahlawan yang berjuang dengan senjata, persis seperti &lt;em&gt;super heros&lt;/em&gt; yang ada di film-film Hollywood dan Bollywood....hehehe.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih lagi...mataku melihat kepahlawanannya semakin tidak ada bedanya dengan yang di film-film Amerika dan India....karena dia juga ganteng dan tinggi......Sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dengan pedenya aku tulis "Sofyan Dawood" dalam barisan &lt;em&gt;Who I Want to Meet &lt;/em&gt;di &lt;em&gt;Friendster&lt;/em&gt;-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anyway&lt;/em&gt;....bukan Sofyan Dawoodnya yang aku permasalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu orang lelaki di dekatku....ternyata sedikit terganggu dengan Sofyan Dawood ini. Berhubung (menurut gosip) dia menyimpan rasa suka kepadaku...dia agak sedikit ngga pede dengan idolaku ini. Seolah-olah aku hanya menyukai laki-laki yang harus persis sama dengan Sofyan Dawood. Padahal....Sofyan Dawood kan cuma aku kenal di koran-koran. Satu kali aku pernah mendengar dia bercakap-cakap hanyalah dalam acara Kick Andy. Itupun aku tonton dari TV. Jadi....mana mungkin pula aku menjadikan Sofyan Dawood parameter untuk laki-laki yang aku sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada laki-laki di dekatku yang menyimpan rasa......janganlah merubah diri menjadi Sofyan Dawood...karena kamu ngga akan pernah bisa seperti dia. Maka jadilah dirimu sendiri...karena mana tau aku menemukan keunikanmu...yang justru melebih idolaku ini. Sehingga nama Sofyan Dawood bisa cepat-cepat aku hapus dari &lt;em&gt;Friendster&lt;/em&gt;ku dan kuganti dengan namamu mungkin?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-5445337595545362431?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/5445337595545362431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=5445337595545362431&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5445337595545362431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5445337595545362431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2008/05/i-d-o-l.html' title='I D O L A'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-9059513614479190248</id><published>2008-05-03T23:16:00.000+09:00</published><updated>2008-05-03T23:37:34.546+09:00</updated><title type='text'>L U P A</title><content type='html'>Sejak dulu, aku gampang lupa atau gampang melupakan sesuatu. Lebih tepatnya gampang melupakan sesuatu karena malas mengingat dengan serius. Makanya aku paling sering nyasar. Kalau nyetir selalu salah jalan dan ragu belokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang-barang kecil yang seharusnya selalu melengkapiku juga tak luput dari kelupaan. Lupa pakai jam tangan lah. Lupa HP atau dompet karena ketingalan di rumah atau laci kantor lah. Untung aku tingal dekat sekali dengan kantor jadi ngga memerlukan ongkos untuk pulang dan pergi kerja. Belum lagi lupa membelikan titipan barang kalau ke supermarket atau toko buku padahal sudah bawa catatan. Lupa bayar kos, lupa bayar arisan sampai ditagih. Lupa bayar uang langganan majalah Tempo sampai orangnya mesti bolak balik ke kantor mencari. Begitu security menyampaikan lewat telpon “Tukang majalah lagi nungguin mba”, aku langsung menjawab “Iya, segera…” tapi ngga kunjung muncul. Satu jam kemudian baru ingat kalau ada yang sedang menungguku. Sudah terjadi tiga kali nih. Bulan lalu, aku hampir melupakan ulang tahun kakakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor penyebab yang menambah daftar lupaku akhir-akhir ini (bukan maksud bela diri ya ) yaitu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa bawa HP karena aku sebenarnya kurang suka pakai HP. Dalam satu hari belum tentu aku menggunakannya kecuali untuk alarm. Pas makan siang malas aku bawa-bawa HP karena biasanya ada saja orang telpon urusan kerjaan. Bikin pendek acara makan siangku. Kalau pagi-pagi ada yang telpon palingan cuma mau kasih kabar “Mba Lenny, aku hari ini ngga bisa masuk kerja karena sakit….” dari adik-adik di departemenku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa jam tangan mungkin dikarenakan aku tidak begitu suka memakai perhiasan. Satu-satunya perhiasan yang aku pakai hanyalah anting panjang yang harganya super murah. Jam tangan ini juga punya mama, karena aku merasa ngga perlu beli dan mama masih punya dua jam tangan lagi yang nganggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat ulang tahun kakakku sama saja dengan mengingat usiaku sendiri karena kami cuma beda satu tahun. Mengingat usiaku adalah hal yang aku hindari akhir-akhir ini. Rasanya menakutkan juga segera menjadi 31 tapi masih single…hehehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But anyway, hal-hal yang seharusnya tidak boleh lupa malah aku lupakan. Seperti; lupa mendaftarkan transaksi derivative, sehingga membuat satu kericuhan di kantor. Atau lupa mengecek credit rating customer sampai dapat terguran dari bosku. Dan lupa juga mengecek credit outstanding dan lupa request SBLC sehingga membuat LLL minus. Hmmmhhh, lupa yang terakhir ini membuat kinerjaku drop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata satu temanku, “Lupa itu bahaya lho, ntar kalau dah merit lupa lagi udah punya suami….”. Walaupun kedengarannya hiperbola….tapi mungkin saja bisa menjadi seektrim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Dr. Elisa Lottor, penyebab dari turunnya daya ingat atau lupa ini adalah dikarenakan fungsi dari otak sangat bergantung kepada &lt;em&gt;neurotransmitter&lt;/em&gt;, yang bekerja seperti pengantar pesan di otak. Kalau otak tidak punya &lt;em&gt;neurotransmitter&lt;/em&gt; yang cukup, atau kekurangan nutrisi pembentuknya, maka akan terjadi kekosletan di dalam otak sehingga memory tidak tersimpan baik. Protein adalah salah satu komponen yang dibutuhkan untuk membentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khususnya untuk perempuan yang sedang dalam program pengurusan badan dengan mengatasnamakan diet berhati-hatilah karena diet itu bekerja dengan cara membuang protein yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh otak. Sama halnya dengan mangkonsumsi &lt;em&gt;fast-food&lt;/em&gt; yang tinggi lemak tapi rendah gizi karena tidak memberikan cukup protein ke badan kita.&lt;br /&gt;Penyakit lupa gampang diderita oleh perempuan dari pada laki-laki, apalagi di zaman sekarang lupa menjadi lebih cepat menyerang perempuan. Salah satunya karena; pada generasi terdahulu, perempuan hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan rumah adalah satu-satunya sentral tempat perempuan bekerja. Namun sekarang ini, seorang Ibu Rumah tangga selain mengurus keluarga juga bekerja di kantor atau menjadi mahasiswi yang juga menjemput anak-anaknya pulang sekolah, berbelanja dan lain-lain. Singkat kata di zaman sekarang ini, seorang perempuan secara tak sadar dituntut untuk melakukan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi pendapat mamaku tentang penyebab penurunan daya ingat. Mamaku melihatnya dari sisi psikologis. Beliau bilang, daya ingatku yang kacau akhir-akhir ini lebih dikarenakan banyaknya pikirkan yang dipikir sendirian, dan tidak membaginya dengan yang lain, sehingga otak mengalami kekacauan menyusun perintah-perintah dan menjadi tidak fokus terhadap segala sesuatunya. Mungkin nggak ya....?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-9059513614479190248?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/9059513614479190248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=9059513614479190248&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/9059513614479190248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/9059513614479190248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2008/05/l-u-p.html' title='L U P A'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-5962197834103063792</id><published>2008-05-01T14:00:00.003+09:00</published><updated>2008-05-03T13:51:25.669+09:00</updated><title type='text'>Tersesat</title><content type='html'>Pernah Tersesat? Rasanya ngga enak banget. Bolak-balik mencari arah yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu aku tersesat mencari Pondok Indah Plaza. Sampainya malah di Pondok Indah Mal. Belum lagi menahan malu karena terlambat. Duh ngakunya 6 tahun tinggal di Jakarta dan suka jalan-jalan, tapi ngga bisa membedakan Pondok Indah Mal dan Pondok Indah Plaza. Terlebih lagi, sok tau pula sehingga nggak bertanya lagi di mana lokasi persisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain waktunya aku tersesat di daerah Pondok Bambu mencari rumah sodara sendiri. Berputar-putar di sekitar jalan gading mencari Gading IX. Lupa belokan. Sampai dimarahi sopir taxi "sebenarnya pernah ke sini ngga sih Mba?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain harinya lagi, tersesat di Tebet Timur, mencari rumah saudara juga. Bukan hanya lupa gang yang mana, jalan besarnya sekalian juga nggak tau. Kali ini aku ngaku belum pernah ke daerah yang dicari, jadi ngga dimarahi sopir taxi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untungnya dalam ketiga kejadian itu aku ditolong oleh sopir taxi, akhirnya bisa sampai dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya lagi, kalau kita tersesat karena ngga tau tujuan mau ke mana. Biasanya aku bukan saja merasa bosan tapi juga menjadi boros. Jalan-jalan ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak akan meninggalkan memori indah yang lama, alias hanya kenyamanan sesaat. Saking ngga jelasnya, hampir saja hari ini aku menjawab "terserah" kepada sopir taxi waktu menanyakan "mau ke mana Mba?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membeli barang-barang yang sebebarnya nggak aku perlukan. Bahayanya lagi, rasa ingin memilikinya hilang sekejap saja setelah aku membayar di kasir. Mau membatalkan, gengsi dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah tersesat yang satu itu jelas bukan dikarenakan aku sudah tau tujuan akhirnya tapi ngga tau mencapainya. Tersesat ini justru dikarenakan aku ngga tau sebenarnya mau ke mana dan mau mencari apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hariku sekarang dipenuhi dengan semua pertanyaan seperti itu. Mau kemana? Mencari apa? Kenapa aku kerja sampai malam setiap hari? Apa yang aku ingin lakukan selanjutnya beberapa tahun ke depan? Apa rencanaku? Apa yang belum aku capai? Apa yang ingin aku miliki selanjutnya? Apa tujuan hidup ku sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pertanyaan itu belum aku temukan jawaban yang memuaskan. Sehingga untuk menjawabnya aku harus berputar-putar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir ngga ada bedanya juga rasa tersesat karena kehilangan tujuan hidup dengan tersesat karena salah tujuan ke Pondok Indah Plaza. Sama-sama menghabiskan waktu dan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berputar-putar mencari tujuan hidup rasanya lebih capek. Mau rasanya beristirahat tapi bagaimana caranya? Mau berhenti mencari, tapi nggak tau mau mulai dari kapan. Mau terus melanjutkan mencari, tapi ngga tau apa yang dicari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-5962197834103063792?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/5962197834103063792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=5962197834103063792&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5962197834103063792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5962197834103063792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2008/05/tersesat.html' title='Tersesat'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-5055068442928520859</id><published>2007-12-19T02:01:00.000+09:00</published><updated>2007-12-19T02:09:58.945+09:00</updated><title type='text'>It's a game of life my dear</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/R2f-aPS4ceI/AAAAAAAAAA0/dN9hgdb42zc/s1600-h/Card1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145360826029863394" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/R2f-aPS4ceI/AAAAAAAAAA0/dN9hgdb42zc/s320/Card1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-5055068442928520859?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/5055068442928520859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=5055068442928520859&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5055068442928520859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5055068442928520859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/12/its-game-of-life-my-dear.html' title='It&apos;s a game of life my dear'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/R2f-aPS4ceI/AAAAAAAAAA0/dN9hgdb42zc/s72-c/Card1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-2246893089133892079</id><published>2007-10-22T01:26:00.000+09:00</published><updated>2007-10-22T01:59:52.864+09:00</updated><title type='text'>Tempatku Menyembah dan Meminta Pertolongan</title><content type='html'>Ya Allah,&lt;br /&gt;Tempat aku menyembah dan meminta pertolongan&lt;br /&gt;Dapatkah Kau melihat dianku meredup?&lt;br /&gt;Dari atas sana nampak juga kah aku berjalan meraba di antara ketakutan dan keraguan?&lt;br /&gt;Di mana kah musuh Mu yang sangat Kau benci?&lt;br /&gt;Ke manakah dia? Sebab tak dapat ku menampak tapi kurasakan hadirnya dekat.&lt;br /&gt;Dekat dan menyatu dalam diriku&lt;br /&gt;Dalam setiap tarikan nafas dan dalam setiap lembar pembuluh darahku.&lt;br /&gt;Tahu kah Kau bahwa musuh Mu sudah berada di diriku?&lt;br /&gt;Meniup dian-dian imanku, menjadikannya gelap dan menyesatakanku?&lt;br /&gt;Sedemikian rupakah aku telah memanjakannya sehingga dia senang menjadi diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Tempatku menyembah dan meminta pertolongan&lt;br /&gt;Tunjukkan padaku kemana kucari lagi lentera-lentera hati yang telah tercampak&lt;br /&gt;Aku bukan hambaMu yang paham bahasa kitabMu&lt;br /&gt;Tapi sujudku bersimbah air mata ketakutanku pada Mu.&lt;br /&gt;Akankah Kau meninggalkanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Tempatku mengadu dan meminta pertolongan&lt;br /&gt;Ketika ku pernah berdoa meminta kebahagian untuk dirinya,&lt;br /&gt;Adakah Kau kabulkan dengan menukarkan kebahagianku&lt;br /&gt;Dan memberikannya kepadanya?.&lt;br /&gt;Akankah menjadi milik mereka selamanya atau sementara saja?&lt;br /&gt;Ambillah milikku untuk Kau berikan kepada mereka.&lt;br /&gt;Apakah aku telah menjadi sombong dan semakin tersesat karenanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Tempatku memohon ampun&lt;br /&gt;Hardiklah aku ketika Kau memanggil tapi tak kuhiraukan.&lt;br /&gt;Jangan biarkan aku berjalan sendiri dengan hati buta.&lt;br /&gt;Keluarkan ia dari diriku, sehingga tak habis dagingku&lt;br /&gt;Membusuk menjadi budaknya.&lt;br /&gt;Jangan jadikan aku, saudara, orang tua dan teman-temanku&lt;br /&gt;musuh Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-2246893089133892079?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/2246893089133892079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=2246893089133892079&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/2246893089133892079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/2246893089133892079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/10/tempatku-menyembah-dan-meminta.html' title='Tempatku Menyembah dan Meminta Pertolongan'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-270999276695352325</id><published>2007-09-23T22:50:00.000+09:00</published><updated>2007-09-23T23:18:05.211+09:00</updated><title type='text'>Sepuluh Bulan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Sepuluh bulan sudah saya dan dia hidup di dalam periuk nasi yang sama.&lt;br /&gt;Sepuluh bulan saya memperhatikannya sujudnya.&lt;br /&gt;Sujud terlama yang pernah saya lihat di dalam periuk nasi itu.&lt;br /&gt;Sepuluh bulan sudah saya bertanya-tanya adakah saya di dalam setiap sujud yang panjang itu?&lt;br /&gt;Tapi dia tak pernah mendengar pertanyaan saya.&lt;br /&gt;Sepuluh bulan saya berbicara tanpa suara kepadanya.&lt;br /&gt;Sepuluh bulan sudah saya menyimpannya di dalam hati.&lt;br /&gt;Dan selama sepuluh bulan sudah dia tidak pernah menyadari telah menyakiti saya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-270999276695352325?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/270999276695352325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=270999276695352325&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/270999276695352325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/270999276695352325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/09/sepuluh-bulan.html' title='Sepuluh Bulan'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-2083318383781288354</id><published>2007-09-16T03:24:00.000+09:00</published><updated>2007-09-23T23:08:49.812+09:00</updated><title type='text'>Hari Pertama Yang Menantang</title><content type='html'>Di bulan puasa tak jarang keimanan dan kualitas berpuasa kita diuji. Oleh karena itu tak dalam bulan yang berharga ini umat Islam akan berlomba-lomba berbuat kebaikan sejalan dengan mempertebal keimanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran saya pun sangat diuji sejak hari pertama puasa dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang telah lama mengenal saya akan mengenal sifat saya yang mudah teriritasi oleh peristiwa-peristiwa yang melawan nilai-nilai kebenaran. Pada level tertentu rasa terisitasi itu akan membuncah menjadi kemarahan yang terkadang menghilangkan kendali rasionalitas saya. Inilah yang akan merusak kualitas puasa saya di bulan Ramadhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya adalah sebuah mushola kantor saya yang berukuran mini yang terletak di lantai 23, satu lantai di bawah ruang kerja saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mushola ini membagi dua wilayah laki-laki dan perempuan sesisian. Dibatasi oleh partisi tinggi hingga ke langit-langit, dan kerahasian fisik perempuan di baliknya akan sangat terjaga. Masing-masing wilayah hanya dapat menampung 3 sajadah dalam setiap syafnya yang hanya berjumlah 3 baris baik di wilayah laki-laki maupun perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah perempuan cenderung lebih ‘ramai’ dari pada wilayah laki-laki. Selain untuk sholat para perempuan memanfaatkan mushola itu sebagai tepat berdandan selesai sholat, tidur bagi yang mengantuk, membaca majalah bagi yang membolos dari meja kerjanya, curhat, bertukar barang dagangan, mencoba dagangan yang baru dibeli dari bazar, dan tak tanggung-tanggung juga sebagai tempat memerah ASI bagi ibu-ibu muda yang baru memiliki bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun risi, tapi tak ada yng dapat saya lakukan untuk menguranginya apalagi menghentikannya. Pernah saya mencoba, tapi malah menjadi bumerang yang menhunjam saya dengan tuduhan sebagai pegawai muda yang sok tau, sok dewasa, sok agamis dan bla…bla…bla…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk memulihkan kembali citra mushola itu dengan kesadaran diri sendiri. Catat…dengan kesadaran diri sendiri, sebab semua orang tau kita disuruh untuk berlomba berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya di bulan ini. Pasti mereka tau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama puasa saya menghabiskan jam istirahat dengan tetap bekerja di meja. Menyelesaikan laporan yang mendekati tengat waktu. Beberapa saat sebelum jam istirahat selesai saya memutuskan untuk turun ke bawah, menuju mushola, menunaikan sholat dzuhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu membuka pintu mushola, saya melihat wiyah laki-laki sudah penuh, sebagian malah keluar lagi untuk menunggu sesaat di pantry. Wilayah perempuan ada di samping kanannya, dan saya harus melintasi wilayah laki-laki menuju tempat ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya putuskan untuk berwudhu dulu sebelum menuju tempat sholat. Tempat perempuaan terdengar sepi, tidak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheranan saya terjawab begitu saya membuka pintu partisi. Ternyata syaf di mushola perempuan penuh. Penuh ditiduri oleh perempuan yang menggunakan telekungnya sebagai selimut. Tak satu sajadahpun tersisa untuk orang lain menunaikan sholat dzuhurnya, tidak juga untuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu saya rasakan air wudhu tidak cukup sejuk mendinginkan amarah saya terhadap keegoisan itu. Kenapa saya katakan keegoisan? Karena di ruang itu tertulis besar-besar ‘dilarang tidur di mushola’, dan pula hari itu adalah hari PERTAMA berpuasa. Baru hari pertma saja saya sudah dipancing untuk marah. Saya tercenung tidak tau lagi mana yang benar, menyabarkan hati saya sendiri, mengalah untuk pindah ke tempat laki-laki yang sayangnya juga sedang penuhxa atau menegur mereka semua yang sebenarnya cukup jauh lebih tua dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya putuskan meminta salah satunya untuk pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tidak berkelanjut, sebab sekarang saja baru hari ketiga. Berapa banyak lagi kemarahan yang akan merusak kualitas puasa saya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-2083318383781288354?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/2083318383781288354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=2083318383781288354&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/2083318383781288354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/2083318383781288354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/09/hari-pertama-yang-menantang.html' title='Hari Pertama Yang Menantang'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-5058357835618022707</id><published>2007-06-03T09:39:00.000+09:00</published><updated>2007-06-03T12:07:32.803+09:00</updated><title type='text'>The Inheritance of Loss</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RmIqwDcbWOI/AAAAAAAAAAc/3CYDZBSEkSw/s1600-h/150px-Inheritance_of_loss_cover.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5071663135419226338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="245" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RmIqwDcbWOI/AAAAAAAAAAc/3CYDZBSEkSw/s320/150px-Inheritance_of_loss_cover.jpg" width="167" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;By Kiran Desai (page 307-312) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;The phone sat squat in the drawing room of the guest house encircled by a lock and chain so the thieving servants might only receive phone calls and not make them. When it rang again, the watchman leapt at it saying "Phone, la! Phone! &lt;em&gt;La mai&lt;/em&gt;!" and his whole family came running from their hut outside. Every time the phone rang, they ran with committed loyalty. Upkeepers of modern novelties, they would not, &lt;em&gt;would not&lt;/em&gt;, let it fall to ordinariness.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;"HELLO?"&lt;br /&gt;"HELLO? HELLO? "They gathered about the cook, giggling in delicious anticipation.&lt;br /&gt;"HELLO?"&lt;br /&gt;"HELLO? PITAJI??"&lt;br /&gt;"BIJU?" By natural logic he raised his voice to cover the distance between them, sending his voice all the way to America.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="left"&gt;"Biju, Biju," the watchman's family chorused, "it's Biju," they said to one another. "oh, it's his son," they told one another. They watched for his expressions to change, for hints as to what was being said at the other end, wishing to insinuate themselves deeply into the conversation, to become it, in fact.&lt;br /&gt;"HELLO HELLO????"&lt;br /&gt;"?????HAH? I CAN'T HEAR. YOUR VOICE IS VERY FAR."&lt;br /&gt;"I CAN'T HEAR. CAN YOU HEAR?"&lt;br /&gt;"He can't hear."&lt;br /&gt;"WHAT?"&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Still can't hear&lt;/em&gt;?" They asked the cook. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;The atmosphere of Kalimpong reached Biju all the way in New York; it swelled densely on the line and he could feel the pulse of forest, smell the humid air, the green black lushness; he could imagine all its different textures, the plumage of banana, the stark spear of the cactus, the delicate gestures of ferns; he could hear the croak &lt;em&gt;trrrrr whonk, wee wee butt ock butt ock&lt;/em&gt; of frogs in the spinach, the rising note welding imperceptibly with the evening....... &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;"HELLO? HELLO?"&lt;br /&gt;"Noise, noise," said the watchman's family, "can't hear?"&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;The cook waved them away angrily, "&lt;em&gt;shshshshshsh&lt;/em&gt;," immediately terrified, then, at the loss of a precious second with his son. He turned back to the phone, still shooing them away from behind, almost sending his hand off with the vehemence of his gestures.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;The shadow of their words was bigger that then substance. The echo of their own voice gulped the reply from across the world.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;"THERE IS TOO MUCH NOISE."&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;The watchman's wife went outside and studied the precarious wire, the fragile connection trembling over ravines and over mountains, over Kanchenjunga smoking like a volcano or a cigar - a bird might have alighted upon it, a nightjar might have swooped through the shaky signal, the satellite in the firmament could have blipped-&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;"Too much wind, the wind is blowing," said the watchman's wife, "the line is swaying like this” –her hand undulating.&lt;br /&gt;The children climbed up the tree and tried to hold the line steady. A gale of static inflicted itself on the space between father and son.&lt;br /&gt;“WHAT HAPPENED?” –shrieking even louder- “EVERYTHING ALL RIGHT?!”&lt;br /&gt;“WHAT DID YOU SAY?”&lt;br /&gt;“Let it go,” the wife said, plucking the children from the tree, “your’re making it worse.”&lt;br /&gt;“WHAT IS HAPPENING? ARE THERE RIOTS? STRIKES?”&lt;br /&gt;“NO TROUBLE NOW.” (Better not worry him.) “NOT NOW!!”&lt;br /&gt;“Is he going to come?” said the watchman.&lt;br /&gt;“ARE YOU ALL RIGHT?” Biju shrieked on the New York street.&lt;br /&gt;“DON’T WORRY ABOUT ME. DON’T WORRY ABOUT ANYTHING HERE. ARE THERE PROPER ARRANGEMENTS FOR EATING AT THE HOTEL? IS THE RESTAURANT GIVING YOU ACCOMODATION? ARE THERE ANY OTHER PEOPLE FROM UTTAR PRADESH THERE?”&lt;br /&gt;“Give accommodation. Free food. EVERYTHING FINE. BUT ARE YOU ALL RIGHT?” Biju asked again.&lt;br /&gt;“EVERYTHING QUITE NOW.”&lt;br /&gt;“YOUR HEALTH IS ALL RIGHT?”&lt;br /&gt;“YES. EVERYTHING ALL RIGHT.”&lt;br /&gt;“Ahh, everything all right,” everyone said, nodding. “Everything all right? Everything all right.”&lt;br /&gt;Suddenly, after this there was nothing more to say for awhile the emotion was there, the conversation was not; one had bloomed, not the other, and they fell abruptly d.&lt;br /&gt;into emptiness.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“When is he coming?” the watchman prompted&lt;br /&gt;“WHEN ARE YOU COMING?”&lt;br /&gt;“I DON’T KNOW. I WILL TRY….” He wanted to weep.&lt;br /&gt;“CAN’T YOU GET LEAVE?”&lt;br /&gt;He hadn’t even attained the decency of being granted a holiday now and then. He could bot go home to see his father.&lt;br /&gt;“WHEN WILL YOU GET LEAVE?”&lt;br /&gt;“I DON’T KNOW…”&lt;br /&gt;“HELLO?”&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;La ma ma ma ma ma ma&lt;/em&gt;, he can’t get leave. Why not? Don’t know, must be difficult there, make a lot of money, but one tiain, they have to work very hard for it….Don’t get somets certhinging for nothing…nowhere in the world…”&lt;br /&gt;“HELLO? HELLO?”&lt;br /&gt;“PITAJI, CAN YOU HEAR ME?”&lt;br /&gt;They retreated from each other again- &lt;em&gt;Beep beep honk honk trr butt ock&lt;/em&gt;, the phone went dead and they were strated in the distance that lay between them.&lt;br /&gt;“HELLO? HELLO?” –into the rictus of the receiver. “Hello? Hello? Hello? Hello?” they echoed back to themselves. The cook put down the phone, trembling.&lt;br /&gt;“He’ll call again,” said the watchman. But the phone all, remained mute.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;Outside, the frogs said &lt;em&gt;tttt tttt,&lt;/em&gt; as if they had swallowed the dial tone.&lt;br /&gt;He tried to shake the gadget back into life, wishing for at least the customary words of good-bye. After all, even on cliched phrases, you could hoist true emotion.&lt;br /&gt;“There must be a problem with the line.”&lt;br /&gt;“Yes, yes, yes.” As always, the problem with the line.&lt;br /&gt;“He will come back fat. I have heard they all come back fat,” said the watchman’s sister-in-law abruptly, trying to comfort the cook.&lt;br /&gt;The call was over, and the emptiness Biju hoped to dispel was reinforced.&lt;br /&gt;He could not talk to his fther; there was nothing left between them but emergency sentences, clipped telegram lines shouted out as if in the midst of a war. They were no longer relevant to each other’s lives except for the hope that they &lt;em&gt;would be&lt;/em&gt; relevant. He stood with his head stll in the phone booth stdded with bit of stiff chewing gum and the ususal &lt;em&gt;FuckShitCockDickPussyLoveWar&lt;/em&gt;, swastikas, and hearts shot with arrows mingling in a dense grafitti garden, too sugary too angr too perverse-the sick sweet rotting mulch of the human heart.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;If he continued his life in New York, he might never his &lt;em&gt;pitaji &lt;/em&gt;again. It happened all the time; ten years passed, fifteen, the telegram arrived, or the phone call, the parent was gone and the child was too late. Or they retrn and found they’d missed the entire last quarter of a lifetime, teir parents like photograph negatves. And there were worse tragedies. After the initial excitement was over, itoften became obvious that the love was gone; for affection was only a habit after all, and people, they forgot, or they became accustomed to its absence. They returned and found just the façade; it had been eaten from inside, like Cho Oyu being gouged by ternites from within.&lt;br /&gt;They all grow fat there……&lt;br /&gt;The cook knew about them all growing fat there. It was one of the things everyone knew:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;"Are you growing fat, &lt;em&gt;beta&lt;/em&gt;, like everyone in America?” he had written to his so, long ago, in a departure from their usual format.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;“Yes growing fat,” Biju had written back, “when you see me next, I will be myself times ten.” He laughed as he wrote the line and the cook laughed very hard when he read them; he lay in his back and kicked his legs in the air like a cockroach.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;“Yes,” Biju had said, “I am gowing fat-ten times myself,” and was shocked when he went to the ninety-nine-cent store and found he had to buy his shirts at the children’s rack. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-5058357835618022707?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/5058357835618022707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=5058357835618022707&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5058357835618022707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/5058357835618022707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/06/inheritance-of-loss.html' title='The Inheritance of Loss'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RmIqwDcbWOI/AAAAAAAAAAc/3CYDZBSEkSw/s72-c/150px-Inheritance_of_loss_cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-4158150111546768721</id><published>2007-06-03T00:16:00.000+09:00</published><updated>2007-06-03T00:44:55.129+09:00</updated><title type='text'>The Promise</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RmGL1jcbWNI/AAAAAAAAAAU/xyUJ73JvU5w/s1600-h/Tracy+Chapman.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5071488407559690450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 221px; CURSOR: hand; HEIGHT: 215px" height="212" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RmGL1jcbWNI/AAAAAAAAAAU/xyUJ73JvU5w/s320/Tracy+Chapman.jpg" width="250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; If you wait for me, then Ill come for you&lt;br /&gt;Although Ive traveled far&lt;br /&gt;I always hold a place for you in my heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you think of me, if you miss me once in awhile&lt;br /&gt;Then Ill return to you&lt;br /&gt;Ill return and fill that space in your heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remembering, Your touch&lt;br /&gt;Your kiss, Your warm embrace&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ill find my way back to you&lt;br /&gt;If youll be waiting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you dream of me, like I dream of you&lt;br /&gt;In a place thats warm and dark&lt;br /&gt;In a place where I can feel the beating of your heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remembering, Your touch&lt;br /&gt;Your kiss, Your warm embrace&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ill find my way back to you&lt;br /&gt;If youll be waiting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ive longed for you and I have desired&lt;br /&gt;To see your face your smile&lt;br /&gt;To be with you wherever you are&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remembering, Your touch&lt;br /&gt;Your kiss, Your warm embrace&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ill find my way back to you&lt;br /&gt;If youll be waiting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Together again, It would feel so good to be&lt;br /&gt;In your arms, Where all my journeys end&lt;br /&gt;If you can make a promise if its one that you can keep, I vow to come for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you wait for me and say youll hold&lt;br /&gt;A place for me in your heart.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-4158150111546768721?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/4158150111546768721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=4158150111546768721&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/4158150111546768721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/4158150111546768721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/06/promise.html' title='The Promise'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RmGL1jcbWNI/AAAAAAAAAAU/xyUJ73JvU5w/s72-c/Tracy+Chapman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-2445042377437137782</id><published>2007-05-27T19:02:00.000+09:00</published><updated>2007-05-27T19:07:02.244+09:00</updated><title type='text'>Menjelang 30</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bukannya tidak ingat. Saya cenderung berusaha melupakan bahwa hari semakin senja. Umur semakin bertambah. Tidak lama lagi akan memasuki 30.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang di Jakarta usia 30 tahun bisa memiliki berbagai arti. Arti kedewasaan dengan parameter yang entah dari mana. Sampai sekarang pun saya masih tidak begitu mengerti seperti apa orang yang dewasa. Ada yang bilang menjadi dewasa sama artinya dengan menjadi lebih sabar, tenang dan lebih diplomatis. Kalau marah tidak lagi mencak-mencak. Tapi beberapa senior saya yang sudah berkepala empat kalau memarahi staffnya di timur, maka suaranya membahana sampai ke barat sana.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang, usia 30 sudah berarti settled. Dalam arti perekonomian. Tapi sampai sekarang saya tetap belum punya tabungan yang cukup.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lainnya lagi berkata, seharusnya diusia 30 tahun anak saya sudah duduk setidaknya di bangku kelas satu sekolah dasar. Sama seperti Ibu saya yang memiliki saya sudah berpakaian merah putih diusianya yang ke 30.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak demikian yang terjadi pada saya sekarang, sementara 30 akan segera datang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-2445042377437137782?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/2445042377437137782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=2445042377437137782&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/2445042377437137782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/2445042377437137782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/05/menjelang-30.html' title='Menjelang 30'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-8872597835497072540</id><published>2007-05-13T00:14:00.000+09:00</published><updated>2007-05-13T00:19:51.667+09:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RkXas0LUccI/AAAAAAAAAAM/9pqeJ_khlVY/s1600-h/Lenny.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5063693819503210946" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RkXas0LUccI/AAAAAAAAAAM/9pqeJ_khlVY/s320/Lenny.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Bunga ini jauh lebih cantik dari pada manusia di sebelahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-8872597835497072540?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/8872597835497072540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=8872597835497072540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/8872597835497072540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/8872597835497072540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/05/bunga-ini-jauh-lebih-cantik-dari-pada.html' title=''/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8VpWL0gbvhU/RkXas0LUccI/AAAAAAAAAAM/9pqeJ_khlVY/s72-c/Lenny.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-116832319606767140</id><published>2007-01-09T15:09:00.000+09:00</published><updated>2007-01-09T15:16:03.253+09:00</updated><title type='text'>Fenomena Ramalan</title><content type='html'>Halo teman-teman sekalian. Sudah lama sekali ya saya tidak mengirimkan tulisan ringan. Kalau mau dikata sedang sibuk sekali, sebenarnya sama sekali tidak. Malahan saya sudah terserang hawa kebosanan akibat dari banyak waktu senggang yang saya miliki sekarang ini. Walaupun sekarang saya bekerja di sebuah perusahaan Jepang, tapi kehidupan kantor yang sangat teratur di sini membuat saya sedikit kaget karena perbedaannya dengan kebiasaan saya dua tahun lepas. Mungkin dua tahun menjadi mahasiswa lagi membawa petualangan lain termasuk mengisi dan memanfaatkan waktu 24 jam sehari yang ternyata sangat pendek untuk mengerjakan satu saja tugas kuliah. Di Jakarta ini, selepas pulang bekerja saya masih sibuk mencari hal-hal yang dapat saya kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau memang tidak sibuk, kenapa satu tulisan saja tidak dapat dihasilkan walau untuk yang paling ringan sekalipun. Ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan waktu yang saya miliki, melainkan semangat yang menurun alias malas. Malas berpikir dan malas memandangi layar lap top ini. Tapi tetap jengah jika waktu saya terbunuh sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharunya di tahun baru ini, saya punya semangat baru lagi. Udara baru yang lebih segar seharusnya dapat saya pompakan ke otak yang mulai membeku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu beberapa peristiwa untuk membangunkan saya. Bencana tenggelamnya Kapal Senopati Nusantara, Jemaah haji yang kelaparan di Padang Arafah dan tanggal 1 di tahun 2007 yang tak kalah menggemparkan – raibnya pesawat Adam Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runtutan bencana dan kecelakaan yang terjadi sudah menjadi penghias kalender tahun-tahun lalu. Mungkin akan menjadi prestasi tersendiri jika di penutup tahun 2007 nanti tidak satu pun bencana maupun kecelakaan yang menimpa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmnn….tapi bukan seperti itu yang diramalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik perhatian saya sekarang ini, bukanlah fenomena kecelakaan dan bencana yang beruntun tersebut, melainkan fenomena ramalan ini. Bagaimana tidak. Tepat satu hari sebelum tutup tahun, acara televisi dipenuhi oleh paranormal yang meramalkan apa yang akan terjadi di Indonesia pada 2007 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mempercayai karena beberapa dari ramalan tersebut benar terjadi di tahun 2006. Di tahun yang sama ada satu pesohor politik malah pernah mengatakan gunung merapi meletus sebagai ekspresi kemarahan Nyi Roro Kidul pada aksi penolakan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Katanya marah karena adanya larangan pakai kemben…tidak tau serius atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan tebakan mereka ditahun 2006 menciptakan popularitas tersendiri sehingga para paranormal tersebut dimintai kembali pendapatnya tentang apa yang akan terjadi ditahun selanjutnya. Sama seperti yang lalu, tahun ini juga akan dipenuhi oleh bencana dan kecelakaan setidaknya sampai dengan pertengahan tahun. Saya tidak tahu persis berapa banyak artis yang akan mangkat (tahun lalu juga ada yang meramalkan jumlah artis yang meninggal karena narkoba). Ada juga yang menyebutkan pulau Jawa akan terbelah. Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya mempercainya? Ramalan yang sekedar ramalan tanpa penjelasan ilmiah tidak akan saya percayai. Sebab hanya membuat tabuangan dosa saya bertambah. Takut musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan seorang teman saya yang berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kan persentase terjadinya lebih besar dari pada yang tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya sayangkan beberapa teman-teman ini menelan bulat-bulat ramalan yang disampaikan tanpa menggunakan pikirannya untuk memilah dan mencerna informasi yang masuk ke telinganya atau terbaca oleh matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau disimak lagi, ramalan yang ramai sekarang ini bukanlah ramalan masa depan. Melainkan rotasi sejarah yang berposisi kembali di titik temu. Gelombang panas yang diramalkan akan terjadi ditahun 2007 adalah pengulangan dari yang terjadi pada 1983. Meletusnya gunung berapi juga tergantung pada usia gunung tersebut dan aktifitas kawahnya. Kalau pemerintah kita rajin berhasil menghimbau para ilmuwan kita yang berserakan di luar negeri mungkin akan terpecahkan misteri-misteri kapan saja kepundan-kepundan itu siap memuntahkan lava panasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang gempa dan tsunami yang mengalahkan tsunami Aceh bukan juga ramalan aneh. Jauh sebelum TV sibuk menayangkan ramalan ini, saya sudah tau. Kakak saya satu-satunya ditugaskan ke Bangladesh guna mempersiapkan masyarakatnya menghadapi bencana alam yang tidak kalah besarnya dari Tsunami Aceh. Tidak sedikit ilmuwan yang tengah mempelajari gejala alam yang menunjukkan pergerakan lempengan beberapa patahan di permukaan bumi. Kapan semua itu akan terjadi tidak ada yang tau pasti. Karena memang bukan bencananya yang penting, toh tidak bisa terelakkan lagi. Yang penting adalah antisipasi dan tindakan untuk menghadapinya. Malah peristiwa Krakatao yang kedua bisa terjadi juga. Mau yang ilmiah? Baca Krakatao karya Simon Winchester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbelahnya Jawa menjadi dua? Mungkin sekali. Toh setelah kopong dengan luapan Lumpur panas juga dipengaruhi oleh pergesaran lempengan tadi. Mau tau bagaimana terjadinya? Tanya kan pada para ilmuawan ITS dan ITB, mereka bisa menjelaskan kemungkinan-kemungkinan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan terjadi banjir besar di Jakarta, lebih besar dari 2002. Bukankah memang seharusnya banjir itu terjadi di Jakarta? Lebih besar lagi malah. Mungkin sekali terjadi. Lihat saja tingkah polah masyarakatnya yang tidak perduli dengan lingkungan. Pemerintah saja malah menginstruksikan penggundulan taman kota. Buktinya jalan Thamrin sudah tidak ada jalur hijau lagi. Hello….Jakarta sudah tidak butuh pohon. Jangankan saluran air kota, masih banyak perumahan yang tidak punya selokan. Pemerintah mengeluh kehabisan dana untuk mengemasi semuanya. Sehingga muncullah satu kemalasan global. Kalau ada paranormal yang bisa meramalkan Jakarta selama 20 tahun kedepan tidak akan terkena banjir di musim hujan walaupun dengan kondisi yang sama…..baru saya akan mininjau kembali pemikiran saya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang adanya artis dan pesohor yang meninggal di tahun mendatang? Apakah lantaran kita bukan artis dan pesohor lantas kita tidak perlu takut tahun depan akan meninggal? Hebat sekali….Hmnn…jangan-jangan para pesohor itu adalah para paranormal itu sendiri. Bukankah mereka juga sudah menjadi pesohor..hehehe…Intinya, semua manusia akan meninggal toh?&lt;br /&gt;Apakah ramalan tersebut suatu kehebatan mistis? Menurut saya Tidak. Banyak yang bisa melakukannya. Saya telah melakukannya berkali-kali. Banyak membaca berita, cari informasi yang tengah terjadi dan pelajari polah manusianya sampai akhirnya saya bisa bilang “Jempol kaki gw juga tau sejak kapan taun…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau masalah umur…Sebelum paranormal itu meramalkan hari berpulang saya, saya akan menanyakan hari meninggal mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, masyarakat kita ini tidak mempermasalahkan kalau tebakan itu melenceng. Paling berkilah “Ah namanya juga ramalan, nggak ada kepastian..”. Sementara kalau tebakan itu kebetulan tepat kehebatan paranormal itupun diiklankan kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya sebutkan tadi. Bukan fenomena bencana alamnya yang menggentarkan saya, tetapi fenomena yang membius masyarakat Indonesia untuk mendekatkan diri kepada hal-hal mistik dan klenik. Dari pada mendengarkan ramalan sekedar hiburan, lebih baik mempersiapkan diri untuk semua situasi. Selagi kita masih percaya Tuhan, pasti kita juga percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kalau Tuhan memang menghendaki demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim, saya ngeri membayangkan ibadah saya tidak diterima karena mempercayai ramalan dan perdukunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lenny ASLIM: untuk APUIna)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-116832319606767140?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/116832319606767140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=116832319606767140&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/116832319606767140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/116832319606767140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/01/fenomena-ramalan.html' title='Fenomena Ramalan'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-116790838748213583</id><published>2007-01-04T19:58:00.000+09:00</published><updated>2007-01-04T19:59:47.950+09:00</updated><title type='text'>Krisis Media Dalam Perspektif Konvergensi Telematika: Wacana Media untuk Penyempurnaan UU Pers.</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="konten"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan timbul suatu pertanyaan kenapa kita perlu memperhatikan penyempurnaan UU Pers dari sudut pandang hukum telematika, karena terkesan hukum telematika hanya akan lebih banyak mengkaji keberadaan segala aspek hukum yang terkait dengan perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika. Tambahan lagi telah banyak pihak yang sudah terlanjur berkonotasi bahwa lingkup pembicaraan hukum telematika adalah identik dengan istilah ”cyber law” hukum yang terkait dengan keberadaan dunia maya ataupun internet. Hal ini tidaklah sepenuhnya benar, karena jika kita cermati lebih dalam justru karena hasil dari perkembangan konvergensi telekomunikasi dan informatika itu sendiri maka belakangan semua orang baru menyadari bahwa telah terlahir suatu media baru yang bersifat multimedia (teks, suara, gambar/grafis, dan film) yang pada akhirnya menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk merenungkan kembali konsepsi hukum tentang informasi dan komunikasi sebagai akar dasar semua perkembangan itu tanpa harus terkunci kepada pembedaan karaktersitik setiap media baik cetak maupun elektronik. Keberadaan jaringan computer global sebagai Jalan Raya Informasi (information superhighway) telah memudarkan garis batas antara media tradisional dengan media komunikasi modern. Hal ini akan sangat baik baik disiplin ilmu hukum itu sendiri agar sistematikanya menjadi lebih tertib dan konsisten dalam memetakan ketentuan-ketentuan hukum media. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; benang merah yang saling terhubung dengan semua media itu, yakni hukum terhadap informasi dan komunikasi itu sendiri. Bahkan, mungkin saja di belakang hari semua benang merah tersebut dapat dirajut menjadi satu kodifikasi hukum media yang mampu mengakomodir semua karakteristik media yang ada. Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan dapat melengkapi perspektif hukum yang selama ini telah berkembang dibenak masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Konsepsi Umum dan Analisa Kritis Media &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah pertama, kita perlu mengkaji kembali istilah Media itu sendiri dan melihat padanannya dengan Pers. Tampaknya sudah menjadi istilah umum bahwa insan pers sering mengidentikan dirinya sebagai Media, sementara istilah Pers itu sendiri sepertinya tidak sebangun atau sepadan dengan istilah Media. Pers mungkin salah satu bagian dari Media tapi Media itu sendiri tidak identik dengan Pers, karena Pers akan berkonotasi kepada aktivitas jurnalistik sementara media adalah wujud penyelenggaraannya sebagai alat sistem komunikasi untuk mendiseminasikan informasi kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari asal usul katanya, Media adalah bentuk jamak dari Medium yang berasal dari bahasa latin yang artinya adalah sesuatu yang berada ditengah-tengah dan/atau sesuatu yang bersifat netral [Webster Dictionary]. Media juga berarti suatu alat penghantar berkomunikasi. Penekanan dari kata Media disini adalah keberadaan obyek, jadi pendekatannya haruslah obyektif bukan subyektif. Sebagai suatu alat maka obyek tentunya tidak akan dapat bertanggung jawab atau dimintakan pertanggung jawabannya sendiri sehingga yang dapat dimintakan pertanggung jawabannya adalah pihak-pihak yang menyelenggarakan media itu sendiri. Penyelenggara harus menjaga sifat netralitasnya dan mempertanggung jawabkan efek dari komunikasi itu kepada publik baik terhadap kepentingan personal maupun komunal atau bahkan kepada norma masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang Pers, umumnya para pakar komunikasi masa akan merujuk kepada prinsip dasar Hak Azasi Manusia untuk memperoleh informasi dari semua saluran komunikasi yang tersedia dan kemerdekaan mengemukakan pendapat di depan umum. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dua hal yang perlu dicatat disini yakni, kebebasan berekspresi itu sendiri dan tindakan mengumumkannya kepada publik. Sebagai pembandingnya, banyak orang yang merujuk kepada First Amendment dalam konstitusi AS dimana Congress tidak boleh membuat hukum untuk menghalangi pelaksanaan hak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amendment 1: Religious and political freedom:&lt;br /&gt;Congress shall make no law respecting an establishment of religion, or prohibiting the free exercise thereof; or abridging the freedom of speech, or of the press; or the right of the people peaceably to assemble, and to petition the Government for redress of grievances.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian kata-kata tersebut, banyak pihak yang mempersepsikannya sebagai suatu kebebasan yang absolut karena congress yang berwenang membuat hukum itu sendiri saja bahkan tidak diperkenankan oleh konstitusi untuk membatasi kebebasan pers. Sementara, hanya segelintir pakar yang mengemukakan bahwa dalam prakteknya di AS yang perkembangan hukumnya didominasi oleh Jurisprudensi (Judge make law), kebebasan itu kini menjadi tidak absolute lagi sebagaimana dipersepsikan oleh kalangan awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain akibat multipersepsi atas kata “speech” dan “abridging” itu sendiri, perbedaan pendapat dikalangan para Jurist (judges and scholars) sebenarnyaa juga dikarenakan secara historis kata-kata itu memang merupakan produk politik pada masa itu, dimana ada pertentangan antara Federalist dengan State. Sehingga, semula kata-kata yang diusulkan adalah ”No state shall violate…etc” menjadi ”Congress shall make no law…etc”. Para juris di AS, telah menyadari bahwa legal nature dari kata-kata itu dengan sendirinya adalah menjadi tidak absolute, sehingga dengan sendirinya jurisprudensi lah yang menjadi pembimbing atau pedoman dalam menerapkan ketentuan itu agar menjadi fair bagi semua pihak. Bahkan untuk menentukan tujuan dan fungsinya saja, hal itu baru lebih jelas pada saat Justice Brandeis mengemukakan pendapatnya dalam putusannya pada kasus Whitney vs. California &lt;st1:metricconverter productid="71 L" st="on"&gt;71 L&lt;/st1:metricconverter&gt;.Ed.1095, 1105-06 (1927).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya lebih lanjut ternyata freedom of speech dan of the press diturunkan menjadi “expression” dan “action”. Amendement pertama jelas melindungi kebebasan berekspresi tetapi tidak selalu untuk “communicative conduct” sehingga berkembanglah “a hierarchy of protected communicative conduct” dimana tidak semua hal termasuk dalam protected speech. Karenanya berkembanglah apa yang dinamakan sebagai “unprotected class” atau dikenal sebagai “unfree speech” atau komunikasi yang tidak dilindungi oleh amendemen pertama tersebut, antara lain meliputi; fighting words, obscenity, publication of state secrets, incitement to crime, defamation, subliminal communications dan commercial speech. Demikian pula halnya dengan konsep ‘abridgement’ dimana dalam perkembangannya “law” sebagai produk congress jelas tidak mengurangi kewenangan pemerintah untuk memberikan pembatasan dan kejelasan dalam ”regulation” demi untuk melindungi kepentingan publik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, pemikiran tentang access to the channels of communication juga mengakibatkan berkembangnya teori pembedaan atau pengkategorisasian ruang public (public forum) dan ruang private (private forum). Walhasil, para juris telah mengembangkan kerangka berpikirnya untuk melakukan pendekatan prosedural (procedural approaches) dalam menentukan hal-hal apa saja yang dapat dilindungi berdasarkan amandemen pertama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejarah dan evolusi yang terjadi di AS tersebut, maka Indonesia sebagai negara yang lebih diwarnai oleh Eropa Kontinental ketimbang Anglosaxon/Common Law, menjadi tidak haram jika mencoba memformulasikan pembatasannya dalam produk legislatifnya (UU). Hal ini adalah karena di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, UU sebagai produk legislative itulah yang dapat memberikan pedoman awal bagi perkembangan sistem hukum kita. Jurisprudensi nyatanya masih belum berfungsi dengan baik di negara kita untuk memberikan benang merah keadilan dalam perkembangan sistem hukum nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hakikinya adalah sama saja baik di AS maupun di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bahwa kebebasan itu memang tidak pernah absolute. Bahkan, secara hukum fisika saja telah dinyatakan bahwa terhadap suatu aksi tentunya akan terjadi friksi dan hasilnya mengakibatkan suatu reaksi. Meskipun di angkasa, ternyata suatu benda juga tidak pernah lepas dari gaya-gaya yang ada di semesta alam ini. Oleh karena itu, konsep kebebasan tanpa batas jelas akan sangat menyesatkan dan bertentangan dengan hukum alam dan juga pemikiran manusia yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sesuai dengan perkembangan wacana negara demokratis, banyak pihak juga akan merujuk kepada pemikiran yang menyatakan bahwa Pers adalah pilar keempat (fourth estate) dalam negara demokrasi. Namun, dalam praktek dan perkembangannya, publik Amerika juga melihat bahwa ini adalah jargon semata karena meskipun pers itu bebas dari kepentingan pemerintahnya ternyata ia tidak bebas dari kepentingan komersialnya dan bahkan para pemilik dan/atau penyelenggara media juga cenderung berselingkuh dengan para politikus dalam menyiarkan suatu informasi kepada publik. Walhasil, wacana tentang eksistensi kebebasan media terlanjur disodorkan kepada publik untuk dilegitimasi kehadirannya tidak lagi sebagai penyaji fakta melainkan juga sebagai pembentuk opini dan disahkan sebagai industri informasi dengan semangat komersialismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, dalam suatu negara demokratis yang berdasarkan atas hukum, maka kepentingan hukum masyarakat untuk memperoleh informasi publik (right to know) adalah menjadi prioritas tertinggi. Hal ini menjadi dasar legitimasi bagi semua pihak ingin mencari dan menyampaikannya kepada publik, khususnya kalangan jurnalis yang begitu giat dan gagah berani berupaya mencari fakta/data, mengolahnya menjadi informasi dan/atau berita, dan kemudian disampaikannya kepada masyarakat. Lebih jauh lagi, bahkan hal itu dirasakan sebagai sesuatu yang diamanatkan oleh hukum kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kompensasinya, dalam rangka memenuhi kepentingan hukum masyarakat tersebut maka diperlukan suatu perlindungan hukum bagi para pihak yang jelas-jelas beriktikad baik melaksanakan fungsi itu, khususnya bagi pihak yang secara professional mencarinya dan menyelenggarakan media komunikasinya kepada public. Namun pada sisi yang lain, publik juga perlu mendapatkan perlindungan dari kekotoran ataupun sisi negatif informasi yang disampaikannya. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu ketentuan hukum dalam suatu produk legislatif (UU) sebagai kesepakatan public untuk melindungi semua pihak yang terkait dengan itu secara adil. Pada prinsipnya, tanpa terkecuali setiap orang yang bertindak mengungkapkan informasi untuk kepentingan publik tentunya jelas harus dilindungi oleh hukum, terlepas apakah ia jurnalis ataupun tidak. Dalam prakteknya, penerapan hukum itu harus digantungkan kepada Hakim sebagai pejabat penerap keadilan bagi masyarakat agar sesuai dengan lingkup kasus yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan sejarahnya, Pers yang lahir dari aktivitas jurnalistik kepentingan hukumnya adalah menginginkan kebebasan untuk memperoleh data dan mengolahnya menjadi suatu informasi serta berhak menyampaikannya kembali (freedom of speech) kepada publik sesuai pendapatnya. Pada satu sisi, sistem hukum Hak Kekayaan Intelektual (Hak Cipta) telah melindungi keberadaan informasi itu sebagai suatu karya cipta yang harus dilindungi (protected works) demi kepentingan hak moral dan hak ekonomis individu si penciptanya dan melindungi kemerdekaan/kebebasan untuk berekspresi itu sendiri. Namun pada sisi lain, sesuai dengan perspektif hukum komunikasi, si intelektual tersebut seharusnya juga memperhatikan efek atau dampak komunikasi tersebut kepada publik. Oleh karena itu, suatu penyampai informasi selayaknya harus dapat dimintakan pertanggung jawabnya manakala efek komunikasi itu ternyata merugikan atau berpengaruh buruk kepada kepentingan hukum individual manusia (HAM) dan juga kepada norma dan ketertiban masyarakat (protected communication dan protected community). Jadi selain adanya apresiasi yang diberikan oleh hukum ia juga harus mampu mengemban tanggung jawab dari setiap apa yang telah ditimbulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, penyajian informasi kepada publik diharuskan seobyektif mungkin meskipun secara naturalianya ia tetap bersifat subyektif karena sebenarnya terlahir dari ekspresi ide dari seseorang. Perspektifnya terhadap sesuatu peristiwa tentu akan tetap melekat dalam penyajian informasi yang disampaikannya. Oleh karena itu, suatu berita tidak dapat dikatakan obyektif dari awalnya sehingga dengan sendirinya ia tidak bebas nilai atau tidak bebas dari kepentingan subyektif orang yang menuliskannya. Disinilah netralitas media menjadi sangat relevan untuk menjadi suatu persyaratan hukum (requirement of neutrality). Untuk itu diperlukan suatu standar obyektifitas untuk menentukan apakah ia layak dikatakan sebagai suatu karya jurnalistik. Perlindungan hukum yang diberikan kepada si pencari dan penyampai informasi hanyalah ditujukan bagi setiap pihak yang memang menghargai dan tunduk dengan etika jurnalistik, bukan kepada pihak-pihak yang ”sembarangan” dalam menguntai kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka memenuhi nilai-nilai obyektifitas itu, sebagai upaya preventif maka secara prosedural suatu informasi sebelum disampaikan kepada publik, selayaknya secara internal ia perlu diinteraksikan dengan pihak lain dan/atau paling tidak yang bersangkutan dapat menjelaskan dan menjamin bahwa informasi yang diberikannya adalah berdasarkan atas data atau fakta yang diperolehnya secara halal dan benar serta disajikannya secara fair. Disinilah suatu penyelenggara media harus dianggap ikut bertanggung jawab untuk menanggung akibat/dampak penyampaian suatu informasi kepada publik, karena atas kuasanya informasi itu dikomunikasikan kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemaparan tersebut di atas, terlihat jelas perbedaan makna antara Pers dengan Media. Istilah media adalah keberadaan obyek atau alat untuk berkomunikasi yang harus bersifat netral, sementara Pers adalah kegiatan jurnalistik yang kaya akan perspektif-perspektif jurnalisme. Tentunya, yang akan membuat media itu menjadi tidak netral adalah orang yang menyelenggarakannya. Oleh karena itu, wajarlah jika seorang pakar komunikasi Prof Abdul Muis mengingatkan kita bahwa ada dua pendekatan hukum dalam konteks ini yaitu aspek Hukum Media dan aspek Hukum Komunikasi. Namun, menurut hemat saya akan lebih tepat jika kita melihatnya dalam satu kesatuan yakni Hukum Komunikasi. Keberadaan Media sepatutnya adalah bagian yang tidak dipisahkan dari proses komunikasi itu sendiri karena tidak mungkin terjadi suatu komunikasi antara si penyampai informasi (originator) dengan si penerima informasi (recipient) tanpa kehadiran suatu Media. Ringkasnya, kita harus memandang Media itu sendiri sebagai suatu sistem komunikasi yang terpadu dimana obyektifitasnya dan netralitasnya akan ditentukan kepada sejauh mana sistem penyelenggaraannya diselenggarakan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melengkapi pandangan tersebut, walau bagaimanapun harus diletakkan pemahaman kepada publik bahwa suatu informasi yang merupakan obyek komunikasi tersebut jelas tidak akan lepas dari aliran pandangan si pembuatnya, sehingga pandangan suatu aliran tentunya akan terlihat jelas dari karakteristik informasi yang disajikannya tersebut. Jika si intelektual tersebut beraliran kapitalis maka tentunya ia tidak akan menulis tentang kebaikan aliran sosialis yang berlawanan dengannya, demikian juga sebaliknya. Demikian juga jika si intelektual tersebut ternyata non religius maka ia akan menuliskan bahwa ketentuan keagamaan adalah suatu kemunafikan dan demikian pula sebaliknya. Walhasil, jelas dirasakan adanya suatu perang informasi terhadap suatu kepentingan, dan demi obyektifitas maka semestinya masyarakat tidak boleh langsung percaya terhadap suatu informasi yang disampaikan oleh satu sumber saja, melainkan juga perlu melihatnya dari banyak sumber. Kebenaran akan dapat terlihat dari apa yang lahir ditengah-tengah pertentangan wacana itu sendiri. Akhirnya, yang menjadi permasalahan disini adalah konflik ideologi antara informasi yang disajikan dengan ideologis bangsanya. Tidak heran jika ada sebagian masyarakat yang ternyata malah menjadi bingung atau bahkan akan marah dengan keberadaan aliran-aliran media itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, sesuai dengan perkembangannya maka terbangunlah suatu mekanisme hukum antara publik dengan medianya, dengan cara memberikan kewajiban kepada penyelenggara untuk melayani Hak jawab dan Hak Koreksi dari masyarakat. Namun, hal ini masih dirasakan seperti terlalu mensimplifikasi efek komunikasi yang ditimbulkan kepada kepentingan hukum lain. Sekiranya suatu berita yang menghancurkan nama baik seseorang (character assasination) ternyata berakibat serangan jantung sehingga meninggalnya seseorang, apakah masih relevan Hak Jawab dan Hak Koreksi sebagai upaya pemulihan haknya. Tambahan lagi, dalam kehidupan sehari-hari dapat dikatakan bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pedang, sehingga naturalianya efek dari kata-kata akan selalu berbekas dalam hati si penerimanya. Dimaafkan atau tidak itu kembali kepada hak si orang tersebut, yang jelas Hukum tidak dapat memaksakan seseorang harus menerima maaf dari orang lain. Seorang hakim juga sepatutnya juga tidak boleh membatasi hak orang lain untuk harus menjelmakan hak jawab dan hak koreksinya terlebih dahulu, karena hal ini berarti hakim telah berpihak hanya kepada kepentingan si penyelenggara media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam hal penerimaan informasi, umumnya informasi pertama seringkali lebih berbekas ketimbang informasi yang berikutnya. Sehingga terlepas apakah ia langsung percaya atau tidak percaya, yang jelas secara informasi telah berdampak kepada sesorang ”the damage has been done”. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; suatu ”ruang kerugian” disini yang tidak cukup terjawab hanya dengan hak jawab dan hak koreksi. Sepatutnya, semakin intelektual seseorang jelas akan semakin tinggi pula amanat yang harus diembannya untuk memperhitungkan segala sesuatu yang dapat terjadi dari karya intelektualnya tersebut. Oleh karena itu, pertanggung jawaban bagi seseorang ahli komunikasi masa yang berdasarkan keilmuannya sepatutnya tahu sejauhmana efek dari kata-katanya, jelas juga harus diimbangi dengan beban sanksi yang relatif lebih berat ketimbang orang awam. Jika hal ini tidak ada, maka jelaslah bahwa segelintir orang akan senang mempelintir kata-kata dan mungkin pula akan berakibat timbulnya mafia dalam media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Internet sebagai Media Komunikasi Baru &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, konvergensi TELEMATIKA (Telekomunikasi, Media dan Informatika) mau tidak mau telah mengabsorbsi keberadaan kata Media yang terwujud dalam penyelenggaraan sistem informasi global. Suatu jaringan sistem informasi dan komunikasi yang lahir akibat keterpaduan perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi telah berfungsi sebagaimana sebagaimana layaknya suatu Media komunikasi masa. Hal mana sebelumnya kurang begitu disadari karena semula penerapan teknologi informasi adalah untuk kepentingan personal atau untuk kepentingan internal organisasinya saja. Demikian juga halnya dengan telekomunikasi yang memang semula digunakan hanya untuk kepentingan komunikasi antara para pihak, bukan untuk komunikasi masa. Akhirnya, sekarang kita ternyata tidak dapat mengatakan bahwa penyelenggaraan telekomunikasi akan terlepas dalam lingkup kajian hukum media modern dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat kepada platform sistem informasi dan komunikasi elektronik global yang berbasiskan teknologi komputer (computer based information system), maka ada beberapa hal yang perlu dilihat sehubungan dengan komputer sebagai alat pengolah informasi dan alat untuk menyebarkan informasi tersebut. Sistem Komputer pada hakekatnya mempunyai fungsi-fungsi Input, Proses, Output, Strorage dan Communication. Ia juga paling tidak terdiri atas 5 komponen penting, yakni; hardware, software, procedure, brainware dan content dari informasi itu sendiri. Semua komponen itu harus berkerja dengan baik itu dan saling terintegrasi agar dapat melakukan fungsi-fungsi sebagaimana yang diharapkan. Data sebagai input untuk menghasilkan suatu informasi yang berdayaguna ditentukan oleh kehandalan brainware dalam menciptakan procedures yang selanjutnya akan dikonkritkan dengan kehadiran software yang sesuai agar hardware dapat bekerja untuk mengolah dan menampilkan informasi sebagaimana yang ditentukan atau diharapkan.&lt;br /&gt;Selanjutnya agar ia dapat berkomunikasi dengan komputer yang lain, maka ia harus satu bahasa dimana pembangunan jaringan kerjanya adalah harus sesuai dengan protokol komunikasi yang dipakai oleh para pihak, seperti antara lain Electronic Data Interchange/EDI (proprietary system) dan Internet protocol (open system). Dan oleh karena sistem tersebut saling terintegrasi dan terhubung secara online, maka hubungan komunikasinya menjadi bersifat real-time kesemua anggota dan seakan hadir dimana-mana secara ”ubiquotus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan karakteristiknya yang elektronik itu, tampaknya keberadaan suatu sistem informasi sebagai Media berkomunikasi relatif akan lebih mudah diatur ketimbang Pers. Lihat saja pada kenyataan teknisnya bahwa semua anggota jaringannya sepakat untuk menggunakan protokol komunikasi TCP/IP. Semua komputer yang terhubung hanya bisa terhubung dengan aturan komunikasi yang sama dalam lapisan 4 layers. Sebagai suatu sistem informasi jelas ia telah ditetapkan sebagai suatu Media yang netral, sehingga ia dapat ditulisi apa saja oleh pihak pihak yang berkenan untuk itu. Ia dapat ditentukan akan hidup ataukah akan mati tergantung kepada arus listriknya. Keberadaan akses informasinya pun dapat dibatasi atau restriktif berdasarkan otorisasi yang diberikannya dalam network tersebut. Dalam konteks ini, sepanjang memang ada ”political will” untuk itu sepatutnya penyelenggara media akan menjadi relatif lebih mudah untuk diatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; satu hal yang sangat menarik untuk dilihat dari keberadaan suatu sistem informasi elektronik sebagai suatu Media yakni keberadaan informasi sebagai keluarannya adalah ditentukan kepada sejauhmana sistem security-nya dikembangkan baik secara tehnik, manajemen maupun hukum. Keterpercayaan terhadap isi akan sangat ditentukan oleh sejauhmana kehandalan dan validitas pemrosesannya yang tercermin dalam keberadaan setiap procedures dan juga softwarenya, serta kejelasan subyek hukum yang bertanggung jawab atasnya. Setelah dapat diyakini bahwa sistem informasi itu layak dipercaya, barulah kita dapat menyatakan bahwa jika memang sistem telah berjalan sebagaimana mestinya maka selayaknya informasinya menjadi layak untuk dipercaya. Dengan sendirinya, jika data yang dimasukkan adalah salah, maka hasil keluarannya juga akan menjadi salah ”Garbage In Garbage Out,” bukan sistemnya lagi yang dipersalahkan (malfunction) melainkan ”human error” manusianya yang mengerjakan sistem itu. Implikasi hukumnya adalah, sepanjang sistem telah dibangun dan diselenggarakan dengan baik (best practices), maka pihak si pengembang dan si penyelenggara berhak mendapatkan perlindungan hukum berupa pembatasan dalam pertanggung jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut juga dicermati bahwa persyaratan security tersebut adalah berbanding lurus dengan nilai kekuatan pembuktian secara hukum, bahkan dapat dikatakan bahwa ”no security, no deals”. Hal ini harus menjadi perhatian utama para pihak, karena teoritisnya Internet memang tidak didesain sebagai infrastruktur informasi publik yang secured. Justru kepentingan negara industri itu sendiri lah yang ingin menawarkan dan menumbuhkan jasa security-nya, baik dalam hal penjualan perangkat keras maupun software untuk berjalannya computer security maupun communication security itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranalogi dengan hal tersebut, maka jika kita ingin mengatakan Pers adalah suatu Media harus ada suatu standar kelayakan bagi si penyelenggara jasa yang mengkelola Media itu. Ia baru layak dikatakan sebagai suatu Media jika ia telah memenuhi standar tertentu dalam penyelenggaraannya agar lebih jernih dalam merefleksikan kepentingan masyarakat bukan kepentingan si penyelenggaranya. Ia juga dapat membatasi tanggung jawabnya terhadap akibat substansi informasi yang disampaikannya sepanjang ia telah berupaya sebaik mungkin (best practices). Bahkan sekiranya ia telah mengemukakan standar prosedur pengoperasiannya bahwa ia tidak melakukan sensor apapun, tanggung jawab sepenuhnya justru akan kembali kepada si penulis. Dan pihak yang merasa berkeberatan dapat langsung seketika itu juga memasukkan koreksi dan hak jawabnya pada tempat yang sama dengan informasi itu. Disini, para pembaca akan langsung dapat mencerna bahwa informasi itu tengah dipersengketakan validitasnya. Dalam konteks ini, tidak sedetikpun ia akan dirugikan, kecuali atas kelambanannya sendiri dalam merespon suatu informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu pula, ada juga satu pelajaran hukum yang selayaknya dapat kita ambil dari kasus Napster di Amerika. Meskipun keberadaan situs tersebut sebenarnya hanya sebagai suatu media komunikasi bagi para anggotanya (peer to peer communication) untuk saling bertukar koleksi lagu-lagu yang diperolehnya, namun sekiranya ia bertentangan dengan sistem hukum yang ada khususnya Hak Cipta maka keberadaannya dapat dihentikan (shut-down). Kesalahannya adalah memfasilitasi tukar menukar lagu dimana ia mempunyai model bisnis didalamnya, padahal tanpa harus ia fasilitasi masing-masing orang dapat berkomunikasi secara langsung. Hal ini berakibat bahwa model bisnis napster menjadi sebagaimana layaknya tukang tadah di pasar-pasar gelap. Demi hukum, pengadilan terpaksa harus menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang Amerika adalah menjadi tolok ukur dalam penegakan freedom of speech di dunia, saya melihat bahwa demi ”kepentingan hukum”, harus tetap ada satu kemungkinan bahwa suatu Media dapat dimungkinkan untuk dihentikan atau ditutup oleh putusan pengadilan jika si penyelenggara media membuat keberadaan Medianya menjadi bertentangan dengan hukum yang ada. Dalam negara demokratis, ini tidaklah salah, karena supremasi hukum adalah hal yang tertinggi, bukan kepentingan bisnis media itu, dan juga bukan didasarkan atas diskresi lembaga eksekutif (pemerintah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menjaga kepentingan semua pihak maka harus dipahami bahwa sepatutnya asas strict liability juga melekat terhadap informasi itu dan juga pihak manajemen dari organisasi yang melakukan sistem penyelenggaraan Media tersebut. Sepertinya bukan lah suatu hal yang berlebihan sekiranya azas “good governance” juga perlu diterapkan dalam penyelenggaraan Media, paling tidak si penyelenggara harus mengeluarkan “best effort” nya untuk menjaga obyektifitas dan netralitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika Pers ingin dikatakan berfungsi sebagai media, saya pikir tentunya ia harus berfungsi sebagaimana layaknya sistem informasi elektronik yang didasarkan atas trustworthy suatu proses. Jika memang sistem penyelenggaraan media nya yang sudah tidak mau taat hukum, maka hasil output informasinya tentunya juga akan berhadapan dengan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya sesuai dengan paradigma sistem informasi, maka paling tidak Pers akan terdiri dari komponen (i) content informasi, (ii) Wartawan dan (iii) prosedur-prosedur dalam Organisasi dan Manajemen Penyelenggara Media itu sendiri. Dalam hal ini, paling tidak dapat dilihat adanya tiga lingkup standar agar membuat sistem pers menjadi sehat, yakni (i) standarisasi brainware/wartawan, (ii) standarisasi karya jurnalistik atau pemberitaan, dan (iii) standarisasi penyelenggaraan media itu sendiri. Boleh jadi sebagai lingkup yang paling luas, standarisasi penyelenggaraan media itu sendiri akan mencakup kedua lingkup sebelumnya karena ia akan menentukan standar minimum wartawan yang akan digunakannya dan bagaimana sistem operasi dan prosedur yang dianutnya dalam mengemukakan suatu pemberitaan kepada publik. Semakin tinggi standar yang dianutnya maka semakin tinggi pula validitas pemberitaannya dan relatif semakin aman pula ia dalam melakukan pertanggung jawaban hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D. Krisis Media Akibat Perilaku Bermasalah dan Kepentingan Bisnis Media &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau lebih luas lagi sesuai dengan perspektif ilmu perundang-undangan, mungkin penyebab kenapa kondisi Pers sekarang ini seperti ini adalah juga didasari sejauhmana keefektifan aturan main yang ditetapkan dalam UU Pers. Jika memang mekanismenya adalah sebebas-bebasnya maka insan pers jadi bertindak sebebasnya. Dan sedikit janggal rasanya bahwa pemerintah dinihilkan sama sekali dalam proses penerapannya sementara lembaga pelaksananya Dewan Pers juga tidak mempunyai kekuatan yang dapat memaksa pihak pers untuk bertindak sebagaimana mestinya. Ia hanya merupakan wadah untuk penetapan Kode Etik, alternatif penyelesaian sengketa, serta pengkajian hukum dan kebijakan saja. Sementara pada sisi yang lain, peranan masyarakat juga belum dapat dikatakan cerdas menyikapi segala sesuatu dan mampu berpartisipasi aktif sebagaimana yang diharapkan. Tambahan lagi setiap orang tentunya akan berpikir ulang untuk berhadapan dengan media. Walhasil, akhirnya dijumpai terjadinya premanisme dalam pers, terkadang pers menjadi obyek premanisme namun sering juga ia menjadi subyeknya. Contohnya adalah penyajian informasi entertainment, dimana pers terkesan memaksa untuk memperoleh informasi yang berkenaan dengan privasi seseorang. Pers memang telah begitu galak, bahkan berani masuk ke wilayah-wilayah yang sebenarnya sudah menyentuh batasan harkat dan privacy seseorang. Menghambat jalan seseorang untuk berjalan kemobilnya sendiri demi mendapatkan suatu pemberitaan sudah menjadi pandangan kita sehari-hari yang kita lihat dalam peliputan pemberitaan di TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana layaknya para wakil rakyat dalam fungsi legislative, para insan pers juga sangat meyakini dirinya adalah bertindak atas aspiratif rakyat. Namun ada sedikit perbedaan, dimana para wakil rakyat harus berinventasi untuk meraih simpati dan suara rakyat dalam proses pemilihan umum sehingga dapat dikatakan legitimate menyampaikan suara rakyat. Sementara kalangan pers dengan inisiatif sendiri dan dengan dibawah naungan UU Pers dilegitimasikan sebagai aspiratif rakyat tanpa harus ada kejelasan standarisasi profesi kewartawanan yang ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita membaca informasi yang disampaikan dalam beberapa surat khabar harian yang ternyata berbahasa terlalu berani dalam mengekspose sex dan kekerasan, dan juga berani memberikan tempat untuk iklan yang bernada-nada serupa, mungkin masyarakat juga akan menjadi semakin kebingungan apakah memang hal ini sebenarnya informasi yang dibutuhkannya ataukah memang hal tersebut yang sebenarnya aspiratif rakyat. Sex dan kekerasan memang merupakan fakta hidup, dan juga merupakan informasi yang menarik untuk dibaca, tapi apakah ini aspiratif rakyat atau memang sengaja dicekoki kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prakteknya sekarang ini, ada pers yang telah secara elegan menyajikan informasi dan ada juga pers yang justru membuat galau dan resah hati masyarakat. Bagaimana tidak, karena sepertinya memang tidak ada satu tindakan apapun yang dapat dikenakan kepada sebagian insan pers tersebut. Siapa yang dapat menyadarkan kalangan pers untuk secara jernih memandang apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan ini. Apakah memang ”kemerdekaan pers” diartikan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batasan normatif. Bahkan akibat pendapat yang mengatakan bahwa semestinya UU Pers adalah lex specialis dengan berbagai macam alasan, KUHP dinyatakan tidak berlaku lagi. Sementara, dalam UU Pers ketentuan pidana dirasakan tidak begitu berimbang. Barang siapa yang menghalangi pers harus dipidana penjara dan denda, sementara pers hanya dipidana denda saja. Lantas bagaimana halnya dengan insan pers yang ternyata mengganggu hak orang lain, apakah memang sudah ada dalam UU Pers ataukah memang hal seperti itu sepatutnya tidak masuk dalam lingkup UU Pers. Jadi, apakah UU Pers telah cukup mengatur semua tindak pidana yang mungkin terkait dengan Pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam hubungan kerja antara Wartawan sebagai profesi, apakah ia telah cukup dilindungi karena kenyataannya ia adalah buruh dari suatu perusahaan pers, dimana status kewartawanannya sangat tergantung oleh perusahaan itu. Apakah ada sanksi bagi perusahaan pers yang tidak memberikan bagian sahamnya kepada karyawan dan apakah wartawan telah mendapatkan bagian yang layak terhadap keuntungan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan era reformasi untuk mengarah kepada perbaikan di segala bidang, kalangan pers telah memperoleh kelonggaran yang dicita-citakannya untuk memperoleh informasi namun ternyata bukan kemerdekaannya dalam arti yang hakiki. Dulu Pers begitu dikekang oleh pemerintah dan sekarang begitu merdekanya tanpa ada kebutuhan untuk mendapatkan pembinaan atau pengawasan dari pemerintah lagi. Semua seakan sepakat bahwa pengawasan pers adalah langsung dari rakyat, sementara masyrakatnya saja tidak semuanya dapat bernasib baik mengenyam pendidikan sehingga belum dapat secara kritis mengkontrol pers. Apalagi dalam kenyataan hidup ini, tak ada orang yang hidup tanpa salah dan dosa, sementara pers jelas dapat mengkemukakan semua salah dan dosa seseorang sesuai agenda dan kepentingannya. Sehingga akankah ada anggota masyarakat biasa yang akan berani berhadapan dengan pers? Semua tentunya akan berpikir dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil sepertinya kita memang harus duduk kembali untuk membicarakan hal ini, apakah UU Pers memang sudah efektif menyelesaikan perilaku bermasalah. Dulu pemerintah yang membuat masalah, sekarang justru Pers sendiri yang sekarang menjadi sumber dari perilaku bermasalah terhadap kemerdekaan pers itu sendiri. Sudah layakkah pers dikatakan sebagai media jika ia tidak menjelmakan upaya terbaiknya untuk bersifat netral dan obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai pemaparan di atas, paling tidak kita dapat melihat adanya krisis dalam dunia media yang mungkin akan mencakup seluruh komponennya, antara lain;&lt;br /&gt;o Krisis perilaku insan media dalam mencari berita, membuat sumber ataupun obyek informasi menjadi tidak berharkat atau terganggu privasinya;&lt;br /&gt;o Krisis substansi media, mengungkapkan informasi tanpa etika dan standar jurnalistik;&lt;br /&gt;o Krisis komitmen untuk menjalankan seluruh fungsi media yang diamanatkan oleh UU;&lt;br /&gt;o Krisis komitmen untuk cita-cita reformasi, khususnya untuk ikut memajukan pendidikan, karena tidak ada jamina bahwa semua media telah menjalankan fungsi pendidikannya dengan baik;&lt;br /&gt;o Krisis standar penyelenggaraan manajemen suatu Media;&lt;br /&gt;o Krisis masyarakatnya yang terkesan kurang begitu kritis dan agresif dalam menyikapi suatu pemberitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandang dari sisi bisnis, karena informasi adalah suatu komoditi yang merupakan kebutuhan hidup masyarakat informasi, maka bisnis untuk menjadi penyedia informasi adalah peluang bisnis yang cukup menggiurkan. Hal ini tentunya menjadi suatu ancaman tersendiri bagi pengharagaan akan nilai-nilai “kemerdekaan pers” terutama nilai-nilai netralitas dan obyektifitas itu sendiri. Sejauhmana kepentingan pemodal tidak akan mengendalikan kepentingan media itu sendiri. Padahal sudah pasti bahwa si Pengurus adalah bertugas untuk menjaga kepentingan si pemodal yang ingin memperoleh keuntungan dari bisnis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu hal yang sangat lumrah dalam hukum investasi, bahwa konsekwensi dari adanya suatu investasi adalah adanya kendali dalam perusahaan itu. Dari sisi pemodal tentunya akan menjadi sangat begitu indah jika informasi yang disampaikan adalah sesuai dengan kepentingannya dan dapat menaikkan tiras atau oplahnya di masyarakat dan memberikan tempat yang cukup ditakuti oleh penyelenggara negara. Dari sisi si pemilik media mungkin jelas ia merasa berhak untuk bisa menampilkan dirinya dalam satu halaman penuh dari sekian banyak halaman yang dikelolanya, tapi demi obyektifitas dan netralitas media, apakah hal itu dapat dikatakan etis ataukah tidak? Karena walau bagaimanapun, si penyelenggara media sepatutnya memperlihat upaya yang semaksimal mungkin untuk tidak memperlihatkan kepentingannya pribadi dalam media yang dikelolanya itu. Dan jika kita berbicara tentang etis, apakah pelanggaran terhadap hal itu ada sanksinya dari kalangan masyarakatnya. Demikian pula jika ada hukumnya apakah ada sanksi hukumnya? Jika ternyata tidak, saya pikir ini merupakan indikasi ketidak netralan itu, dan berarti Pers tidak layak untuk disebut Media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;E. Penutup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;Sesuai dengan kepentingan publik dalam Negara Demokrasi, maka dalam lingkup media komunikasi paling tidak terlihat beberapa kepentingan hukum yang dapat diidentifikasi antara lain sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelektual&lt;br /&gt;(Jurnalis professional) Penyelenggara Media&lt;br /&gt;(Investor/&lt;br /&gt;Pengusaha) Masyarakat&lt;br /&gt;(kolektif) Individual (anggota masyarakat) Penyelenggara Negara&lt;br /&gt;• Karya intelektual&lt;br /&gt;• Obyektifitas Karya jurnalistik&lt;br /&gt;• Kemerdekaan Berekspresi&lt;br /&gt;• Obyektifitas dan Netralitas&lt;br /&gt;• Tanggung jawab penyelenggaraan Media yang baik (good information governance)&lt;br /&gt;• Tidak menjadi suatu alat yang bertentangan dengan hukum dan perasaan keadilan serta norma masyarakat&lt;br /&gt;• Mencari profit untuk usaha • Hak mengetahui masyarakat atas sistem penyelenggaraan negara yang baik&lt;br /&gt;• Hak masyarakat atas ketertiban umum dan perasaan aman&lt;br /&gt;• Hak masyarakat atas peradaban yang sesuai etika dan dinamika kebudayaan&lt;br /&gt;• Hak atas kebebasan berinformasi dan berkomunikasi&lt;br /&gt;• Hak atas privasi&lt;br /&gt;• Hak untuk tidak menjadi obyek penelitian dan pemberitaan • Kegiatan yang baik dan bertanggung jawab untuk memberikan kontrol ataupun feedback kepada pemerintah&lt;br /&gt;• Kewajiban memberikan informasi publik dan kerahasiaan informasi untuk kepentingan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencermati, apakah itu Media, apakah itu Pers dan bagaimana kelayakannya. Jika memang Pers memang tidak mempunyai suatu prosedur untuk memperlihatkan kelayakannya, rasanya sulit mengatakan bahwa Pers adalah suatu media. Patut diacungkan jempol bagi insan Pers yang sadar akan apa konsekwensi dari penggunaan kata Media itu, dimana sebagai penyelenggara Media mereka berupaya untuk mengembangkan sistem operasi dan prosedur didalam manajemen penyelenggaraannya agar informasi yang disampaikannya terjamin obyetifitasnya dan validitasnya. Tetapi sangat disayangkan akibat ada sebagian Pers yang berperilaku buruk dan tak ada mekanisme yang dapat menghentikannya secara self-regulation-regime atau komunitas pers sekan lepas tanggung jawab dan tidak dapat memberhentikannya lewat mekanisme komunalnya, maka Pers sepertinya kurang mendapat simpati rakyat. Akibatnya seorang idealis pers boleh jadi malah terjerat hukum sementara seorang komersialis pers malah terlindungi dengan baik. Cukup ironis sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan UU Pers yang menjelaskan ada fungsi-fungsi dalam media, sepatutnya ada mekanisme kontrol yang harus memaksakan perusahaan pers untuk menjalankan ke semua fungsi media itu. Selain itu, perlu juga dipikirkan apakah suatu media yang orang-orangnya tidak perduli dengan hukum dan tidak mau terikat kepada suatu etika jurnalistik akan dibiarkan terus sehingga membuat kebingungan bagi masyarakat tentang etika pers dan medianya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;Semua orang tentunya akan sepakat bahwa media masa adalah backbone dari penyelenggaraan negara yang baik. Sesuai dengan perpesktif fourth estate yang meletakkan Media setara dengan Pemerintah, maka logikanya jika memang ada hukum untuk menyelenggarakan sistem pemerintahan yang baik, sepatutnya juga ada standar dalam menyelenggarakan sistem media yang baik. Sehingga akan sangat adil bagi semua pihak, dan refleksi yang dihasilkan oleh pers untuk demokrasi tentunya juga akan menjadi semakin jernih dan netral untuk kepentingan kita semua, serta Pers dapat lebih mencitrakan diri dalam harkat dan martabatnya sebagai honorable profession ditengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita semua memang ingin ada ”trust” oleh masyarakat kepada pelaku media, jangan biarkan mekanisme itu terjadi tanpa prosedur yang kuat. Security untuk mendapatkan trust memang harus dibangun dengan cara best effort, dengan kata lain harus ada standar untuk good information governance dalam media, hal itulah yang akan dapat membatasi tanggung jawab bagi segenap insan media. Semuanya ini dikembalikan kepada kesadaran dan semangat kita semua untuk menyelamatkan karakteristik bangsa ini di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, diharapkan bahwa UU sebagai pedoman sikap tindak Pers dan Masyarakatnya dapat melindungi kepentingan pada idealis media masa yang berupaya sekuat mungkin untuk menyajikan informasi yang baik kepada masyarakat dan juga bisa menghentikan orang-orang dan media yang tidak bertanggung jawab kepada masyarakat. Mudah-mudahan harkat dan martabat serta budaya masyarakat tidak terpuruk hanya karena kepentingan segelintir kapitalis media. Jika memang benar-benar kita ingin menyelamatkan para idealis media, maka tidak ada kata lain kita harus mau membuka diri bahwa demi kepentingan hukum harus diperkenankan bahwa suatu media yang bertentangan dengan hukum harus dapat dihentikan ataupun ditutup agar tidak mengkontaminasi publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-116790838748213583?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/116790838748213583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=116790838748213583&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/116790838748213583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/116790838748213583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2007/01/krisis-media-dalam-perspektif.html' title='Krisis Media Dalam Perspektif Konvergensi Telematika: Wacana Media untuk Penyempurnaan UU Pers.'/><author><name>AG. Eka Wenats Wuryanta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g5YHcxS4auM/TSByKa-oKWI/AAAAAAAAAFo/4aD1iWMUL4g/S220/4547_85551414805_610579805_1732704_1788824_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-116331347610109594</id><published>2006-11-12T15:30:00.000+09:00</published><updated>2006-11-12T15:37:56.433+09:00</updated><title type='text'>Nada Sousou</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/1600/Rimi%20Natsukawa.1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="259" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/320/Rimi%20Natsukawa.1.jpg" width="167" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nada Sousou is a famous song from Okinawan lady, Rimi Natsukawa . It is a beautiful love song that can't stop your tears when you're listening into it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furui ARUBAMU mekuri&lt;br /&gt;Arigatou tte tsubuyaita&lt;br /&gt;Itsumo&lt;br /&gt;itsumo mune no naka&lt;br /&gt;Hagemashite kureru hito yo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harewataru hi mo ame no hi mo&lt;br /&gt;Ukabu ano egao&lt;br /&gt;Omoide tookuasete mo&lt;br /&gt;Omokage sagashite&lt;br /&gt;Yomigaeru hi wa nada sousou&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ichiban hoshi ni inoru&lt;br /&gt;Sore ga watashi nokuse ninari&lt;br /&gt;Yuugure ni miageru sora&lt;br /&gt;Kokoro ippai anata sagasu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanashimi ni mo yorokobi ni mo&lt;br /&gt;Omou ano egao&lt;br /&gt;Anata no basho kara watashi ga&lt;br /&gt;Mietara kitto itsuka&lt;br /&gt;Aeru to shinji ikite yuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hare wataru hi mo ameno hi mo&lt;br /&gt;Ukabua no egao&lt;br /&gt;Omoide tooku asete mo&lt;br /&gt;Samishikute koishikute&lt;br /&gt;Kimi he no omoi nada sousou&lt;br /&gt;Aitakute&lt;br /&gt;aitakute Kimi he no omoi nada sousou&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-116331347610109594?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/116331347610109594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=116331347610109594&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/116331347610109594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/116331347610109594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/11/nada-sousou.html' title='Nada Sousou'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-115551784127886557</id><published>2006-08-14T09:58:00.000+09:00</published><updated>2006-08-15T10:58:14.756+09:00</updated><title type='text'>The Bookseller of Kabul</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/1600/The%20BookSeller%20of%20Kabul.1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/320/The%20BookSeller%20of%20Kabul.1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;A bit about Talibanese education:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......This is how firts-year schoolchildren learn the alphabet: "&lt;strong&gt;J&lt;/strong&gt; is for &lt;em&gt;Jihad&lt;/em&gt;, our aim in life,&lt;strong&gt; I&lt;/strong&gt; is for &lt;em&gt;Israel&lt;/em&gt;, our enemy, &lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt; is for &lt;em&gt;Kalashnikov&lt;/em&gt;, we will overcome, &lt;strong&gt;M&lt;/strong&gt; is for &lt;em&gt;Mujahedeen&lt;/em&gt;, our heroes,&lt;strong&gt; T&lt;/strong&gt; is for &lt;em&gt;Taliban&lt;/em&gt;..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;War was the central theme in maths books too. Schoolboys - because the Taliban printed books solely for boys - did not calculate in apples and cakes, but in bullets and Kalashnikovs. Something like this: 'Little Omar has a Kalashnikov with three magazines. There are twenty bullets in each magazine.. he uses two thirds of bullets and kills sixty infields. How many infields does he kill with each bullets?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guys...try to find this book. Written by Asne Seierstad, a Norwegian journalist.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-115551784127886557?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/115551784127886557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=115551784127886557&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/115551784127886557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/115551784127886557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/08/bookseller-of-kabul.html' title='The Bookseller of Kabul'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-114494883164665120</id><published>2006-04-14T02:14:00.000+09:00</published><updated>2006-08-14T22:58:59.963+09:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/1600/DSCN3303.2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/320/DSCN3303.2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau nggak kalau lambang toilet "For Ladies" seperti ini ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-114494883164665120?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/114494883164665120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=114494883164665120&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114494883164665120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114494883164665120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/04/mau-nggak-kalau-lambang-toilet-for_14.html' title=''/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-114488466045386641</id><published>2006-04-13T08:28:00.000+09:00</published><updated>2006-04-13T08:33:05.433+09:00</updated><title type='text'>Mau Langsung Lulus atau Bagaimana Mbak..?</title><content type='html'>Masa berlaku SIM A saya sudah berlalu sejak Juni tahun 2004 yang lalu. Salama satu setengah tahun saya merasa tidak perlu memiliki SIM untuk sementara waktu. Dikarenakan transportasi umum di Jepang menjadi andalan utama untuk berkegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sekarang ini saya merasa perlu untuk memperbaharui kembali SIM ini. Mumpung masih punya waktu kosong sambil menunggu panggilan kerja, maka saya sampaikanlah rencana saya ini kepada Ayah. Beliau bilang lebih baik mengambil yang kolektif seperti dulu lagi. Tapi saya ingin mencoba menggunakan cara yang normal. Karena dua kali perpanjangan SIM selalu secara kolektif, sehingga belum pernah memiliki pengalaman bertatap muka dengan bapak-bapak polisi yang sangar-sangar manis itu. Sudah tentu cara  normal harganya lebih murah, sesuai dengan kondisi keuangan saya sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rasa percaya diri yang terkontrol, maka datanglah saya ke POLRES setempat. Disambut senyuman dan sapaan ramah para petugas yang ehem....ganteng-ganteng ternyata. Tahapan pendaftaran, tes buta warna dan tes teori saya lewati dengan sabar, sambil bertanya-tanya dalam hati, apa sih yang membuat harga SIM itu berbeda-beda? Tes teori tidak terlalu sulit, terbukti dari kecepatan saya menjawab dan poin betul yang saya kumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Langsung ke lapangan untuk tes praktek ya Mbak...” Kata salah satu petugas pengawas ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan patuh pun saya menuju lapangan yang dimaksud, yang berlebar 4m dan panjang sekitar 15 meter. Lapangan tersebut sudah dipasangi pasak, serta disiapkan pula satu tanjakan artifisal yang hmmmnnn...lumayan tinggi juga. Pasak yang dipasang mengapit rapat mobil yang tersedia..persis seperti di tempat parkir. Hanya ukurannya sempit sekali, cukup sulit bagi saya menemukan kondisi jalan atau parkiran mobil yang sesempit itu. Untung kepercayaan diri saya sudah cukup terkontrol sehingga hati ini tidak menciut seketika. Saya sudah cukup siap apabila Pak Polisi ganteng itu berkata ”Tidak lulus...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak polisi ini yang menyambut saya dengan senyuman yang super ramah. Menerima berkas saya dan membacanya. Lalu bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau langsung lulus atau bagaimana Mbak?”&lt;br /&gt;Glek......ini dia. Yang ini diluar dugaan saya. Walaupun selama ini saya jago bernegosiasi, tapi untuk yang satu ini tidak ada jaminan sama sekali......petugas kepolisian lho....salah jawab jangan-jangan SIM tinggal impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau langsung lulus saya disuruh menghadap petugas nun jauh di sana yang sedang duduk menanti sambil tersenyum ke arah saya. Saya juga akan dimintai biaya tambahan sebesar lima puluh ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya mau prosedur yang normal Pak..”  Senyum sang Bapakpun pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan berarti tes itu saya ikuti secara gratis lho. Saya harus membayar dua puluh ribu Rupiah untuk sewa mobil. Kontan saya tertawa, membayar sewa mobil untuk tes praktek. Tesnya saja tidak sampai 10 menit. Mobilnyapun bukan punya kepolisisan melainkan milik pribadi. Sementara saya tidak membawa mobil sendiri...ingat,...SIM saya sudah mati dua tahun lalu, jadi mana mungkin saya bawa mobil sendiri. Belum lagi tidak adanya kwitansi sebagai bukti pembayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes berjalan ditanjakan dan mundur melalui pasak sempit itu saya lewati dengan sukses. Tapi pasti tidak semudah itu. Petugas yang menyertai mengatakan, ”Salah....kopling dan rem kalau mundur menurun gak usah diinjak...ulang lagi.” Dalam hati..iya juga ya. Tapi tanpa menginjak rem rasanya saya tidak pede melewat pasak sempit itu. Namun saya  ikuti juga perintahnya. Tanpa rem saya mundur dari tanjakan, dan hasilnya saya sukses menambarak pasak yang disusun berjajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu senyum Pak Polisi mengembang....Saya pun pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya disuruh datang lagi satu minggu kemudian. Harus bayar lagi dua puluh ribu sampai dinyatakan lulus. Kalau dikalkulasikan bisa besar sekali biaya yang harus dikeluarkan. Lalu saya tanyakan cara cepatnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, saya hanya mengeluarkan lima puluh ribu, tanpa tes dan langsung dapat melanjutkan ke sesi pengambilan sidik jari dan foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya setujui dengan penyesalan kenapa saya tidak bisa lulus dengan cara normal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sang Bapak malah menambahkan ”Sopir bus Lorena saja gagal di tes praktek lho Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kegagalan saya mendapatkan SIM ini hanya karena kebodohan saya semata dalam mengemudi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-114488466045386641?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/114488466045386641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=114488466045386641&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114488466045386641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114488466045386641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/04/mau-langsung-lulus-atau-bagaimana-mbak.html' title='Mau Langsung Lulus atau Bagaimana Mbak..?'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-114070123778810820</id><published>2006-02-23T22:07:00.000+09:00</published><updated>2006-02-27T00:39:22.286+09:00</updated><title type='text'>Project Design Matrix for Emotion</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dalam setiap strategi berjuang, saya menyadari kapan harus maju, kapan harus bertahan, dan kapan harus mundur. Tapi untuk kali ini saya dibuat ragu mana yang harus dipilih. Logika dan emosi saya ajak kompromi. Seperti biasa, logika saya lebih dominan. Walaupun untuk sesuatu yang berurusan dengan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya salah ketika terlalu banyak berfikir antara menolak atau menerima? Bertindak atau harus menunggu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, emosi saya berkata "Jangan berhenti". Tapi otak saya berputar cepat dengan segala kunci logika yang tak terbantahkan, menitah "MUNDUR". Semua langkah saya evaluasikan, tepat seperti menyusun suatu Project Design Matrix (PDM). Satu setengah tahun sudah cukup panjang untuk proyek ini. Tapi memang aktifitas tidak teraplikasikan dengan baik. Indikator hanya jumlah email, telpon dan chatting. Serta kata-kata "special" dalam setiap ucapan. Tetapi, sangat abstrak. Semua "smiley" yang dikeluarkan tetap saja tidak dapat dievaluasi sebagai perwakilan dari rasa yang tak terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saya harus menentukan sikap, memperpanjang waktu atau sekalian menggagalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menimbang kepentingan menyangkut pihak ketiga yang mungkin ada, dan menyadari bahwa ternyata output tidak sesuai dengan "main assumption" saat menyusun PDM. Maka dengan ini, saya menyatakan pengunduran diri dari proyek yang saya beri nama "Emotion" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan menjadikan dirimu output lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;End of Report.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beppu, 23 Feb 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-114070123778810820?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/114070123778810820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=114070123778810820&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114070123778810820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114070123778810820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/02/project-design-matrix-for-emotion.html' title='Project Design Matrix for Emotion'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-114011934773954955</id><published>2006-02-17T04:48:00.000+09:00</published><updated>2006-03-16T19:54:39.103+09:00</updated><title type='text'>Skeptis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Indonesia ini lucu sekali. Selalu mencak-mencak dulu tanpa tau permasalahan, atau memikirkan dampak dari suatu perubahan. Baru mencetuskan ide saja sudah ditolak mentah-mentah. Padahal bisa saja ide itu memang berguna nantinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Misalnya;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;RUU pornografi dan pornoaksi. Koalisi perempuan sibuk menghimbau masyarakat untuk menolak direalisasikannya RUU ini sebagai UU yang utuh. Alasannya RUU tersebut hanya akan memposisikan perempuan sebagai pihak yang dirugikan, hak-hak perempuan terpasung. Serta menghambat kreatifitas seni. Perbandingan selalu bercermin ke arah Barat. Salah satunya ke Belanda. Di Belanda adanya jaminan perlindungan privasi atas tindakan 'kreatif'. Seperti adanya pantai yang bisa digunakan untuk mandi telanjang. Atau diijinkannya nudisme, dengan alasan sebagai pilihan hidup. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sementara di lain pihak, banyak protes yang muncul di koran tentang aktifitas media khususnya televisi yang me-&lt;em&gt;universal&lt;/em&gt;-kan kultur. Nah kalau kita bercermin dan mengikuti pola di Belanda (atau dunia-dunia Barat lain yang mengagungkan kebebasan berekspresi) apa justru tidak me-universal-kan kultur? Kenapa tidak ada yang memakai pembanding dari negara ras berwarna yang notabene juga tidak kalah maju dari pada Barat. Sebagai catatan sejarah, justru peradaban tinggu bukan berasal dari ras putih, melainkan ras berwarna. Silahkan lihat lagi kebudayaan dunia yang terlahir di Timur Tengah, Asia Timur, atau Amerika Latin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada pasal yang mencantumkan larangan menampilkan bagian-bagian tubuh untuk tujuan erotisme seperti paha atau payudara. Kontan perempuan geram karena sekali lagi mereka merasa dikekang. Padahal....di sana tidak disebutkan kata perempuan lho. Coba berpikir cerdas, bagian paha dianggap erotis bagi RUU dan itu ditujukan bagi semua manusia Indonesia yang berpaha, berarti bukan perempuan saja, termasuk laki-laki. Sementara bagian payudara...memangnya laki-laki punya payudara? Memang bagian ini ditujukan untuk perempuan. Kalau tidak disebutkan, jangan-jangan malah nanti para mahasiswi merasa sah saja &lt;em&gt;topless&lt;/em&gt; ke kampus. Namun RUU itu secara keseluruhan mengatur etika dalam ruang publik BUKAN hanya untuk perempuan. Anjasmara bahkan terancam terjerat hukum pornografi dan pornoaksi ini atas foto hebohnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Situs sang Presiden juga menuai protes. Banyak yang mengatakan Presiden tidak ada kerjaan sampai-sampai terpikir untuk membuat situs. Padahal tujuannya adalah sebagai salah satu cara untuk menjalin komunikasi langsung dengan Presiden. Di India sana, sarana teknologi komunikasi juga dimanfaatkan pemerintahnya sebagai jembatan penghubung masyarakat dengan rakyat, yang notabene rakyat jelata. Apakah mereka semua pintar internet? Hanya kurang dari 10 % masyarakat India yang pionir dalam bidang internet. Selebihnya bahkan masih buta huruf. Namun aparat terpercayalah yang mengoperasikannya, sehingga laporan, atau keluhan masyarakat dapat langsung diketahui pemimpinnya. Bukankah ide pengadaan situs ini akan cukup menjanjikan terjalinnya komunikasi yang vertikal dengan pemimpin kita? Lagi pula, toh situs ini baru beroperasi beberapa hari, belum bisa dinilai untung ruginya terhadap kualitas dialog nasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kadang saya jengkel dengan pola-pola skeptis seperti ini. Padahal sudah banyak contoh cercaan seperti ini menjadi bumerang bagi pencetusnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salah satunya. Ingat saat pertama kalinya Busway (2003) direncanakan menjadi sarana transportasi baru di Jakarta? Saat itu juga banyak protes yang muncul di media. Koran nasional mencetak tolakan-tolakan atas ide tersebut yang ditakutkan akan mengancam keadilan wilayah operasi bagi saran transportasi lain. Dan memperparah kemacetan jalan raya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi baru satu minggu peluncuran perdana Bus Trans Jakarta, semua orang sudah memuji. Berita-berita di koran dan televisi berbalik 180 derajat. Terbukti ternyata Bus Trans Jakarta ini menjadi saran transportasi yang dicintai warga Jakarta. Pekerja necis tidak perlu takut saat mobilnya tak bisa mengantarnya ke tempat kerja. Mereka tidak perlu takut keringatan atau menjadi kusut berdesakan di dalam bus. Biayanya pun tak mahal, dan lagi tidak ada istilah terjebak macet. Karena Bus Trans Jakarta ini memiliki jalur tersendiri. Masyarakat ekonomi rendah memanfaatkannya untuk transportasi hiburan keluarga disaat libur. Saya pernah menyaksikan antrian tiket bus Trans Jakarta sebanjang 100 meter di Bolok M pada masa liburan panjang, bulan Juni 2004. Tentu saja mereka rela sabar menunggu, karena dari daerah Blok M mereka hanya membayar Rp 2,500 menuju stasiun Kota, yang sangat dekat dengan Ancol. Betapa bersahabatnya bagi rakyat kecil sekalipun&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kenapa tulisan ini saya buat? Karena saya merasa gerah dengan penuhnya mailbox saya oleh email-email milis yang memobilisasi masyarakat untuk melancarkan protes terhadap suatu perubahan, yang sebetulnya diciptakan untuk tujuan positif. Intinya, rakyat kecil tidak dirugikan sama sekali dengan ide tersebut kan? Yang merasa dirugikan adalah orang-orang yang ultra berkecukupan alias yang berkepentingan secara kapitalis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh karena itu. Cerdaslah untuk menilai suatu perubahan. Evaluasi prakteknya, jangan langsung menghujat idenya. Toh kita sudah demokratis, jadi pendapat kita sudah tidak bisa lagi dibungkam. Ketika praktek-praktek itu keluar dari perundangan yang sudah digariskan, silahkan mengajukan banding dengan cara yang diplomatis dan terpelajar. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk membela sesuatu yang sudah terbukti salah. Bahkan Soeharto pun tidak kuasa lagi mempertahankan tahtanya ketika semua tindakannya sudah dikecam salah. Bukan idenya lho.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-114011934773954955?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/114011934773954955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=114011934773954955&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114011934773954955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/114011934773954955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/02/skeptis.html' title='Skeptis'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113834624233162105</id><published>2006-01-27T15:42:00.000+09:00</published><updated>2006-01-27T19:19:30.480+09:00</updated><title type='text'>Jalan-Jalan 1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saya suka jalan-jalan...bagi saya jalan-jalan ke beberapa tempat yang belum saya kunjungi adalah salah satu bentuk belajar. Oleh karena itu selama satu setengah tahun belajar di Jepang, saya sempatkan juga melacong ke beberapa tempat yang selama ini hanya saya lihat di televisi atau majalah. Tentu saja tidak bisa dengan gaya yang mewah, sebab beasiswa yang saya terima tidak akan cukup untuk menutupi biaya menginap di hotel Holiday Inn di Tokyo. Biaya hidup di Jepang sangat mahal, tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Satu malam menginap di hotel bertaraf standard saja akan menghabiskan Yen 5000 (sama dengan Rp 500,000.-). Celakanya biaya dihitung per orang, bukan per kamar seperti di Indonesia. Belum lagi biaya trasportasinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menekan biaya akomodasi (yang sering saya lakukan);&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menghubungi beberapa kenalan (baik yang asing maupun Indonesia). Biasanya mereka tidak akan keberatan menampung satu orang tamu. Rata-rata teman saya tinggal di &lt;em&gt;apartement&lt;/em&gt; yang berukuran mini, jadi sulit untuk menampung lebih dari satu orang.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kakak saya lebih nekat lagi. Kalau saya hanya berani menghubungi orang yang dikenal, maka dia akan berani menghubungi pihak yang tidak dikenalnya sama sekali. Salah satunya adalah PPI (organisasi Persatuan Pelajar Indonesia di luar negeri). Pengalamannya waktu di Eropa adalah menghubungi beberapa PPI yang ada di sana meminta kesedian mereka menerima beberapa mahasiswa Indonesia yang akan berkunjung...jalan-jalan maksudnya. Rasa persaudaraan memang terasa kuat waktu kita di rantau, sehingga beberapa anggota PPI di sana bersedia menyediakan ruangan untuk rombongannya. Akhirnya mereka justru kelebihan kamar....gratis pula.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau penginapan gratis tidak bisa didapatkan apa boleh buat penginapan komersil lah yang menjadi tujuan akhir. Teman saya terkaget-kaget waktu mengetahui saya hanya membayar Yen 1800 permalam untuk menginap di pusat kota Tokyo. Karena berada di pusat kota, maka biaya transportasinya pun murah, sehingga total pengeluaran saya sangat kecil dibandingkan dengan cara yang standar. Tentu tidak semewah hotel &lt;em&gt;Ibis&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Grand Melia&lt;/em&gt; yang ada di Jakarta, melainkan penginapan sederhana yang ditujukan untuk para &lt;em&gt;backpackers.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Silahkan temukan beberapa pilihan &lt;a href="http://www.hostelworld.com"&gt;Penginapan Murah&lt;/a&gt;. Anda tinggal memilih tempat tujuan (berlaku untuk seluruh negara di dunia), dan informasi waktu penginapan dibutuhkan. Kamar dapat dipesan secara &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;, yang artinya pembayaran dilakukan dengan &lt;em&gt;credit card. &lt;/em&gt;Jangan berkecil hati bagi yang tidak memiliki &lt;em&gt;credit card&lt;/em&gt;. Begitu membuka link-link penginapan yang tertera di dalamnya biasanya mereka menyediakan no telepon, fax atau alamat email. Kalau semua informasi itu tidak ada juga, tinggal salin nama penginapan tersebut dan pindahkan ke mesin pencari (Google atau Yahoo). Karena biasanya penginapan-penginapan tersebut memiliki &lt;em&gt;website&lt;/em&gt; sendiri. &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selamat mencoba...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113834624233162105?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113834624233162105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113834624233162105&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113834624233162105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113834624233162105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/jalan-jalan-1.html' title='Jalan-Jalan 1'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113830372656314979</id><published>2006-01-27T04:03:00.000+09:00</published><updated>2006-01-27T14:53:58.966+09:00</updated><title type='text'>Kartini - Kartini Tanpa Tanda Jasa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini satu lagi cerita tentang kartini-kartini muda kita yang rela bekerja jauh dari keluarga untuk menjadi TKW. Boleh dikata mereka menjadi pahlawan tanpa tanda jasa diera reformasi. Karena para guru sekarang sudah nyaring menuntut hak-hak mereka. Mudah-mudahan para TKW ini nantinya juga bersuara keras menuntut hak mereka setelah memberikan sekian banyak sumbangan untuk pembangunan di negara kita yang bernama Indoensia ini. Baiklah, ini adalah hasil pengamatan dan hitung-hitungan kontribusi TKW.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya apa saja keuntungan yang didapat oleh negara penerima dan negara pengirim TKW?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertama,&lt;em&gt; Forex&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;foreign exchange&lt;/em&gt;, gampangnya lagi…tukar nilai mata uang. Aktifitas ini yang paling dibanggakan pihak pengirim TKW dalam arti Indonesia karena nilai kontribusinya secara matematis akan sangat besar. Misalnya ambil contoh, kalau salah satu kenalan bekerja di Singapura. Jelas gajinya Singapore Dollar (SGD). Tapi jarang sekali bank di Indonesia yang punya fasilitas tabungan SGD, kecuali bank Singapore. Sementara bank penampung kiriman TKW pastilah bank pemerintah, yang cuma menyediakan tabungan dalam mata uang USD atau Rupiah. Rata-rata TKW memiliki tabungan Rupiah. Uang SGD yang dikirimkan ke Indonesia tidak bisa langsung dimasukkan ke rekening, harus ditukarkan ke Rupiah (IDR) dulu. Nah kalau ditukar di gerai penukaran mata uang asing untung yang diambil cuma sekitar 10 sampai 25 Rupiah. Sementar nilai tukar di Bank sangat mahal, Bank akan mengambil selisih sekitar 100 perak. Kalau satu orang mengirimkan sekitar SGD 200, dengan harga dari bank Rp 6000 per SGD (sementara harga SGD terhadap rupiah di pasar mata uang hanya Rp 5,900). Berarti untung yg didapat adalah SGD 200 x 100 = Rp 20,000. Itu baru dari satu orang. Ada sekitar 3 juta TKW yang kerja di luar negeri. Kalo dipukul rata berada di Singapura semua, dan semuanya menukarkan uang sebulan sekali maka untung dari &lt;em&gt;FOREX&lt;/em&gt; dalam satu bulan saja untuk Indonesia adalah Rp 60 Milliar.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kedua, &lt;em&gt;Remittance (money transfer)&lt;/em&gt; atau pengiriman uang. Ambil contoh kenalan kita dari kampung A di Jawa Timur bekerja di salah satu negara di Timur Tengah (Mata uang Rial). Teman kita itu tidak akan bisa mengirimkan gajinya dalam bentuk Rial ke Indonesia, karena tidak ada mata uang Rial di bank penerima (Bank A). Maka TKW ini harus menukarkannya ke dalam bentuk USD (sebab IDR tidak bisa ditukar di luar negeri, dan USD adalah mata uang paling umum di dunia). Dengan demikian timur tengah sudah untung dengan &lt;em&gt;FOREX&lt;/em&gt;-nya…ditambah dengan komisi pengiriman ke Indonesia yang normalnya seharga USD 25. Ditambah lagi dengan &lt;em&gt;correspondent fee&lt;/em&gt; (biaya korespondensi) sekitar USD 20. Itu semua murni masuk kantong negara tempat sang TKW bekerja. Lalu, ketika sampai di Indonesia uang ditukarkan ke IDR secara otomatis, sehingga ada lagi keuntungan &lt;em&gt;FOREX&lt;/em&gt; dan incoming fee (biaya uang masuk yang harus dibayar keluaraga TKW yang menerima) bagi bank penerima. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua proses diatas sudah sangat terkenal dimana kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Ini salah satu sebab kenapa pemerintah tetap mendorong berjalannya praktek pengiriman TKW. Belum lagi kalau menghitung semua jumlah TKI yang tersebar. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tapi masih ada satu proses yang orang tidak begitu mengenalnya. Yaitu Deposito atau simpanan. Uang yang dikirim tidak langsung diterima di Bank kampung A. Uang dari luar negeri masuk ke bank pusat yang ada di kota2 besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Dalam kasus ini ke Surabaya, dan bank pusat tidak akan meneruskan ke kampung dalam hari yang sama. Baru dilakukan keesokan harinya. Kalau datangnya hari jumat maka hari senin baru dilanjutkan. Nah diapakan uang itu selama 3 malam ? Uang itu dibungakan oleh bank dengan cara meminjamkannya ke pihak lain atau mendepositokannya di Bank indonesia (Siapa bilang cuma kita yg boleh berdeposito di bank? Bank pun boleh mendepositokan kasnya ke Bank Indonesia). Deposito satu hari di BI sekitar 10% (SBI interest). Dalam empat bulan Jawa Timur menerima uang masuk dari TKW sebesar IDR 2.5 TRILIUN. Maka bank pusat akan mendapat untung deposito sekitar IDR 2,1 Milyar. Lalu uangnya akan diteruskan ke Bank Kampung (A), dan sama seperti semula…uang tidak langsung dimasukkan ke rekening penerima, tergantung batas waktu operasional bank. Nah berarti mengendap lagi sehari, sehingga ada dua bank di Jawa Timur yang diuntungkan. Kira-kira satu tahunnya kedua bank ini akan dapat untung masing-masing IDR 6.3 milyar. Ingat itu baru satu provinsi, belum provinsi lain.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Semua itu baru keuntungan yang diperoleh lewat hubungan TKW dengan bank. Belum lagi dengan pajak bandara, daya konsumsi mereka ketika pulang, ongkos calo bagi yang ilegal, dan setiap pekerja dikenakan pajak USD15 untuk PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Nah…secara ekonomi cukup besar jasa mereka. Tapi siapa yang menjamin keselamatan dan kesejahteraan mereka di negara seberang. Bagi teman-teman APU yang berniat punya bisnis, mudah-mudahan sukses dan bisa menampung mereka, supaya tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Itu saja sumbangan cerita dari saya kalau ada lagi dan tidak bosan membacanya, dengan senang hati akan dikirim. &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lenny Aslim&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Beppu, Januari 2005)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113830372656314979?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113830372656314979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113830372656314979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113830372656314979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113830372656314979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/kartini-kartini-tanpa-tanda-jasa.html' title='Kartini - Kartini Tanpa Tanda Jasa'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113829101337252563</id><published>2006-01-27T00:43:00.000+09:00</published><updated>2006-02-07T19:02:17.246+09:00</updated><title type='text'>Sedikit Tentang Distribusi Kapital</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Satu tahun kuliah di sini memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Terutama saat menghadiri kelas seminar tesis. Bahasan tesis saya tak jauh dari dunia pertelevisian dan fungsinya dalam pendidikan di Indonesia. Di semester pertama, saya masih kebingungan dengan teori untuk berpegang. Jujur saja saat itu belum banyak teori yang saya ketahui. Hingga akhirnya mulailah saya mempelajari teori-teori sosial yang dikeluarkan oleh Ivan Illich dan Adorno, serta beberapa nama lain. Karena sebelumnya saya hanya terfokus pada karya Karl Marx semata. Intinya Marx mengatakan bahwa masyarakat berkembang melalui pertumbuhan yang bertingkat dengan struktur ekonomi yang berbeda-beda. Struktur ekonomi yang ada di masyarakat ini yang kemudian melahirkan istilah dua konsep. Yaitu sosialisme dan kapitalisme. Konsep kapitalisme ini tidak pernah ada sebelumnya sampai Marx menemukannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belakangan, saya menemukan satu nama yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Yaitu Pierre Bourdieu. Pierre Bourdieu (1930-2002) adalah seorang sosiolog asal Perancis yang terkenal dengan teori &lt;em&gt;Cultural Reproduction&lt;/em&gt; (Reproduksi Kultural) dan &lt;em&gt;Habitus&lt;/em&gt;. Ide-ide dan argumentasinya banyak dipakai sebagai fondasi ilmu sosial. Karya-karyanya tidak sebatas sosiologi, tapi juga antropologi, kultural dan pendidikan. Lalu bagaimanakah reproduksi kultural yang dimaksudkan oleh Bourdieu? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bourdieu mengatakan distribusi kapital di masyarakat mempengaruhi kelas dan stratifikasi sosial. Dalam masyarakat kapitalis, golongan yang memiliki kapital mempunyai kemampuan untuk memproduksi ideologi dan kultur yang baru. Lebih mudahnya, golongan masyarkat ekonomi atas cenderung menguasai golongan ekonomi yang lebih rendah, baik dari segi ideology maupun kultural dengan pemanfaatan ekonomi. Sementara golongan ekonomi lebih rendah hanya bisa mengikuti sistem kekuasaan yang telah terjaring ini. Bourdieu membagi tingkatan sosial ke dalam tiga golongan. Yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Golongan rendah, yang didominasi oleh golongan petani, pedagang kecil atau buruh.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Golongan berkultur tinggi, adalah golongan menengah. Misalnya para pemimpin atau karyawan industri manufakturing, dan para pegawai kantoran.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Golongan tinggi, yang didominasi oleh para profesional.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lewat penelitiannya ia mengemukakan bahwa sistem pendidikan mempunyai fungsi legitimasi yang kemudian mengakar menjadi tuntutan sosial, sebagai bentuk evolusi dari kekuatan yang ada di dalam kelas-kelas sosial. Distibusi kapital dalam sistem pendidikan berlanjut kepada pola konsumsi masyarakat yang memdominasinya. Misalnya, masyarakat di masing-masing tingkatan akan memilih institusi pendidikan yang berbeda. Masyarakat dalam institusi tersebut mempunyai pola konsumsi yang terpolarisasikan pula. Misalnya, golongan tinggi berpersentase besar dalam hal membaca buku impor berbahasa asing ataupun terjemahannya, mengunjungi teater, museum atau perpustakaan. Sementara walaupun golongan rendah mempunyai persentase yang lebih kecil dalam pola konsumsi tersebut tapi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Karena mereka telah terbawa dalam jaringan kapital ini. Begitu seterusnya sistem ini berlanjut generasi demi generasi sehingga terbentuklah &lt;em&gt;Habitus&lt;/em&gt;, yaitu suatu proses evolusi kultur yang tidak disadari, namun disadari hasil perubahannya. Sampailah argumentasi Bourdieu pada peranan media massa khususnya televisi dalam pembentukan kultur. Yaitu, para pemegang kapital menguasai kehidupan sosial lewat penguasaan industri media sehingga terjadi proses penyebaran kultur-kultur baru. Tidak ada pilihan bagi masyarakat dalam tingkatan ekonomi rendah selain mengikutinya. Demikianlah distribusi kapital saling mempengaruhi bersamaan dengan membentuk tingakatan sosial.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemikiran saya, hampir tidak ada bedanya dengan teori-teori yang dikeluarkan Ivan Illich dan Adorno. Ivan Illich dalam tulisannya Deschooling Society (1970) juga mengungkapkan adanya jurang pemisah dalam masyarakat dikarenakan sistem pendidikan. Jelas dikatakannya bahwa sistem pendidikan yang ada hanyalah tersedia bagi kaum kapitalis yang mendominasi. Sementara masyarakat ekonomi rendah menjadi termarjinalkan dengan memilih sistem pendidikan yang terjangkau bagi mereka namun terkadang dengan kualitas dan kuantitas yang rendah pula. Menariknya, Ivan Illich mengungkapkan gedung sekolah maupun ijazah adalah komponen pembetuk stratifikasi sosial. Hingga keluarlah ide &lt;em&gt;network society&lt;/em&gt;, yaitu pembelajaran lewat jaringan. Yang dimulai dengan jaringan terkecil yaitu keluarga, kemudian dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi dalam masyarakat. Sehingga pengaruh kapital dalam pembentukan stratifikasi sosial lewat pendidikan dapat ditekan. Illich juga mengatakan, ilmu pengetahuan dan moral bisa didapatkan dari kehidupan sekitar, sehingga tidak diperlukan satu gedung yang bernama sekolah untuk berkumpul. Karena gedung itu akan menjadi simbol kapitalisme yang mengaburkan makna pendidikan itu sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adorno (Cultural Industry, 1944) pun mengkritik industri media karena penguasaan kapitalnya telah menciptakan keseragaman kultur. Keseragaman kultur yang diciptakan untuk kepentingan kapitalisme, sehingga timbul pola-pola konsumsi yang baru.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya berkesimpulan, bahwa sedikit banyak Bourdieu, Illich dan Adorno mengadopsi teori &lt;em&gt;Das Kapital&lt;/em&gt; milik Karl Marx. Hanya saja mereka tidak seekstrim Marx. Marx mengungkapkan terjadinya tingkatan sosial karena kapital hanya menciptakan kemiskinan kelas pekerja dan pada dasarnya masyarakat dimanfaatkan oleh kapital lewat para kapitalis, hingga lahirlah konsep kapitalisme yang harus digulingkan melalui suatu revolusi yang dipimpin kelas pekerja.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lenny Aslim&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Artikel untuk "APU-Ina" Ritsumeikan Asia Pacific University)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113829101337252563?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113829101337252563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113829101337252563&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113829101337252563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113829101337252563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/sedikit-tentang-distribusi-kapital.html' title='Sedikit Tentang Distribusi Kapital'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113817771804693891</id><published>2006-01-25T17:25:00.000+09:00</published><updated>2006-01-31T23:27:03.026+09:00</updated><title type='text'>Fenomena Akhir Zaman</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/1600/img012.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/400/img012.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; ..........Ibu dan anak gadisnya..........&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(Beppu, 25 Januari 2006)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113817771804693891?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113817771804693891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113817771804693891&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113817771804693891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113817771804693891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/fenomena-akhir-zaman.html' title='Fenomena Akhir Zaman'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113813090738998442</id><published>2006-01-25T04:11:00.000+09:00</published><updated>2006-02-04T04:16:30.803+09:00</updated><title type='text'>Harapan yang Tertunda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Seminggu belakangan saya punya kegemaran baru. Yaitu mendengarkan lagu milik Hirahara Ayaka yang berjudul &lt;em&gt;Anata no Ude no Naka de&lt;/em&gt;. Beberapa kali saya coba menawarkan lagu ini kepada teman-teman saya yang ribuan mil jauh dari saya saat ini. Namun beberapa kendala teknis pula yang ternyata tak mengizinkan saya berbagi rasa lewat lirik yang dilantunkan dengan merdu penuh nuansa romantis dalam setiap tarikan nafas si cantik Hirahara. Teman-teman saya memang tidak ingin mendengarkannya dikarenakan faktor bahasa yang tidak mereka pahami. Sementara saya tak henti-hentinya meresapi kata perkata. Yang celakanya semakin mengingatkan jauhnya jarak saya dari harapan yang ada di dalam lagu ini. Mungkin benar adanya, rasa kehilangan itu harus saya akui juga.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anata no Ude no Naka de&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(in your arms)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yoake no sora ga futari wo terasu&lt;br /&gt;atarashii asa ni me wo aketara&lt;br /&gt;mabushii hikari no naka anata ga iru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tsunaida te kara afureru omoi&lt;br /&gt;yasashiku karada wo kaze ga tsutsumu&lt;br /&gt;yume no you na toki ga oshiyoseru&lt;br /&gt;eien wo chikau kotoba wo kiita&lt;br /&gt;ima kono basho de&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anata wo shinjite&lt;br /&gt;furisosogu ai ni owari wa nai to kanjita&lt;br /&gt;anata no ude no naka de&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aenai yoru wa sora wo miagete&lt;br /&gt;anata no suki na uta kuchizusanda&lt;br /&gt;tooku nagai mirai egakinagara&lt;br /&gt;kono mama kokoro wo fukaku kasanete&lt;br /&gt;aruite yuku no anata to&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hateshinaku hiroi kono sekai&lt;br /&gt;anata ni deaeta kiseki&lt;br /&gt;sora wo takaku tabidatsu tori no you ni&lt;br /&gt;koko kara tobidasou&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tsubasa wo hirogete&lt;br /&gt;donna arashi demo koete yukeru yo&lt;br /&gt;futari de ashita e We're the one, and we can fly&lt;br /&gt;yozora ni kagayaku hoshi ni dakare&lt;br /&gt;subete wo ima anata to ikite yuku &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.bigupload.com/php/download_file.php?id_file=2C7B18E3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113813090738998442?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113813090738998442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113813090738998442&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113813090738998442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113813090738998442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/harapan-yang-tertunda.html' title='Harapan yang Tertunda'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113812623471978407</id><published>2006-01-25T03:04:00.000+09:00</published><updated>2006-01-25T03:10:35.006+09:00</updated><title type='text'>Maafkan</title><content type='html'>Ma, Pa....&lt;br /&gt;Jangan tanyakan lagi&lt;br /&gt;Kenapa aku tak menikahinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dia cintaiku&lt;br /&gt;Tapi tak sayangi dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Beppu, 24 Januari 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113812623471978407?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113812623471978407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113812623471978407&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113812623471978407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113812623471978407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/maafkan.html' title='Maafkan'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113812477505756260</id><published>2006-01-25T01:17:00.003+09:00</published><updated>2008-05-01T13:59:02.860+09:00</updated><title type='text'>Saya Suka Berlian dan Intan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Lama sudah saya mempertanyakan apa sebetulnya perbedaan berlian dengan intan. Padahal dalam bahasa Inggrisnya sama-sama ditulis &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt;. Setelah mempunyai pengalaman menjadi seorang perancang perhiasan di sebuah perusahaan perhiasan di Jakarta…barulah saya mengerti kenapa batu yang satu dinamakan berlian dan kenapa batu yang lain dinamakan intan. Baiklah, kita bisa mulai dengan sedikit perkenalan sejarah batu permata yang adilnya kita sebut &lt;em&gt;diamond &lt;/em&gt;ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di akhir abad ke- 17, negara Belgia yang luasnya 32,545 km2 ternyata pernah dianggap enteng oleh kerajaan &lt;em&gt;orange&lt;/em&gt; atau Belanda. Belanda menguasai perdagangan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; dengan cara memonopoli semua batu permata berkualitas terbaik (Belanda termasuk kerajaan yang sangat kuat dalam perdagangan masa itu). Sehingga akhirnya Belgia tidak kebagian jatah yang cukup baik melainkan hanya serpihan batu permata yang susah sekali dibentuk. Selain bentuknya yang tidak standar, ukurannya pun sangat kecil. Tetapi…pepatah bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian ternyata berlaku untuk seluruh umat di dunia. Berkat ‘diremehkan’ inilah Belgia menjadi sangat piawai dalam urusan pengasahan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt;. Maka dipusatkanlah aktifitas pengasahan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; di sebuah kota yang bernama Antwerp (dulunya termasuk bagian dari Belanda). Di kota ini didirikanlah badan untuk mematenkan semua kreasi&lt;em&gt; diamond&lt;/em&gt; yang ada di dunia…yaitu &lt;em&gt;Diamond High Council&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1866..di Afrika Selatan untuk pertama kalinya ditemukan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt;. Negara-negara Eropa Barat menjadi sangat tertarik dengan berita itu, maka berdatanganlah mereka ke sana. Terbongkarlah rahasia tanah Afrika Selatan yang kaya akan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt;. Bisa dikata rakyatnya tidur bertilamkan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt;…tetapi kenapa mereka terjajah ? Karena pengetahuan mereka saat itu tentang&lt;em&gt; diamond&lt;/em&gt; sangatlah minim….mungkin mereka menganggap&lt;em&gt; diamond&lt;/em&gt; seperti kerikil yang bertebaran di depan rumah saya…tapi disamping itu, kekakayaan alamnya yang lain cukup membuat '‘kumbang-kumbang'’mengisap madunya…salah satunya adalah seekor kumbang yang bernama Great Britain. Pada tahun 1871 di sini pula ditemukannya dua &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; terbesar di dunia yang diberi nama &lt;em&gt;eureka &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; star of South Africa&lt;/em&gt;. Berukuran 21.25 karat dan 83.5 karat (Satu karatnya sekitar 0.5 cm). Sejak saat itu perusahaan&lt;em&gt; diamond&lt;/em&gt; raksasa siap meng-kapling tanah dan membangun tambang di Afrika Selatan..yaitu &lt;em&gt;Kimberly&lt;/em&gt; dan sang &lt;em&gt;De Beers&lt;/em&gt;. Batu-batu kasar yang bernilai tak terhingga ini dikirim ke Antwerp untuk diasah. Sampai sekarang hanya di Antwerp berlian dapat diasah sempurna dengan jumlah sudut yang maha banyak . &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, waktu membeli &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; coba perhatikan dengan menggunakan kaca pembesar, bahwa setiap sudutnya akan bertemu dengan sempurna. Belum ada satu batupun di dunia ini selain &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; yang bisa diasah dengan banyak permukaan (tidak hanya bentuk empat persegi atau sejenisnya…melainkan bisa lebih dari 30 permukaan di satu batu) dan dengan sudut yang bisa dipertemukan. Karena batu lain tidak akan cukup kuat untuk diasah sebanyak dan serapat itu. Kebanyakan batu lain hanya bisa tahan diasah sebanyaknya dengan 10 permukaan saja, lebih dari itu akan pecah dengan sukses (sekarang bisa dipahamikan kenapa kekuatan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; bisa dipakai untuk memotong kaca).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu sinarnya juga cukup berbeda (mata saya sampai sakit memperhatikannya). Kalau mau repot menghitung – &lt;em&gt;ok&lt;/em&gt; –begini, bagi yang pernah belajar fisika mungkin cukup paham bahwasanya kalau &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; diterangi dengan lampu putih maka permukaan lainnya akan meneruskan pancarannya menjadi tujuh warna pelangi, kalau ternyata kurang (belum pernah lebih dari tujuh) maka perlu ditanya keasliannya. Permukaan asahannya pun tidak diragukan….percaya atau tidak kerataannya itu juga diukur dengan menggunakan &lt;em&gt;waterpas&lt;/em&gt;…(alat yang biasa dipakai untuk mengukur kerataan lantai) tapi ukurannya super mikro.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cara berikutnya menguji keaslian &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; adalah dengan meneteskan satu tetes air saja ke permukaannya. Kalau tetesan air itu membulat (mencembung) tidak menyebar (melebar) maka jangan ragu untuk membelinya. Anda tidak sedang ditipu. Tapi kalau ternyata tetesan air itu berserakan artinya batu itu bukanlah &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; melainkan kaca…(Coba percikan air ke kaca, akan terlihat air terpecah menyebar). Tapi tidak semua batu permata yang bila ditetsi air akan menyebar adalah kaca biasa. Ada kandungan kwarsa dan plastik di dalamnya. Batu yang mengandung unsur plastik dan kwarsa seperti ini disebut dengan &lt;em&gt;zirconia&lt;/em&gt;. Sangat menyerupai &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; tapi tetap tidak bisa mempertemukan dua sudut dengan sempurna, dan warna pelanginya kurang dari tujuh. Kalau keberatan membeli &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; tapi tetap ingin tampil gaya bisa memilih&lt;em&gt; zirconia&lt;/em&gt; asahan Swiss. Hampir tidak terlihat perbedaannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah kelebihan Antwerp, adalah, disinilah dipusatkan teknologi pengasahan yang maha tinggi dan dapat dilakukan terhadap semua ukuran, sekalipun pada berlian pasir atau &lt;em&gt;sand cutting.&lt;/em&gt; Coba perhatikan butiran pasir untuk membayangkan ukuran yang bisa diasah di Antwerp.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu apa yang terjadi dengan intan ? Batu mentahnya sebenarnya sama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalimantan Selatan adalah Afrika Selatan-nya Indonesia…dimana &lt;em&gt;diamond &lt;/em&gt;mentah banyak ditemukan…di kampung Cempaka, yang terletak sekitar 5 KM dari kota Martapura yang menjadi pusat pemasarannya. Indonesia tidak memiliki kota pengasahan seperti Antwerp. Hanya di Martapura &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; tanah Banjar ini dapat di asah…dulu Pemerintah Daerahnya menolak mentah-mentah para pengusaha yang ingin membeli&lt;em&gt; diamond&lt;/em&gt; mentah dan dibawa ke Jakarta atau ke luar negeri untuk diasah. Tapi sayangnya teknologi yang ada hingga saat ini sangat sederhana…jelas tidak memakai komputer atau metoda canggih lainnya. Akhirnya asahannyapun menjadi apa adanya…bentuknya sangat tidak beraturan. Kalau &lt;em&gt;diamond &lt;/em&gt;dari &lt;em&gt;Antwerp &lt;/em&gt;memiliki bentuk2 seperti &lt;em&gt;round&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;emerald&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;pear&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;tear drop&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;square&lt;/em&gt;, dan lain-lain, maka bentuk &lt;em&gt;diamond &lt;/em&gt;dari Martapura belum mampu mencapai rupa persegi sempurna sekalipun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perusahaan &lt;em&gt;diamond &lt;/em&gt;yang ada di seluruh dunia rata-rata memesannya dari Antwerp langsung, atau Hong Kong (yang berlisensi dari Antwerp juga). &lt;em&gt;Diamond&lt;/em&gt; asahan &lt;em&gt;Antwerp &lt;/em&gt;ini di Indonesia disebut dengan berlian, sedangkan &lt;em&gt;diamond&lt;/em&gt; yang didapatkan dari tanah Indonesia disebut intan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Inferiority complex....&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Lenny Aslim&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Artikel untuk APU-ina, Ritsumeikan Asia Pacific University)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beppu, 10 Maret 2005 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113812477505756260?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113812477505756260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113812477505756260&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113812477505756260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113812477505756260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/saya-suka-berlian-dan-intan_25.html' title='Saya Suka Berlian dan Intan'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113797126217637577</id><published>2006-01-23T08:05:00.000+09:00</published><updated>2006-01-23T08:08:28.103+09:00</updated><title type='text'>Sabarku</title><content type='html'>Apa maksud pertemuan&lt;br /&gt;Jika bukan untuk sebuah perpisahan&lt;br /&gt;Lagi...bertemu lagi&lt;br /&gt;Diwaktu ku menyerah menanti&lt;br /&gt;Diwaktu hati mencoba berpaling&lt;br /&gt;Diwaktu mata mencari jalan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama waktu akan menahanmu&lt;br /&gt;Sepanjang itulah waktuku&lt;br /&gt;Berapa kuat hatiku mengungkap&lt;br /&gt;Seterang itulah jawab tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebaiknya kau pergi&lt;br /&gt;Atau aku yang berpaling&lt;br /&gt;Lelahku mendapat&lt;br /&gt;kau tidak mengunjungi ku&lt;br /&gt;(Usa, 27 Dec 2005)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113797126217637577?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113797126217637577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113797126217637577&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113797126217637577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113797126217637577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/sabarku.html' title='Sabarku'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21352895.post-113797062865199709</id><published>2006-01-23T07:49:00.000+09:00</published><updated>2006-01-23T08:02:41.346+09:00</updated><title type='text'>Sepatuku</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/1600/Picture_edited.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4909/2062/320/Picture_edited.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu bermerk Eagle. Saya beli pada bulan Juni tahun 2004 di Blok M Plaza, sebagai salah satu atribut perjalanan ke Sukabumi untuk berarung jeram bersama teman sekantor. Saya abadikan sebelum usianya habis terinjak kegiatan perkuliahan saya selama di Jepang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21352895-113797062865199709?l=lennyaslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lennyaslim.blogspot.com/feeds/113797062865199709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21352895&amp;postID=113797062865199709&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113797062865199709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21352895/posts/default/113797062865199709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lennyaslim.blogspot.com/2006/01/sepatuku.html' title='Sepatuku'/><author><name>ABADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/4909/2062/1600/464383/look.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
